Growbox, Bercocok Tanam Tanpa Media Tanah

Minggu, 20 Apr 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Sebagian besar masyarakat  bakal berpikir bahwa kegiatan pertanian atau bercocok tanam hanya dilakukan di ladang atau sawah di pedesaan, mulai menanam benih, merawat, hingga memanen. Sekarang dengan perkembangan teknologi kegiatan bercocok tanam bisa dilakukan di mana pun dengan media tidak harus tanah. Salah satunya bertanam jamur (urban mushroom farming) yang disebut Growbox hasil kreasi anak-anak muda dari Bandung.

Menanam jamur tanpa media tanah

Menanam jamur tanpa media tanah

Konsep urban mushroom farming dengan Growbox ini adalah grow your own food, menanam jamur untuk  dipanen dan dikonsumsi sendiri. Growbox hasil kreasi Robbi Zidna Hilman, Adi Reza Nugroho, Ronaldiaz Hartantyo, serta Anissa Wibi Ismarlanti. Mereka lulusan Fakultas Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB), hanya Aissa yang dari Fakultas Manajemen Universitas Padjadjaran. Semuanya lulus tahun 2012.

Awalnya mereka terlibat dalam proyek pembangunan rumah adat di Desa Wae Rebo, Flores, saat kuliah. Di desa itu mereka melihat permasalahan utama yang dihadapi masyarakat soal ketersediaan makanan. “Kontur tanah desa hanya bisa dimanfaatkan untuk bertanam kopi, hasilnya dibawa ke desa lain untuk ditukar dengan beras dengan menempuh perjalanan selama sembilan jam,” ujar Adi.

Dari sini tercetus gagasan untuk membuat semacam pertanian kreatif yang tidak perlu lahan pertanian. Mereka melakukan riset dengan melibatkan petani untuk mengembangkan tanaman jamur di dalam sebuah boks yang disebut Growbox. Jenis tanamannya dipilih dari jenis jamur tiram karena daya tahannya kuat dan perawatan serta media hidupnya relatif mudah.

Media tanam jamur menggunakan limbah serbuk kayu untuk menghasilkan jamur organik. Serbuk kayu ini kemudian dicampur dengan katul dan kapur kemudian dimasukkan ke dalam boks. Sebelumnya media tanam ini disterilkan dengan uap air bertekanan untuk mengurangi kontaminasi dengan mikroba.

Karena dikonsep sebagai urban farming, perawatannya sangat mudah, cukup disemprot air 1-3 kali sehari. Tujuan penyiraman agar media tanam tetap lembab. Growbox diletakkan di dalam ruang, dihindarkan dari sinar matahari langsung dengan kondisi suhu ideal 24-32 derajat celcius berkelembaban di atas 70 persen. “Kami ingin mengajak orang untuk merasakan sensasi berbeda ketika merawat, menunggu jamur tumbuh, kemudian memanen, memasak, dan memakannya,” kata Anissa.

Growbox bisa dipanen dalam waktu 2-4 minggu dengan hasil sekitar 150-200 gram. Cara memanennya dengan mencabut seluruh batang jamur, bukan digunting. Setelah panen pertama  Growbox masih bisa dipanen 3-4 kali lagi dengan hasil yang terus menyusut sesuai dengan penyusutan nutrisi media tanamnya.

Saat ini Growbox memiliki tiga jenis warna jamur tiram yaitu putih, kuning, dan merah muda (pink). Nutrisi yang terkandung di dalam jamur tiram sangat baik untuk penderita anemia, menurunkan hipertensi, diabetes, kolesterol, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kandungan seratnya tinggi sangat baik untuk mengatasi sembelit dan dapat  menurunkan berat badan. Growbox bisa dibeli seharga Rp40 75 ribu, tergantung ukurannya. Yudis

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan