Ghofar “Relife” Nazila, Developer Pantang Serakah

Sabtu, 14 Jun 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Salah satu perkembangan menarik di bisnis properti pasca reformasi 1998, adalah munculnya pengembang-pengembang baru yang mengembangkan perumahan berskala kecil dan mungil. Banyak yang gagal, tidak sedikit yang berhasil dan mulai harum namanya. Salah satunya Relife Realty dengan proyek-proyek tersebar di Depok dan Jakarta Timur.

Relife identik dengan Ghofar Rozaq Nazila (28), pria muda dengan prestasi akademis tinggi. Lulus dari SMA 1 Jepara (Jawa Tengah) tahun 2000 ia langsung masuk jurusan arsitektur UI Depok, Jawa Barat, tanpa tes. Dalam empat tahun kuliah itu dituntaskannya dengan predikat cum laude (indeks prestasi kumulatif 3,6). “Kata dosen saya selama arsitektur UI berdiri belum ada cowok yang lulus cum laude. Kalau cewek udah beberapa,” kata ayah tiga anak ini.

Ghofar Nazilla

Ghofar Nazilla

Karena prestasi itu ia sempat menjadi asisten Prof Ir Gunawan Tjahjono Ph.D, M.Arch, IAI, guru besar arsitektur UI. Dosen senior ini memuji garis desainnya yang bagus. Ghofar sendiri berniat jadi akademisi. Apalagi begitu lulus ia langsung mendapat beasiswa magister arsitektur dari Universitas Teknologi Malaysia (UTM). Tapi, niat awal itu kandas. Perjalanan hidup membelokkannya jadi developer.

Ia tidak menyesalinya tapi justru menekuninya. Terbukti bisnisnya sukses, paling tidak sampai hari ini. Hanya dalam lima tahun ia melambungkan omzet Relife dari semula hanya miliaran menjadi hampir Rp100 miliar tahun lalu. Bagaimana ia membangun bisnisnya? Berikut perbincangan Yoenazh K Azhar, Halimatussadiyah dan fotografer Susilo Waluyo dari HousingEstate dengan pria kelahiran Jepara, 3 Februari 1982, itu di kantornya di Depok awal Maret 2010.

Bagaimana Anda bisa jadi pengembang?

Setelah lulus dari UI saya berencana bergiat di dunia pendidikan. Waktu itu saya dapat beasiswa S2 di UTM. Saya lulus Februari 2005 dan baru akan ke Malaysia akhir Oktober. Untuk mengisi waktu saya jualan voucher. Saya juga diajak kawan dalam usaha trading (perdagangan umum) sebagai perantara, memasok kebutuhan sebuah perusahaan besar. Karena kuliah di arsitektur, saya juga menawarkan jasa design and build. Kita desain dan kita bangun. Uangnya dari pemilik bangunan. Berawal dari sebuah rumah tinggal di Yogya, berlanjut ke Cinere dan Cimanggis (Depok), serta Pancoran, Rawasari dan Pejaten (Jakarta). Jadi, praktis modal kita nol, yang kita jual kepercayaan.

Dalam perjalanan usaha itu berguguran satu per satu. Yang voucher terlalu padat modal, kita KO. Yang trading ada tindakan kriminal, penipuan, tintanya palsu dan segala macam. Gagal juga dan menyisakan PR. Yang berkembang design and build. Bahkan makin berkembang, tidak hanya menggambar dan membangun tapi juga menjualkan. Di sini saya bersama dua teman lain. Ini cikal bakal kami jadi developer. Kami namai usaha kami Relife. Tapi, belakangan usaha ini pun tidak mulus, karena kami masih culun dan intensitas pengenalan di antara kami masih kurang, sehingga ada pengambilan-pengambilan kebijakan yang berbahaya bagi eksistensi usaha.

Masalahnya apa?

Selain rumah tinggal pribadi kami mulai mengembangkan proyek hunian di atas tanah 750 m2 di Depok. Namanya Orchid Pavilion, menawarkan lima rumah seharga Rp250 – 350 juta/unit. Teman saya bilang lokasinya bagus, jalan di depannya cukup besar, pembelinya juga sudah ada. Saya percaya meski belum lihat sendiri tanahnya. Karena itu saya depe-in itu tanah Rp150 juta. Tapi, setelah saya cek satu per satu, ndak ada yang mau beli. Jalan di depan lahan juga ketutup tanah orang. Aduuh, mati kita. Masalahnya jadi makin berat karena ekonomi krisis sehingga ini juga menyisakan PR.

Laman: 1 2 3 4

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan