Mengatur Sirkulasi Udara di Rumah

Minggu, 16 Feb 2014 |
Bukaan-bukaan lebar mempercepat perputaran udara dalam ruangan

Bukaan-bukaan lebar mempercepat perputaran udara dalam ruangan

Housing-Estate.com, Jakarta - Ventilasi udara harus sesuai dengan kebutuhan pergantian udara pada ruangan.

Rumah sehat dan nyaman tidak hanya ditentukan oleh kualitas pencahayaan tapi juga sirkulasi udaranya. Agar distribusi udara berjalan baik, ruangan harus didukung sistem ventilasi yang baik.

Sirkulasi udara adalah proses pergantian udara di ruang dengan memasukkan udara dari luar dan membuang udara di dalam. Rumah butuh aliran udara memadai. Caranya dengan menciptakan ventilasi udara yang tepat.

Ventilasi merupakan bukaan-bukaan permanen yang diterapkan pada dinding, agar bisa mengalirkan udara secara tetap ke dalam. Jendela dan pintu memang mengalirkan udara tapi tidak selalu terbuka. Umumnya ventilasi di rumah berupa kisi-kisi di atas jendela dan pintu, yang membiarkan udara mengalir tergantung kecepatan angin.

Kini orang cenderung mengabaikan ventilasi udara. Desain interior dan eksterior lebih dipentingkan karena dianggap sebagai tolok ukur kenyamanan. Padahal pergantian udara yang benar akan membuat rumah lebih sehat.

Ventilasi silang

Perputaran udara yang dibutuhkan tergantung fungsi ruang yang diukur dari pergantian udara per jam. Pada kamar tidur misalnya, 2/3 volume ruangnya harus diganti dengan udara baru setiap jam. Bila luas kamar 3 x 4 x 3 =36 m, berarti kamar itu memerlukan pergantian udara 24 m2/jam. Kamar mandi perlu sirkulasi udara enam kali volume ruangnya. Kamar mandi berukuran 2 x 2 x 3 butuh pergantian udara 72 m2/jam.

Plafon tinggi mengurangi udara panas

Plafon tinggi mengurangi udara panas

Ruang terbuka juga efektif mengatur sirkulasi udara

Ruang terbuka juga efektif mengatur sirkulasi udara

Ventilasi yang baik pada rumah adalah ventilasi silang. Terlebih pada daerah tropis. Yaitu, berupa bukaan depan dan belakang. Misalnya, melalui pembuatan taman depan dan belakang. Ventilasi silang memungkinkan udara yang masuk dari depan dikeluarkan lewat area belakang. Perputaran udara berlangsung lancar dengan volume udara yang masuk dan keluar sama. “Jadi, tidak ada udara kotor yang berkumpul di tengah bangunan akibat perebutan udara oleh penghuni,” tutur pria yang juga bekerja di BPPT itu.

Ruang yang tinggi juga isolator yang baik karena bisa meminimalisir panas di ruangan. Ketinggian plafon minimal tiga meter sehingga ruangan terkesan lega dan memudahkan sirkulasi udara. Bukaan jendela yang lebar pun bisa diterapkan. Sebaiknya  minimal 30 persen dari luas ruangan. Bila lahan tak memungkinkan, dianjurkan membuat ruang terbuka di tengah bangunan. Ruang bisa berbentuk taman yang ditutup dengan penutup transparan. Amalia M Roozanty

Baca juga: Menggunakan Exhaust Fan

Laman: 1 2

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan