Money Illusion

Selasa, 12 Agu 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Anda yang saat ini menyimpan uang pada deposito perbankan, perlu peduli tentang topik ini: money illusion. Ilusi uang. Begini penjelasannya. Uang Rp300 juta Anda depositokan di bank dengan bunga 10% per tahun. Berarti bunga bersihnya 8% karena ada pajak 20% atas bunga.

Setelah lima tahun uang Anda sudah beranak pinak menjadi sekitar Rp440,8 juta. Jika nominal uang dipakai sebagai ukuran, maka uang Anda bertambah banyak hampir satu setengah kali lipat! Pertanyaannya: apakah berarti pula Anda telah beruntung satu setengah kali lipat dari lima tahun sebelumnya?

Walaupun Rp440,8 juta memang hampir satu setengah kali Rp300 juta, ekonom tidak akan serta merta menjawab ‘ya’. Bisa jadi Anda sedang merugi. Tengoklah dahulu seberapa besar peningkatan harga-harga barang selama lima tahun itu.

Jika tahun ini kita dapat membeli sepiring nasi goreng Rp5.000, tetapi lima tahun ke depan harga sepiring nasi goreng yang sama menjadi Rp10.000, maka ekonom akan menjawab Anda merugi. Jika harga barang-barang lain bergerak hampir sama sebagaimana nasi goreng tadi, berarti selama lima tahun itu harga telah meningkat dua kali lipat.

Berarti walaupun jumlah nominal uang Anda naik satu setengah kali lipat menjadi Rp440,8 juta, sejatinya nilai riil uang Anda tinggal Rp220,4 juta. Lebih rendah dari uang Anda semula Rp300 juta. Anda merugi. Ini gambaran sederhana ilusi uang. Seseorang mungkin merasa nyaman, berpikir kekayaannya tidak berkurang, bahkan merasa meningkat beberapa lipat, padahal sedang merugi, tanpa disadari. Fenomena ini dialami oleh banyak orang.

Skenario yang kita susun di atas memang terkesan ekstrim: selama lima tahun harga meningkat dua kali lipat. Ini memang untuk memudahkan kita segera menangkap fenomena tipuan nominal uang kekayaan kita. Walaupun begitu, ini juga bukan contoh asalasalan. Membuka catatan lama, situasi seperti ini pernah terjadi pada perekonomian Inggris sekitar 1975-1980. Inflasi sangat tinggi di atas 15%, sementara suku bunga simpanan maupun pinjaman sekitar 7% – 8%.

Dalam situasi inflasi tinggi sementara suku bunga bank rendah sebagaimana skenario kita tadi, alih-alih disimpan dalam deposito, akan lebih bijak jika uang Rp300 juta dibelikan rumah. Bertahan dengan skenario yang sama, maka setelah lima tahun harga rumah menjadi Rp600 juta. Ingat, dalam skenario kita, harga meningkat dua kali lipat selama lima tahun, sehingga kita anggap kenaikan harga rumah segaris dengan harga barang lain.

Secara nominal uang Anda membengkak dua kali lipat dari Rp300 juta menjadi Rp600 juta selama lima tahun, tetapi sebenarnya Anda hanya dalam kondisi impas. Pasalnya, nilai riil uang Anda pada saat itu bukan Rp600 juta tetapi Rp300 juta. Walaupun tidak untung, situasi ini lebih baik dibanding menyimpan uang pada deposito, yang dalam contoh di atas nilai riil uang Anda turun menjadi Rp220,4 juta. Hitung-hitungan kita ini juga belum memasukkan tambahan keuntungan dari nilai sewa rumah selama lima tahun.

Kini kita tahu kenapa sering kita dengar orang mengatakan: salah satu keunggulan investasi di sektor properti adalah kemampuannya meredam inflasi. Cerita sederhana di atas itulah penjelasannya.

Sampai di sini semoga tulisan ini tidak disalahpahami bahwa investasi pada properti pasti lebih untung dibanding deposito. Bukan demikian. Dengan menggunakan kerangka pikir ilusi uang, Anda tentu akan lebih bijak menentukan pada jenis investasi apa uang Anda harus diparkir.

Pemahaman fenomena ilusi uang juga membantu kita menjelaskan kenapa makin hari uang gaji kita makin tidak cukup untuk kebutuhan sebulan. Tiga tahun lalu kita masih bisa menyisihkan sebagian untuk cadangan. Sekarang, untuk bisa tidak tombok saja perlu perjuangan ekstra.

Bagi yang telah terlanjur menganggap istri makin boros, ada baiknya berpikir ulang. Hati-hati. Boleh jadi Anda terkena ilusi uang: merasa penghasilan tidak mengalami penurunan, padahal sebenarnya turun dari segi kemampuan daya belinya.

Sumber bacaan:
1. David J. Ott, Attiat F. Ott, Jang H. Yoo, 1975, Microeconomics Theory, McGraw Hill.
2. W.D. Faser, 1984, Principles of Property Investment and Pricing, Macmillan Publisher, London

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan