Gado-Gado Boplo Serpong Menyantap Menu Betawi di Ruang Modern

Sabtu, 19 Apr 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Desainnya modern dan futuristik dengan struktur baja dan kaca transparan.

Menyantap menu western di restoran bergaya modern tentu sudah biasa. Tapi, menikmati sepiring gado-gado lontong khas betawi di restoran bergaya modern dan berpendingin udara? Anda bisa merasakannya di restoran Gado-Gado Boplo (GGB) cabang Serpong, Tangerang.

Ruang duduk privat berkapasitas 12-24 kursi

Ruang duduk privat berkapasitas 12-24 kursi

Cabang kesepuluh GGB ini berada di Jl Raya Serpong. Dari kejauhan restoran mudah dikenali melalui tampilan bangunannya yang unik. Struktur baja melengkung yang membentuk massa bangunan dengan balutan cat berwarna putih, berkesan modern dan futuristik. Ditambah lagi kulit bangunan seluruhnya dibuat dari kaca transparan.

“Kita memang ingin membuat daya tarik melalui bangunan. Kalau bentuknya kotak saja sudah biasa,” kata sang pemilik Calvin Hartono, anak pertama pendiri GGB Juliana Hartono. Menurut Calvin yang dibantu arsitek Susan dalam merancang bangunannya, bentuk lengkung itu diusulkan langsung oleh sang investor. “Ia bahkan mencari referensi bentuk serupa hingga ke Australia,” kata sarjana ekonomi lulusan Universitas Pancasila (1993) Jakarta itu.

Tampak massa bangunan melengkung dari struktur baja dan kaca transparan yang menarik perhatian

Tampak massa bangunan melengkung dari struktur baja dan kaca transparan yang menarik perhatian

Dapur terbuka

Penataan interiornya juga tidak kalah menarik. Melewati pintu masuk utama dari kaca, kita akan disambut sebuah komposisi nyentrik antara meja kasir dan rak. Meja kasir bertingkat dengan dominasi warna putih, didesain saling menyilang dengan bingkai kayu warna cokelat kopi, tempat menggantung rak di bagian tengahnya. Rak yang ditutup kaca itu berisi snack-snack tradisional seperti rengginang dan macam-macam keripik yang diambil langsung dari UKM di Cirebon. Keberadaan rak sekaligus berfungsi sebagai pembatas visual antara area kasir dan ruang duduk utama restoran lantai bawah.

Berseberangan dengan area kasir terlihat dapur dengan dinding agak melengkung berbalut kaca transparan. “Kami ingin memperlihatkan pengolahan makanan yang higienis dan saus kacang yang masih dibuat secara tradisional dengan diulek,” jelas Calvin. Ruang-ruangnya juga menghadirkan atmosfer yang lapang. Dari lantai bawah kita bisa menembuskan penglihatan ke ruang makan di lantai atas.

Balkon

Suasana ruang duduk di balkon yang mengasyikkan di sore hari

Suasana ruang duduk di balkon yang mengasyikkan di sore hari

Restoran dua lantai yang dibangun di atas lahan 2.000 m2 ini menyediakan ruang duduk beragam. Di lantai bawah kita bisa memilih duduk di bagian tengah dengan kursi kayu yang menjadi standar GGB di seluruh cabangnya. Lebih nyaman kalau menempati deretan sofa empuk berwarna merah marun dekat kaca yang dihiasi lampu gantung di atasnya.

Sedangkan tempat duduk di lantai atas memiliki atmosfer ruang yang khas. Kalau kita menengok ke atas akan tampak susunan bidang-bidang berbentuk daun dicat hijau yang berfungsi sebagai plafon gantung. Di setiap bidang daun ditempatkan lampu downlight untuk penerangan di malam hari. Pencahayaan lain juga didapat dari lampu gantung dengan kap dari susunan kayu berbentuk balok di atas meja kasir.

Jika ingin yang lebih privat, pesan saja ruang makan tertutup di lantai dua yang berkapasitas 12 – 24 kursi. Pilihan paling mengasyikkan jika berkunjung di sore hari adalah ruang duduk di balkon. Lantainya dari dek kayu warna cokelat tua selaras dengan kursi dari rotan sintetik warna cokelat muda. Suasana ruang luar dengan semilir angin dan sedikit panas matahari sore akan membuat Anda betah. Setelah makan gado-gado dengan saus kacang yang khas, lengkapi dengan jus sanapis yang berisi campuran sawi, nanas dan jeruk nipis yang menyegarkan. Halimatussadiyah

 

Transformasi Ke Restoran

Dapur berdinding kaca melengkung di sisi kanan

Dapur berdinding kaca melengkung di sisi kanan

Gado-gado Boplo bermula dari warung kecil di kawasan Kebon Sirih tahun 70-an. Kemudian tahun 80-an membuka gerai di sejumlah food court. Sejak 2004 hingga sekarang bertransformasi menjadi sebuah restoran. Nama Boplo diadopsi dari nama apotik dan pasar Boplo yang berdekatan dengan tempat jualan ketika pindah ke Jl Wahid Hasyim.

Boplo sendiri menurut tulisan wartawan senior Alwi Shahab, asalnya dari nama perusahaan realestate NV the Bowploeg yang membangun kawasan Menteng sebagai pemukiman modern pertama di Batavia. GGB yang kerap melayani outside catering keluarga Cendana ini juga menyajikan menu aneka mie, aneka soto, nasi timbel dan es krim home made berbagai rasa. Sejak dibuka akhir Desember 2008, GGB Serpong tidak pernah sepi pengunjung. Terutama di akhir pekan, 400 kursi yang tersedia di dua lantai selalu penuh. “Kadang kita sampai menolak konsumen supaya tidak menumpuk. Omsetnya termasuk terbesar,” ujar Calvin.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan