Eddy Hussy REI Harus Kian Bermartabat dan Bermanfaat

Jumat, 22 Nov 2013 |
Eddy Hussy

Eddy Hussy

Housing-Estate.com, Jakarta - JAKARTA, Housing-Estate.com – Baru beberapa tahun memasuki bisnis properti, Eddy Hussy (54) sudah terlibat mengurus Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), organisasi pengusaha properti terbesar di Indonesia saat ini. Dimulai sebagai Ketua REI Korwil Batam 1999–2000 dan Ketua Pengurus Daerah (DPD) REI Khusus Batam 2002–2007, langsung loncat menjadi Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat (DPP) REI bidang Hubungan Luar Negeri 2007–2010 dan Sekretaris Jenderal DPP REI 2010–2013.

Kalau awalnya pria yang memulai usaha dari kontraktor alat berat, penyediaan aspal dan pembuatan jalan ini, lebih sering di Batam, Kepulauan Riau, setelah menjadi sekjen lebih banyak di Jakarta. “Empat hari seminggu saya habiskan di Jakarta mengurus organisasi, tiga hari di Batam,” kata Dirut PT Ekadi Trisakti Mas ini. Karena jabatan itu pula ia sudah berkeliling ke hampir seluruh DPD REI di Indonesia. Jadi, ia sudah mengenal para pengurusnya sekaligus memahami berbagai persoalan mereka.

Semua bekal itulah, ditambah dukungan dan restu para pengembang senior, yang membuatnya pede mencalonkan diri menjadi Ketua Umum DPP REI 2013–2016 dalam Musyawarah Nasional (Munas) REI di Jakarta akhir November ini. Berikut perbincangan Yoenazh Khairul Azhar, Samsul Arifin Nasution, dan fotografer Susilo Waluyo dari HousingEstate dengan Eddy Hussy di Jakarta medio Oktober lalu mengenai pencalonannya.

Apa latar belakang Anda mencalonkan diri?

Saya didorong teman-teman di daerah. Awalnya tidak langsung mengiyakan, karena saya tahu mengurus REI secara nasional itu tidak gampang. Tapi, setelah melalui berbagai pertimbangan termasuk keluarga, serta masukan pengurus inti DPP, juga konsultasi dengan para pengembang senior, ketua-ketua kehormatan REI, semua cukup mendukung, saya memutuskan maju. Ke depan saya ingin REI makin bermanfaat dan bermartabat. Slogan ini saya angkat karena REI itu organisasi yang sangat bagus, sudah banyak berbuat dalam pembangunan di Indonesia. Tapi, kadang REI tetap masih kurang bagus di mata pemerintah.

Jadi, program saya bagaimana mendekatkan diri kepada stake holder (pemangku kepentingan) bisnis properti, dan mensosialisasikan lebih intens ke bawah eksistensi organisasi ini. Kita akan buat program-program kerja untuk membantu anggota di bidang pertanahan, perpajakan, pembiayaan, dan lain-lain. Karena itu kita perlu membangun sinergi yang lebih kuat dengan stake holder seperti Kementerian Perumahan, Kementerian Keuangan, BPN, pemda, lembaga pembiayaan, dan lain-lain. Kita akan bentuk pokja-pokja untuk melaksanakan programprogram itu, yang kalau perlu dibantu konsultan profesional.

Kita juga akan bentuk data base pembangunan perumahan nasional, karena untuk melancarkan semua program itu kita perlu data kuat. Kita perlu tahu harus membangun rumah berapa, di mana, tipe apa, berapa harganya, dan seterusnya. Dengan data itu kita juga bisa menunjukkan kontribusi REI dalam pembangunan perumahan, infrastruktur dan fasilitas. Memang, pembuatan data base itu tidak gampang. REI pasti tidak mampu kerja sendiri. Kita akan bekerja sama dengan lembaga-lembaga akademis. Dan, itu sudah dimulai sejak sekarang saat saya jadi sekjen. Kita menjajaki kerjasama dengan misalnya, Pusperkim UGM. Kita juga perlu didukung team work yang kuat dari pengurus daerah dan pusat. Pembangunan daerah saat ini sangat pesat dan pertumbuhannya sangat baik. Daerah juga mulai punya SDM yang baik. Orang-orang daerah seperti itu akan saya rangkul (dalam kepengurusan).

Selama ini yang tampil terkesan hanya ketua umum, padahal REI organisasi yang gemuk?

Pengurus pusat sekitar 120 orang itu tidak terlalu besar. Cuma, betul yang aktif tidak banyak. Karena itu kalau saya dipercaya jadi ketua umum, kita akan rekrut orang yang sudah dikenal dekat, mau mengurus organisasi, dan peduli sama orang lain. Mengurus organisasi itu harus punya jiwa membantu orang. Memang yang lebih banyak tampil ketua umum, sekjen lebih banyak sedikit. Tapi pengurus lain juga harus melayani dan berkorban sesuai bidang masing-masing. Saat ini sudah lumayan. Antar pengurus dekat dan komunikasi bagus. Mereka juga mau diajak membantu organisasi. Saya akan meneruskannya melalui pendekatan dan komunikasi yang lebih baik, melibatkan lebih banyak pengurus, tidak hanya dalam kegiatan internal tapi juga eksternal. Tapi, perlu juga dipahami, di REI itu ada pengurus inti, ada pengurus lengkap. Yang lebih banyak tampil pengurus inti. Pengurus lain (yang jauh lebih banyak) memang hanya muncul saat membahas bidang masing-masing, dan pada saat-saat seperti rakernas, munas, seminar, dan lain-lain.

REI masih diperlukan sebagai organisasi? Apa manfaat kongkritnya bagi anggota?

Perlu sekali. Manfaat langsungnya bagi anggota, mereka bisa lebih mengetahui kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan bisnis properti. Mereka juga bisa memperjuangkan aspirasinya melalui organisasi. Berjuang sendiri dibanding melalui organisasi pasti bedalah. Kita bisa mengundang pihakpihak terkait untuk berdiskusi dan mencari solusi. Mereka pasti akan lebih mendengar dan menghargai kalau REI yang ngajak diskusi. Sebagai organisasi REI bisa bicara lebih seimbang, win-win, tidak hanya melihat kepentingan sepihak, karena kita sudah berpengalaman, tahu kondisi riilnya, dan tahu apa yang diperlukan dan harus dilakukan. Dengan masuk REI pengembang juga punya networking yang luas. Hanya memang, tidak mungkin semua berhasil diperjuangkan pada saat bersamaan. Apalagi, kadang-kadang kebijakan datang mendadak. Organisasi kan seperti bisnis juga, tidak semuanya sukses.

Bagaimana REI mengakomodasi kepentingan semua anggota?

Kalau hanya mengurus yang kecil, REI tak akan besar dan kurang terpandang. Tapi, kalau kepentingan yang kecil diabaikan, mereka akan merasa masuk REI tak ada gunanya. Dengan team work yang kuat dan pembentukan pokja-pokja itu, kepentingan semua anggota akan terakomodasi. Saya akan memastikan program-programnya untuk semua anggota. Kepada yang besar karena sudah punya kemampuan, bantuan organisasi lebih ke soal kebijakan, regulasi. Sedangkan yang kecil yang banyak menggarap perumahan menengah bawah yang backlog (kesenjangan permintaan dan pengadaan)-nya saat ini sangat besar, selain kebijakan juga perlu bantuan pembiayaan, networking, dan mungkin juga SDM. REI bisa membantu karena memiliki relasi yang baik dengan semua stakeholder.

Bagaimana dengan iuran anggota? Apakah tidak sebaiknya biaya organisasi sepenuhnya dari iuran anggota?

Saat ini iuran anggota Rp1–3,5 juta lebih per tahun. Iuran ini sudah lama sekali, mungkin perlu ditingkatkan. Ada baik dan tidak baiknya biaya organisasi sepenuhnya dari iuran. Baiknya akan banyak orang yang mau mengurus REI karena merasa tidak dirugikan. Tapi juga bisa timbul rebutan, karena orang berpikir, wah enak nih REI, dapat jabatan prestis, dapat duit operasional. Nanti pemakaian uang itu adil dan tidak adil akan jadi persoalan. Jadi, saya pikir karena kita organisasi pengusaha, pengurus maulah membiayai operasional pribadinya dari duit sendiri. Itu pengorbanan kita untuk organisasi. Kas organisasi bisa digunakan untuk membuat kajian-kajian dan data based, pengembangan badan diklat, dan lain-lain itu, yang manfaatnya untuk semua anggota, masyarakat dan pemerintah. Ke depan kita berupaya supaya anggota makin banyak. Insyaallah dengan modal bergaul di banyak organisasi itu saya bisa. Saat ini jumlah anggota relatif stabil. Malah tahun 2011 kita punya 2.800 anggota, tahun 2012 turun sedikit jadi 2.500-an. Mungkin munas kali ini juga sekitar 2.500. Kita perlu berbenah supaya orang tertarik jadi anggota. Masih sangat banyak pengembang yang belum jadi anggota termasuk di Jakarta. Perlu dilakukan pendekatan, malah ada daerah tertentu yang belum tahu REI. Padahal, secara tidak langsung apa yang mereka nikmati saat ini berkat perjuangan REI. Kalau mereka bisa gabung sehingga anggota makin banyak dan kas makin besar, REI akan lebih kuat, lebih terpandang, dan lebih bermanfaat.

Apakah REI masih perlu concern pada pembangunan rumah untuk kalangan menengah bawah (MBR)?

Sangat perlu. REI sadar kebutuhan rumah untuk MBR masih tinggi. Backlog-nya menurut data BPS tahun 2010 mencapai 13,6 juta unit. Namun, tentunya tanggung jawab ada pada pemerintah. Pemerintah perlu membuat berbagai kebijakan dan stimulus supaya pembangunan rumah MBR betul-betul berjalan dengan baik. Pengembang pasti senang membangunnya. Apalagi 70 persen anggota REI pengembang kecil yang membangun rumah menengah bawah. Kita senang mengayomi mereka, tidak merasa direpotkan.

Rumah menengah dan mewah kan hanya di kota-kota besar. Masalahnya, kadang kalau program pemerintah nggak tercapai, REI dianggap salah, mau untung doang, nggak peduli MBR. Kita pun menanggapi, memberi klarifikasi. Kalau tanah naik, harga material naik, harga (patokan rumah rakyat) kan juga perlu naik. Apalagi tiap tahun upah pekerja dan gaji pegawai negeri naik, ekonomi daerah naik, daya beli masyarakat sedikit banyak ikut naik.

Ke depan menurut saya perlu semacam komite atau lembaga yang khusus menangani perumahan MBR, karena persoalannya lintas instansi, tidak bisa hanya kementerian perumahan. Kalau hanya satu lembaga yang bicara, suka nggak kena, nggak operasional. Melalui komite itu bisa dibuat kebijakan yang lebih ramah terhadap pembangunan rumah MBR. Misalnya, NJOP untuk rumah MBR diset tersendiri, tidak disamakan dengan NJOP rumah komersial seperti sekarang. Begitu juga perizinan, IMB, sertifikasi, dan lain-lain, jangan disamakan. Bunga KPR memang sudah murah karena sudah ada ada FLPP, tapi harga rumahnya dipatok. Dalam kondisi seperti itu pun REI tetap membangun banyak rumah MBR. Sampai September jumlahnya 60 – 70 ribu unit.

Harapan lain?

REI, seperti juga organisasi lain, berharap selalu dilibatkan dalam pembahasan berbagai kebijakan terkait sebelum diterbitkan. Kita ingin pemerintah mempertimbangkan masukan kita, jangan menganggapnya hanya demi kepentingan kita. Selalu kalau tidak mau mendengar (masukan pihak-pihak terkait), aturan yang dikeluarkan kurang operasional. Kita ingin bersinergi dengan pemerintah, sama-sama mencari solusi. Saya akan melakukan banyak pendekatan dengan semua stake holder termasuk pemerintah demi REI yang lebih bermanfaat dan bermartabat.

Bagaimana dengan bisnis anda kalau nanti terpilih karena anda lebih banyak di Jakarta?

Sudah sejak jadi sekjen saya mendelegasikan pengelolaan bisnis sehari-hari kepada salah satu anak dan staf-staf lama yang sudah bisa diandalkan dan dipercaya. Tapi, memang jujur kita katakan, kita harus sedikit berkorban. Ketika mengurus organisasi, bisnis kita sedikit banyak pasti terganggu. Tinggal pandai-pandai membagi waktu.

Selain di REI, Eddy juga aktif di organisasi seperti Kadin, Apindo, Perbasi, Perbakin, dan KONI, mulai dari tingkat Batam sampai Kepulauan Riau. Bahkan di Kadin saat ini ia menjadi Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Kawasan Perumahan Kadin Indonesia (pusat). Di luar itu pengembang sejumlah proyek properti di Batam seperti Graha Nongsa, Taman Kota Mas, Kota Mas Marina, Bakti Wira, Bukit Permata, Costarica, dan Orchad Park Batam ini, juga aktif di kegiatan sosial seperti Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Yayasan Bhakti Barelang, dan Yayasan Marga Tionghoa Indonesia (YMTI).

Melalui YMTI dan PSMTI misalnya, ia melakukan aneka kegiatan mulai dari pengobatan massal sampai pemberian bantuan bagi kaum miskin dan pendirian Universitas Internasional Batam. Menurut pria kelahiran Kete, Tanjung Pinang, 22 Juni 1959 ini, semua aktivitas itu kian meluaskan jaringannya dan mengasah kepandaiannya berhadapan dengan beragam orang dan aneka kepentingan yang menjadi modal mendasar dalam memimpin organisasi. “Keuntungan banyak berorganisasi itu kita berpengalaman berhubungan dengan banyak orang, punya networking yang luar biasa. Ini perlu sekali untuk melakukan pendekatan. Mudah-mudahan semua itu bisa membantu kalau nanti saya terpilih jadi ketua umum,” katanya.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan