Membuat Komposter di Rumah

Senin, 6 Jan 2014 |
Komposter

Komposter

Housing-Estate.com, Jakarta - JAKARTA, Housing-Estate.com – Masalah jamak yang dihadapi kota-kota besar di Indonesia adalah soal sampah. Produksinya terus bertambah sementara tempat pembuangan akhir sangat terbatas, cukup banyak  sampah tidak terangkut sehingga mencemari lingkungan. Untuk menghindari hal itu sebaiknya tidak seluruh sampah dikirim ke tempat pembuangan akhir. Caranya mudah, yaitu mereduksi  sampah sejak di rumah dengan melibatkan warga. Kenapa warga? Karena 50–65 persen produksi sampah di kota berasal dari rumah tangga. Dari jumlah itu sekitar 60 persen berupa sampah organik dari dapur dan halaman, 40 persen sampah anorganik seperti kertas, plastik, kaca, logam, dan kain. Sampah anorganik bisa dipakai atau didaur ulang, sampah organik diolah menjadi kompos. Sampah yang dibuang ke TPA pun tinggal sedikit.

Mengolah sampah organik menjadi kompos mudah. Misalnya, dengan menggunakan komposter (tangki kompos). Komposter bisa ditanam di dalam tanah atau diletakkan di areal terbuka. “Yang cocok untuk rumah komposter tanam, karena lebih praktis, estetis, dan mengurangi bau,” kata Ir Sri Darwati MSc, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puslitbangkim) Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Setiap rumah butuh dua komposter, karena setiap tangki perlu 5–7 bulan untuk memproses sampah menjadi kompos. Saat tangki yang satu penuh dan memproses sampah, kita bisa mengisi tangki kedua. Begitu tangki ini penuh, sampah di tangki pertama diharapkan sudah jadi kompos, sehingga bisa gantian diisi sampah mentah. Puslitbangkim menyediakan aneka bentuk komposter. Tapi kita juga bisa membuatnya sendiri.

Caranya:

Cari tangki plastik atau fiber berkapasitas 100–200 liter, lubangi sekujur tubuhnya (diameter 1 cm/lubang) dan bagian bawahnya (diameter 3 cm/lubang).

Pada bagian atas sekitar 7 cm di bawah leher tangki diberi empat lengan sepanjang 60–70 cm dari pipa PVC 3 inch, masing-masing dengan posisi saling bertentangan. Seluruh body lengan juga dilubangi dan ujung lengan yang menghadap keluar ditutup. “Lubang-lubang kecil itu untuk membantu proses penguraian oleh mikroorganisme sampah melalui kontak dengan tanah, selain untuk mengalirkan lindi (air sampah) secara merata ke semua sisi komposter,” kata Sri.

Komposter ditanam ke dalam tanah dengan menyisakan lubang tempat memasukkan sampah di bagian paling atas setinggi permukaan tanah. Agar air lindi mengalir ke dalam tanah dengan baik, di sekeliling bagian bawah komposter setinggi 30 cm diisi kerikil setebal 10–15 cm, begitu pula di seputar  empat lengannya setebal 5 cm.

Masukkan sampah kecil-kecil yang mudah lumat ke komposter, tidak sampah keras seperti kulit durian, termasuk sisa-sisa nasi, tulang ikan, dan lain-lain. Makin variatif sampah yang masuk, makin bagus kualitas komposnya. Sebelum dimasukkan sampah ditiriskan dulu, jangan terlalu basah. Sesekali sampah diaduk, ditambahi kapur dan tanah di atasnya, supaya lebih cepat menjadi kompos. Kompos yang sudah jadi dikeluarkan dan diayak, lalu dikeringkan sebelum digunakan.  Yoenazh/Samsul

 

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan