Eko Prawoto, Arsitektur Yang Memberi

Minggu, 25 Mei 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Eko Agus Prawoto atau yang lebih sering disebut Eko Prawoto, adalah arsitek yang dikenal bukan karena karya-karyanya yang gigantik. Alumnus UGM Yogyakarta tahun 1982 ini, lebih suka mengidentifikasikan dirinya sebagai “arsitek kampungan”. Ia memokuskan keberpihakan pada yang terpinggirkan oleh arus utama, mengikuti langkah dosen sekaligus idolanya arsitek YB Mangunwijaya atau Romo Mangun (alm). Karena itu arsitekturnya menjadi fenomena yang menarik lantaran kepolosannya. “Bersolek juga tapi dengan apa yang ada dan tersedia,” kata Galih Widjil Pangarsa, teman seangkatan Eko di UGM, dalam buku “Arsitektur untuk Kemanusiaan: Teropong Visual Culture atas Karya-karya Eko Prawoto”.

Eko sendiri mengaku menjadi arsitek seperti kebetulan. Ia seolah mengalir begitu saja tanpa direncana. Tapi, kemudian master arsitektur dari Berlaage Institute, Amsterdam (1993), ini meyakini profesinya sebagai panggilan untuk merawat kebersamaan, mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Di tengah hingar-bingar dunia arsitektur yang kian tereduksi menjadi sekedar komoditas bisnis, wartawan HousingEstate Halimatussadiyah, Yoenazh K Azhar dan fotografer Susilo Waluyo mewawancarainya di sela-sela kesibukannya di Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut kutipannya.

Eko Prawoto

Eko Prawoto

Bagaimana perkembangan arsitektur kita saat ini menurut Anda?

Agak macet, seperti tidak ada pencarian dan kegelisahan. Ini juga pengaruh media seperti Anda. Media hanya mengomunikasikan arsitektur sebagai komoditas. Arsitektur direduksi menjadi sekedar bentuk (style). Fenomena komodifikasi ini terjadi di mana-mana. Arsitektur tak ada bedanya dengan sandal, sepatu, baju sehingga esensinya hilang. Publik kemudian memandang apa yang ada di media itulah yang baik. Peredaran uang juga memusat di Jakarta, publikasi terbesar di Jakarta, yang di-cover hanya Jakarta. Padahal, ada praktik-praktik arsitektur yang berbeda tapi tidak terliput. Akibatnya seolah-olah arsitektur yang eksis hanya yang di Jakarta. Jakarta sendiri tidak bisa disalahkan karena juga sangat unik. Tapi, Jakarta bukan Indonesia. Realitas Indonesia jauh lebih beragam.

Apa sih beda bentuk dengan esensi arsitektur?

Arsitektur lebih kepada nilai kehidupan yang kemudian mengejawantah menjadi ekspresi. Diawali dengan satu gagasan, ide atau nilai-nilai yang ingin diungkapkan.

Apa pentingnya nilai itu pada hunian?

Setting ruang memengaruhi kualitas interaksi orang dan nilai-nilai yang ingin disampaikan. Sekarang, misalnya, orang cenderung membuat rumah seperti hotel. Ada kamar mandi pribadi di setiap kamar. Padahal di rumah ada konsep kebersamaan, berbagi, antri di kamar mandi, negosiasi tentang siapa yang duluan masuk kamar mandi, siapa duluan pergi sekolah dan seterusnya. Itulah yang menghangatkan rumah, yang membuat orang merasa memiliki rumahnya. Itu tidak terjadi di hotel.

Kalau nilainya sudah bergeser, orang memang hanya butuh rumah seperti hotel, apa masalahnya?

Sejauh dia sadar tentang itu, tidak apa-apa. Tapi kalau tidak, pada dasarnya dia sudah jadi korban. Misalnya, orang Indonesia asli dengan arsitektur klasik merasa sejak bangun tidur sampai tidur lagi, seperti Julius Caesar. Sangat teatrikal jadinya. Rumah jadi atribut untuk mengomunikasikan imej, sekadar simbol status. Menurut saya, menciptakan suasana lebih penting untuk memenuhi kebutuhan emosi manusia. Di mana saja, tidak hanya di rumah. Suasana bisa dimunculkan dengan material, warna, tekstur, bentuk-bentuk dan lain-lain.

Jadi, nilai rumah jadi hilang kalau orang mementingkan tampilan?

Pengetahuan arsitekturnya tidak utuh. Konsep rumah jadi tereduksi. Arsitek hanya tukang gambar untuk menemukan bentuk. Contohnya sekarang dengan desain rumah sangat steril, bersih a la minimalis. Kalau punya anak kecil, tidak boleh ada mainan yang bertebaran, tidak boleh ada yang terlihat kotor karena dapat merusak komposisi. Ini bahaya arsitektur yang hanya mementingkan bentuk. Bisa-bisa memusuhi manusia dan kehidupan. Rumah itu akarnya nilai. Ingin sekadar indah, ingin nyaman, hangat, ingin membentuk karakter, berbagi nilai-nilai atau apa?

Bagaimana menyosialisasikan esensi arsitektur itu?

Bertahap saya rasa. Ini kan seperti pohon yang sudah melengkung. Kalau serta merta dibalik tidak bisa. Diperlukan perubahan paradigma memandang arsitektur. Bahwa, arsitektur bukan hanya tujuan. Sekarang arsitektur hanya tujuan. Slogannya, investasi yang menguntungkan. Pikirannya membuat rumah untuk dijual. Kalau arsitektur untuk dinikmati, bukan untuk dijual, akan ada kejujuran, keselarasan dengan nilai masing-masing. Jadi, rumah itu mewadahi eksistensinya. Kalau tidak jujur, hidup kita akan seperti teater.

Karya arsitektur pengajar jurusan arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, ini dikenal kuat dengan prinsip lokalitas yang tidak berjarak dengan alam. Ia menyelami tradisi masyarakat Indonesia yang sejak dulu sudah hidup harmonis dengan alam. “Bukan karena logika ekonomi tentang penghematan, tapi benar-benar selaras dengan alam, tidak memusuhi alam,” kata Eko.

Menurut peraih IAI Award 2002 untuk Rumah Cemeti Yogyakarta ini, masyarakat tradisional menganggap alam sebagai ibu. Mana ada orang yang menyengsarakan ibunya? Berkebalikan dengan manusia modern yang memandang alam sebagai sumber daya (eksploitatif). Karena itu nilai paling dasar dari arsitektur tradisional adalah kebersamaan dengan corak arsitektur yang memberi bukan meminta. Ia ingin kearifan yang didapat dari evolusi panjang namun tidak terdokumentasi seperti di Barat itu, tidak dibiarkan begitu saja tanpa dipelajari. “Kenapa kita harus belajar tentang sustainable architecture dari Barat?” ujarnya.

 

Apa yang dimaksud dengan arsitektur yang memberi itu?

Arsitektur yang dapat memberi dampak positif bagi sekitarnya, membangun  kebersamaan. Konsepnya bagaimana keberadaan seseorang tidak membuat keberadaan orang lain menjadi jelek. Rumah-rumah sekarang kan meminta kenyamanan, perhatian dan menuntut. Misalnya, bangunannya terlalu tinggi sehingga tetangganya tidak mendapat aliran udara dan jemurannya tidak kering. Atau di sekitar perumahan jadi macet dan banjir. Ini egois. Ini kesalahan kita membaca alam menjadi semacam teritori administratif, terkotak-kotak. Hidup dengan alam itu seperti pohon menghasilkan buah, dengan air dan tanah menjadi kesatuan.

Apakah prinsip arsitektur memberi itu masih relevan?

Kebenaran itu universal. Jadi, masih relevan. Setting-nya mencerminkan bagaimana hubungan kita dengan lingkungan. Kalau sekarang kita punya rumah dengan pagar tinggi, berarti kualitas lingkungan termasuk relasi sosialnya semakin buruk. Itu sebetulnya kita sudah sakit akut, tapi karena setiap hari minum obat jadi nggak terasa bahwa kita sakit.

Orang mungkin takut soal keamanan rumahnya?

Ya, tapi itu aneh, kita hidup bersama tapi tidak ada social trust, tidak ada komunikasi. Ini pengaruh Jakarta karena seluruh Indonesia mengambil model pengembangan di Jakarta. Padahal, manusia pada dasarnya makhluk yang berinteraksi. Yang kurang interface-interface yang mengintegrasikan mereka.

Mengapa esensi arsitektur itu sulit diakomodasi bisnis?

Bisnis sendiri tidak jelek. Tapi, ketika aspeknya menjadi hanya bisnis, itu jadi problem. Mestinya ada dimensi sosialnya. Bisnis adalah produk massal seperti produksi mobil. Sementara arsitektur sangat personal, spesifik, terkait dengan tapak, lingkungan dan orangnya. Penghasilan boleh sama, tapi yang satu anaknya tiga yang lain cuma satu. Dalam sistem kredit disamakan semua. Seperti dalam dunia industri, hanya dikenal kategori S, M, L, rumah juga dibuat seperti itu. Arsiteknya ikut karena sudah jadi korban pemilik modal. Kita tidak kuat memengaruhi karena tidak ada pembanding, tidak ada oposisi. Pemodal menjadi single actor, bisa apa saja.

Laman: 1 2

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan
  • ayen

    saya tertarik dengan arsitek Eko prawoto. kalau boleh tau. apa ada buku yang menceritakan biografi hidup dari pak Eko sendiri?

  • Restu

    Hebat!

  • deviani

    saya tertarik mendiskusikan perencanaan pembangunan rumah tinggal kami, karena filosofinya .bisa minta alamat emailnya thank

    • Housing-Estate.com

      Eko Prawoto, email: ekoprawoto[a]yahoo.com