Kosmian Pudjiadi, “Kamilah yang Pertama Perkenalkan Istilah Ruko”

Selasa, 8 Apr 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Kosmian Pudjiadi lahir dari keluarga yang sejak awal sudah menggeluti bisnis properti. Sang ayah, Sjukur Pudjiadi, adalah salah satu pengusaha yang diminta Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1966 – 1977) membangun hotel berkelas untuk akomodasi peserta konferensi pariwisata Asia Pasifik (PATA) di Jakarta pada 1974. Satu pengusaha lainnya adalah Sukamdani Sahid Gitosardjono.

Kosmian Pudjiadi

Sjukur pun membangun Hotel Jayakarta di daerah Kota yang kini juga dipakai sebagai kantor pusat Pudjiadi Group (PG). Sedangkan Sukamdani membangun Hotel Sahid di Jl Jend. Sudirman. Karena itu dunia properti tidak asing bagi Kosmian. Ia sudah mengakrabinya sejak dini.

Jangan heran begitu tamat kuliah di University of Southern California (AS), dilanjutkan dengan MBA di Loyola Marymount University, Los Angeles, pada 1986, ia lancar saja menangani proyek ruko di Depok (350 unit). Seluruh ruko tipe 70 dua lantai dengan harga di bawah Rp20 juta/unit itu terjual habis.

“Kamilah yang pertama memperkenalkan istilah ruko untuk hunian merangkap toko itu,” kata putra keempat dari lima bersaudara ini. Masih pada tahun yang sama ia juga membangun perumahan Peninsula Garden, Bekasi, dan perumahan Sunter Pratama, Jakarta Utara, berkongsi dengan Grup Bangun Tjipta milik Siswono Yudohusodo. Kedua proyek ini pun laku.

“Proyek-proyek itu betul-betul melibatkan saya baik dalam desain, pembangunan maupun pemasaran,” katanya. Sukses dengan berbagai proyek itu, Kosmian pun merambah apartemen. Waktu itu ekonomi Indonesia mulai membaik setelah diterpa krisis pada 1983. Pebisnis dan profesional asing kembali memasuki Indonesia. PG yang memang sudah terlatih dengan bisnis hotel melihatnya sebagai peluang. Orang-orang asing itu butuh hunian sewa.

Maka, pada 1987 Kosmian pun membangun apartemen Senopati di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Semuanya tersewa. Sukses proyek itu dilanjutkan lima tahun kemudian dengan membangun apartemen Kemang dan apartemen Prapanca, keduanya juga di Jakarta Selatan. Seperti apartemen Senopati, kedua apartemen ini juga selalu tersewa hingga kini.

Makin besar

Sukses dengan proyek properti skala kecil dan menengah itu membuat Kosmian mulai berani mengembangkan proyek berskala lebih besar. Ia memulainya dengan Kondominium Menara Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 1993. Apartemen ini semuanya dijual, dan lagi-lagi laku.

Kosmian pun bergerak makin jauh. Pada 1994 ia menyodorkan rencana pembangunan hotel resort Sol Elite Marbella di pantai Anyer, Banten (waktu itu masih masuk Jawa Barat). Kali ini rencananya mendapat tentangan dari Sjukur Pudjiadi yang menilainya terlalu berisiko. Pertama, investasinya besar (sekitar Rp200 miliar), kedua lokasinya masih sepi alias belum menjadi tujuan wisata favorit, ketiga akses dan infrastruktur di sekitar proyek masih jelek.

Tapi, Kosmian ngotot. Ia yakin betul proyek itu akan menjadi ikon pantai Anyer, justru karena lokasi itu belum berkembang. “Demand terhadap tempat berlibur yang layak di pinggir pantai begitu tinggi, sementara supply nggak ada. Itu yang saya lihat,” kata suami Ratu Ratih Rosweni, putri seorang purnawirawan TNI AD dan keluarga ulama terpandang di Banten itu.

Akhirnya ayahnya yang memang sejak awal bersikap konservatif dalam menjalankan bisnis properti, menyerah. Tapi, dengan satu nasihat: bangun proyek secara bertahap. Maka, pengembangan Sol Elite Marbella tahap pertama pun dimulai sebanyak 100 unit dengan 200 kamar, lengkap dengan meeting room-nya. Perhitungan Kosmian tidak salah, begitu rampung unit-unit apartemen hotel delapan lantai itu langsung tersewa. Bahkan, setiap akhir pekan selalu full booked.

Walhasil, dalam tempo dua tahun resor bergaya mediteranian itu sudah berkembang menjadi 600 unit dengan 1.200 kamar. Keberhasilan Kosmian tak pelak lagi membanggakan Sjukur Pudjiadi. Karena itu pada 1996 tanpa ragu ia menyerahkan kepemimpinan PT Pudjiadi Prestige Tbk, anak perusahaan PG yang membawahi properti dan realestat, ke tangan putra bungsunya itu. Divisi hotel ditangani putranya yang lain.

Krisis dan peluang

Setahun setelah itu Kosmian kembali membangun perumahan Kota Serang Baru (230 ha) di Serang, Banten. Tapi, belum berjalan setahun proyek itu terpaksa ditunda karena keburu krisis. Seperti banyak developer lain, PG pun berurusan dengan BPPN. Untuk melunasi utangnya, PG melego sebagian sahamnya di sejumlah hotel dan apartemen di Texas (AS), Jakarta dan Bali.

Tapi, di balik krisis selalu ada peluang. Di sela hilir mudik ke BPPN mengurus pembayaran utang PG, juga utang perusahaan anggota REI lain yang mengalami nasib serupa (dia wakil ketua umum DPP REI bidang restrukturisasi utang), Kosmian melihat peluang dari tanah 13 ha di Kebon Kacang-Jakarta Pusat. Tanah itu diserahkan seorang konglomerat ke BPPN sebagai pelunasan utang.

Karena itu begitu seluruh kewajiban PG di BPPN lunas, ia pun mengajak Trihatma K Haliman (Grup Agung Podomoro), PT Jakarta Propertindo (BUMD DKI) dan Grup Lippo menggarap tanah itu. Di atas lahan di belakang komplek HI itu Kosmian dan kawan-kawan mengembangkan superblok Jakarta City Centre (JCC).

Bersamaan dengan itu “Kota Serang Baru” yang tidur selama lima tahun terakhir, dilanjutkan kembali pengembangannya. Tidak sulit karena sejak awal seluruh tanahnya sudah dibebaskan. “Sekarang kondisinya makin bagus, Anda bisa lihat sendiri,” ujar ayah Kevin, Putri dan Ayu ini. Sementara Sol Elite Marbella Anyer diperluas menjadi kawasan vila dan leisure Bukit Marbella.

Laman: 1 2

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan
  • Indigo

    Sangat tidak setuju, jika “Ruko” diperkenalkan oleh Kosmian Pudjiaji.

    Sejak jaman kolonial, Ruko sudah banyak berdiri di daerah dekat pesisir pantai.
    Yg pada umumnya dihuni oleh etnis Tionghoa.
    Ruko difungsikan sbg hunian dan bisnis, bisnis dagang dan medis.

    Mohon jgn asal Klaim!
    Coba tengok di kisaran Kota Tua Jakarta sampai Jembatan Lima, Jakbar.
    Pasti banyak hunian2 kuno berbentuk ruko yg memanjang.