Yu Sing, Mendekatkan Arsitektur Dengan Masyarakat

Minggu, 25 Mei 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Memberikan alternatif desain rumah yang inspiratif untuk bujet dana terbatas

Jangankan untuk kalangan menengah ke bawah, bagi kalangan menengah ke atas saja memakai jasa arsitek mungkin masih dianggap mahal. Menyisihkan sekian persen dari total biaya pembangunan rumah untuk fee arsitek masih jarang jadi pilihan. Biasanya orang lebih senang menyerahkan kepada pemborong yang menawarkan desain gratis. Padahal rumah bukan hanya soal nyaman dan sehat tapi juga inspiratif karena desainnya yang baik.

Yu-Sing

“Rumah akan ditinggali lama. Karena itu bisa berefek pada nilai-nilai kejiwaan penghuninya. Itu yang kadang luput dari perhatian,” kata arsitek Yu Sing. Berangkat dari pemikiran itu ia mau menawarkan jasa desain kepada kalangan menengah bawah. Menurutnya, hanya menyewa tukang dan meniru desain di majalah bisa berakibat banyak kesalahan dan pemborosan. Sebaliknya dengan bantuan jasa arsitek yang dipikirkan tidak hanya soal indah tapi juga fungsional, pencahayaan, lingkungan dan lain-lain.

Konsentrasi rumah murah

Arsitektur sebetulnya bukan bidang yang terlalu dicita-citakannya. Yu Sing justru merasa kecemplung mempelajarinya walaupun ia sedikit pandai menggambar. “Awalnya saya tertarik masuk arsitektur karena diceritakan senior belajarnya sedikit. Ternyata tugasnya malah banyak sekali hingga harus begadang,” katanya. Kecintaannya terhadap arsitektur mulai tumbuh ketika ia menemukan dosen yang dapat membimbingnya.

Karya rumah di Rempoa, Jakarta Selatan didesain tanpa finishing cat

Karya rumah di Rempoa, Jakarta Selatan didesain tanpa finishing cat

Lulus dari jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1999, ia langsung membentuk Studio Genesis bersama teman-temannya. Proyek pertamanya adalah desain Gereja Kristen Indonesia Anugerah Bandung yang dimenangkannya melalui sayembara. “Saya lulus pas krismon (krisis moneter). Jadi, nggak dapat kerja. Kebetulan menang sayembara desain gereja. Langsung bikin studio dengan teman-teman,” jelas anak kedua pasangan Lim Goen Fat (alm) dan Tjoeng Mie Hoa ini.

Sejak pertengahan 2008 Yu Sing mengkhususkan diri mendesain dengan bendera baru, tidak lagi bergabung dengan Genesis. Konsentrasinya mengerjakan rumah dengan dana terbatas. Dalam setahun ini sudah hampir 100 klien yang minta dilayani. Tapi, baru sekitar 20 yang selesai ditanganinya. Untuk itu Yu sing tengah merintis Jaringan Arsitek Indonesia Merakyat (JAIM), sebuah wadah bagi para arsitek yang mau mendesain rumah murah di seluruh kota di Indonesia. “Nanti beberapa klien yang tidak tertangani akan disalurkan melalui JAIM,” kata pria kelahiran Bandung 37 tahun silam itu.

Mencari alternatif

Merencanakan rumah murah bagi Yu Sing adalah upaya mencari alternatif, baik dari sisi desain, penggunaan material maupun proses pembangunan. Menurutnya, masyarakat perlu diberikan pandangan baru tentang gaya hidup yang selama ini terpaku pada kemewahan. Misalnya, rumah tidak harus selalu pakai keramik mengilap atau dicat seluruh dindingnya. “Lantai plesteran semen bahkan bisa terlihat lebih bagus daripada keramik mahal,” ujarnya.

Kemewahan melalui kualitas ruang yang dapat berinteraksi dengan alam

Kemewahan melalui kualitas ruang yang dapat berinteraksi dengan alam

Struktur bangunan yang mencapai 40-60 persen dari biaya pembangunan harus dirancang efisien. Begitu pula peletakan dan jumlah kolom. Termasuk juga tata ruang, semakin banyak lekukan dan sekat akan makin mahal. Pemakaian material bangunan bekas pakai juga mungkin dilakukan. Mewah tidak identik dengan bahan mahal, tapi bisa diwujudkan dengan kualitas ruang atau interaksi dengan alam yang bisa dirasakan indra perasa kita.

Banyak hal-hal yang tidak mungkin dibuat di rumah-rumah mewah menjadi mungkin di rumah murah karena keterbatasan dana. Kendalanya, membangun rumah murah perlu didukung kontraktor yang mau memahami dana yang terbatas. Praktiknya di lapangan seringkali sulit menemukan kontraktor demikian. “Soalnya tidak menarik secara bisnis. Sudah murah, membangunnya susah,” terang arsitek yang berkantor di Bandung itu.

Subsidi Silang

Proyek rumah tinggal yang digarap Yu Sing ukurannya bukan luasan tapi bujet dana dari pemilik. Paling kecil yang pernah dikerjakannya rumah tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat, senilai Rp50 juta dengan desain rumah inti seluas 35 m2. Agar studionya tetap hidup, Yu Sing menerapkan sistem fee subsidi silang. Nilai proyek di atas Rp300 juta dikenai fee sesuai standar IAI (hingga delapan persen), sedangkan untuk rumah murah bisa hanya tiga persen.

Biaya sebesar itu hanya cukup menutup biaya operasional sehingga proyek-proyek yang lebih besar nilainya yang akan menutupi kekurangannya. Proses desain butuh waktu 2-3 bulan untuk rumah murah. Eksplorasi desain yang diterapkan baik untuk rumah mahal maupun rumah murah tetap sama. Ia menghindari desain rumah murah yang instan dan hanya mengulang-ulang. “Percuma kalau seperti produksi massal. Misi semula bahwa rumah sangat spesifik tidak tercapai,” katanya. Halimatussadiyah
Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan