Inspirasi Kamar Anak yang “Gue Banget”

Sabtu, 12 Okt 2013 |

Kamar Anak yang “Gue Banget”

Design Kamar Anak

Design Kamar Anak

Housing-Estate.com, Jakarta - Kamar yang sarat fasilitas justru membuat anak egois dan enggan bersosialisasi.

 Tidur bersama anak dalam satu kamar ada batas waktunya. Seiring bertambahnya usia, anak harus punya kamar sendiri. Bila tidak, privasi orang tua dan anak akan terganggu. Pertanyaannya, kapan sebaiknya membuat kamar buat si kecil? Sejak masih balita atau saat menginjak usia sekolah?

Menurut Ratna Djuwita, pengajar “psikologi arsitektur” di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik UI, secara psikologis lebih awal anak disapih, lebih baik. Anak akan terbiasa dengan ruang atau teritorinya sendiri, sehingga cenderung lebih mandiri dan merasa bertanggungjawab.

Tapi, itu bukan tanpa resiko. Dengan punya kamar sendiri kadang anak tidak memiliki rasa berbagi dengan orang lain. Karena itu, kata Dewi Haliman, desainer interior dari “Cayenne Home” yang banyak memproduksi furnitur anak, kamar anak memerlukan perhatian khusus orang tua.

Pasalnya, anak-anak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Kebutuhan mereka juga berbeda sesuai perkembangan usianya. Untuk itu diperlukan perencanaan dalam mendesain kamar anak.

Luas dan fasilitas

Kamar anak tak perlu terlalu besar. Ukuran 3 x 3 atau 4 x 4 sudah cukup. Untuk balita, suasana kamar harus tenang dan nyaman. Hindarkan kamar dari sinar terang langsung. Sementara untuk anak usia sekolah dan remaja, kamar harus berfungsi sebagai meeting point dengan teman-temannya, bukan hanya untuk tidur.

“Adanya ruang untuk bermain dengan mengajak satu dua teman adalah nilai plus sebuah kamar,” kata Ratna. Sirkulasi udara di kamar juga memungkinkan terjadinya ventilasi silang sehingga ruang tidak pengap dan lembab, pencahayaannya cukup.

Membuat kamar anak yang sarat fasilitas (ada kamar mandi, TV, komputer, internet dan kulkas sendiri) tidak dianjurkan. Kamar seperti itu justru membuat anak lebih senang mengurung diri di kamar, jarang bersosialisasi dengan anggota keluarga lain, dan cenderung egois.

“Tempat paling nyaman itu harusnya ruang keluarga. Biarkan anak keluar kamar untuk mandi dan ngemil,” kata dosen tetap Fakultas Psikologi UI itu. Bahkan, bila satu kamar ditempati bersama kakak atau adik, anak bisa belajar berbagi. Dewi menyetujui pendapat itu.

Ia menyebutkan, fasilitas di kamar anak sebaiknya yang bersifat mendidik. Misalnya, rak buku atau boks tempat menyimpan atau memajang koleksi anak (storage system). “Dengan begitu anak diajarkan keteraturan dan kerapian,” ujarnya. Sementara untuk peralatan elekronik, sekedar tape atau radio untuk mendengarkan musik, masih bisa ditolerir.

Letak

Saat masih kecil, kamar anak berdekatan dengan kamar orang tua. Pada usia remaja mereka ingin berjauhan. Tapi, agar anak tidak keluar rumah tanpa sepengetahuan orang tua, jauhkan kamarnya dari akses langsung ke ruang luar rumah.

Tempat tidur dan perabot lain diletakkan di sekeliling ruangan menempel ke dinding, bukan di tengah untuk optimalisasi ruangan. Bila kamar ada jendelanya, letakkan meja belajar di bawahnya agar mendapat cahaya pada siang hari dan anak bisa melihat ke luar.

Dengan teritori yang dimilikinya di kamar, anak remaja mulai senang mengatur kamarnya sendiri, dan sebab itu menyukai ruang yang personal atau bahasa gaulnya  “gue banget”. Karena itu dalam menata interior kamar sebaiknya anak dilibatkan.

Interior

“Biasanya interior kamar anak adalah pilihan orang tua. Mereka mengeluarkan dan memasukkan barang-barang di kamar tanpa persetujuan anak. Kalau sudah begitu, anak merasa terancam dengan teritorinya. Anak takut barangnya terambil sehingga kreativitasnya kurang teraktualisasi,” tutur Ratna.

Tidak berarti semua keinginan anak harus diikuti. Komunikasikan dana yang tersedia sekaligus mengajarkan anak berhitung. Untuk cat, pilihlah warna yang menciptakan suasana hangat (warm) dan menyambut (welcoming), seperti krem dan coklat muda, ditambah aksen warna favorit anak pada salah satu sisi dinding untuk relaxing dan memicu imajinasi.

“Jangan terlalu banyak warna karena akan membuat anak overstimulated, sehingga cenderung hiperaktif,” kata Dewi. Sementara warna furniture sebaiknya netral dengan sedikit aksen warna. Bentuk furniture usahakan yang sederhana dan adaptable, karena kesukaan anak cepat berubah sesuai perkembangan psikologinya.

Pencahayaan

Anak yang masih kecil butuh lampu untuk tidur di malam hari (glowing night light). Anak yang mulai suka membaca butuh pencahayaan yang teduh (shaded light task) di dekat tempat tidurnya. Sementara untuk waktu bermain, lampu down light yang menempel di plafon (ceiling lamp) dengan sinar menyebar-merata lebih baik ketimbang lampu gantung (drop lamp). Halimatussadiyah

Tips Kamar Anak

  1. Sediakan dinding polos atau softboard sebagai display tempat anak menempel gambar-gambar kesukaannya. Jangan biarkan anak menggambar di dinding manapun demi kreativitas, agar anak belajar menghargai keindahan dan hak-hak orang lain.
  2. Pilih furniture yang simple dan fungsional, dengan warna netral dan sedikit aksen warna yang disuka anak. Untuk anak laki-laki yang lebih suka bergerak, pilihan furniture boleh yang dimodifikasi, seperti ada tangga untuk dipanjat.
  3. Sisihkan ruang kosong yang fleksibel untuk beraktivitas ringan dan mengobrol di dalam kamar. Jangan semua sisi dipenuhi furniture.
  4. Letakkan karpet di lantai dengan motif permainan seperti maze dan rel kereta api, agar anak bisa duduk sambil bermain.
  5. Bila kamar berbagi dengan kakak atau adik, identikkan letak tempat tidurnya. Misalnya, bila jendela di tengah, tempat tidur masing-masing ada di kedua sisinya. Beri karakter warna yang berbeda pada dinding tempat tidur sesuai kesukaan masing-masing anak.
  6. Untuk pencahayaan hindari penggunaan lampu halogen karena panas dan silau. Sementara lampu meja, pilih yang bentuknya unik, fun dan colorfull.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan