Co-Housing, Bangun Rumah Bersama Komunitas

Sabtu, 13 Sep 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Membeli rumah banyak yang melakukan dengan cara instan. Datang ke kantor pemasaran perumahan, memilih produk yang mau dibeli, bayar, setelah itu selesai. Seluruh proses pembangunan rumah sepenuhnya berada di tangan pengembang. Saat ini ada pilihan lain untuk memiliki rumah dengan konsep collaborative housing (co-housing), sebuah konsep hunian yang pengembangan dan pengelolaannya dilakukan secara swadaya oleh penghuninya.

Menurut Mande Austriono Kanigoro, Managing Director DForm, sebuah perusahaan biro arsitek di Jakarta, dengan co-housing konsumen properti bekerja sama dalam mencari lahan, pembagian kaveling, fasilitas yang akan dibangun, hingga penggunaan bahan material. “Jadi harus ada kesamaan minat untuk tinggal di lokasi yang sama kemudian seluruh prosesnya dilakukan bersama,” ujarnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Sabtu (13/9).

co housiing

Co-housing sebenarnya bukan konsep baru. Di beberapa negara sudah dikembangkan konsep hunian seperti ini. Di Indonesia konsep ini juga sudah cukup lama diperkenalkan. Namun yang terbentuk baru sebatas komunitasnya, belum diwujudkan menjadi sebuah proyek perumahan.

Langkah pertama yang dilakukan sudah betul, yakni membentuk komunitas calon pemilik rumah. Mande bisa jadi merupakan orang pertama yang mewujudkan konsep co-housing di Indonesia. Ia mengumpulkan konsumen melalui relasi dan media sosial di internet. Proyeknya tengah dibangun di Jl Baiturahim, Bonjol, Tangerang Selatan, Banten. Lokasinya tidak jauh dari sekolah Al Azhar Bintaro, bersebelahan dengan perumahan Jasmine Garden Residence. Perumahannya dinamakan DFhousing Baiturahim.

Luas tanahnya tidak sampai 1.000 m2 (62×16 meter) yang kemudian dibagi menjadi sembilan kaveling. Masing-masing kaveling berukuran  5×16 meter dengan luas bangunan rata-rata 45 m2. Ukuran kaveling dan bangunan bisa berbeda disesuaikan dengan kemampuan konsumennya.

Menyesuaikan bentuk lahannya yang memanjang, bagian depan perumahan hanya untuk akses selebar 1,5 meter. Carport diletakan di luar area perumahan sehingga tidak banyak lahan yang terbuang untuk tempat parkir mobil. Konsep ini dilakukan sesuai dengan kesepakatan anggota komunitas. Harga rumahnya mulai Rp600-Rp750 juta.

Kendati dilakukan secara mandiri, proses pembangunannya melibatkan developer. Keterlibatan developer ini diperlukan di awal pelaksanaan  pembangunan terutama pengalaman dan talangan dana. Untuk mengembangkan DFhousing, Mande  menjalin kerja sama dengan LC Development. “Idealnya semua kita lakukan sendiri, tapi keberadaan developer diperlukan untuk mendukung kita,” ujarnya.

Dari sembilan kaveling masih  ada tiga unit yang belum ada pemiliknya. Konsumen bisa membeli melalui skema KPR. “Kami yakin konsep hunian seperti ini akan dicari kalangan muda yang ingin memiliki rumah sesuai impiannya dengan harga yang lebih terjangkau,” tandasnya. Yudis

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan