Tjetjep Hartono, Desain Minimalis Berkah Buat Cisangkan

Minggu, 28 Sep 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Bicara genteng beton flat yang kini mencorong pamornya di dunia real estate, tidah Mengkin menyebut Cisangkan. Adalah Cisangkan yang pertama melansir genteng beton produksi Indonesia tahun1979. enam Tahun di pasar sudah ada genteng beton monier asal Australia. Monier masuk, orang belum mau pakai genteng beton karena image-nya berat. Tapi, dalam beberapa tahun Monier bisa membalik keadaan itu.

Masalahnya, saat itu tidak selalu mudah memesan Monier. Orang harus menunggu dua tiga bulan sebelum mendapatkan barangnya. Dari situlah Cisangkan melihat, pasar genteng beton masih terbuka. “Kita mencoba membuat. Modalnya dua mesin dengan produksi awal 1.500 keping per hari,” kata Tjetjep Hartono, Presiden Direktur PT Cisangkan.

TjeTjep Hartono

Cisangkan didirikan Irawan Soetantio dan tiga kawannya di Cijerah, Bandung, tahun 1975. Waktu itu produknya baru ubin dan teraso sebelum memproduksi genteng tipe S yang agak flat tahun 1979. “Jadi, sejak awal genteng kita sudah flat,” ujar insinyur mesin dari Technische Fachhochschule Giessen, Jerman, itu. Tjetjep diajak bergabung awal tahun 80-an untuk menangani inovasi mesin cetak (moulding)- nya. Sebelumnya selama beberapa tahun setelah lulus kuliah (1976) ia bekerja di agen tunggal Mercedes Benz di Jakarta.

Sejak mula Cisangkan menonjolkan kualitas sebagai nilai jual produknya. Image berkualitas dan paling mahal itu melekat sampai hari ini. “Ada dua merek lain yang masuk pasar bersama kita, tapi tidak bertahan karena mengurangi mutu supaya bisa menjual di bawah kita,” katanya. Awalnya Cisangkan menyasar pasar ritel atau perumahan kecil yang dibangun perorangan, sebelum meluas ke proyek-proyek perumahan. Kini Cisangkan tercatat sebagai genteng beton yang paling banyak dipakai di perumahan menengah atas.

Kenapa sejak awal Cisangkan memproduksi genteng beton mahal? Bagaimana mereka mempertahankan reputasi itu hingga hari ini? Berikut perbincangan Joko Yuwono, Yoenazh K Azhar, Halimatussadiyah, dan fotografer Susilo Waluyo dari HousingEstate dengan Tjetjep Hartono di kantornya di Cijerah medio Februari 2011. Ia didampingi Direktur Marketing Suardi Humin dan Business Development Manager Sumarsih Wijaya.

Bagaimana Cisangkan memasarkan gentengnya kepada kalangan menengah atas?

Kita datangi langsung dari pintu ke pintu. Kalau ada (kaveling) tanah ditutup seng, kita langsung berhenti. Tanya siapa pemborongnya, siapa yang punya. Kalau sudah kenal, langsung kita tawarkan. Marketer pertamanya saya sama Pak Irawan Soetantio. Kita belum punya sales force. Brosurnya masih sangat sederhana. Jadi, kita harus bawa langsung contoh gentengnya dengan lima warna berbeda. Kita bungkus rapi dengan kertas semen. Di lokasi kita gelar di hadapan customer. Waktu itu kita hanya menjual genteng tipe S.

Bagaimana meyakinkan kalangan itu agar mau memakai genteng beton?

Waktu itu belum ada yang namanya genteng keramik (berglazur). Yang ada baru genteng kodok, pelentong. Baru awal tahun 90 muncul genteng keramik. Mulanya orang beranggapan genteng beton itu berat. Tapi, kita jelaskan saat memasarkan, konsumen jangan melihat per satuan (genteng) tapi lihat dalam meter persegi (m2). Genteng kodok dan pelentong justru lebih berat, rengnya lebih banyak. Kalau genteng kita cukup sembilan keping/m2, genteng kodok perlu 20–25.

genteng

Desain Minimalis Berkah Buat Cisangkan

Di mana Cisangkan pertama kali dipasarkan?

Di sini (Bandung, Red). Sampai sekarang masih kita yang menguasai. Genteng lain sulit masuk. Fokus kita pasar ritel karena waktu itu belum ada proyek perumahan besar seperti sekarang. Sampai kini di Bandung kekuatan kita tetap di ritel, karena perumahannya tidak sebanyak dan sebesar di Jabodetabek. Masuk Jabodetabek tahun 80-an, dimulai dari sebuah perumahan kecil di Ciputat (Tangerang Selatan). Sulit sekali memasoknya waktu itu, karena belum ada infrastruktur jalannya. Jadi, kita seperti off road untuk masuk ke lokasi, mobil diiket sama rantai.

Sekarang genteng tipe “S” itu masih dipasarkan?

Sejak awal tahun 90 sudah diganti tipe M (Majestic). Bentuknya seperti genteng tipe Eradana keluaran Monier. Disebut Majestic karena bentuknya yang mirip huruf M. Kelebihan tipe M, ada tanggul airnya. Produsen genteng lain tidak bisa membuat tanggul air ini karena terbentur mesinnya. Mereka sistem produksinya extrude, seperti memproduksi bakmi, kemudian dipotongpotong. Jadi, tidak bisa ada tanggul airnya. Kalau mau ada tanggulnya, harus manual satu per satu. Sedangkan kita produksinya sistem press yang memungkinkan bikin genteng pakai tanggul, sehingga air hujan tidak tampias atau bocor kalau ada angin.

Apa plus minus sistem produksi itu?

Extrude itu sistem kering yang lebih cepat, lebih efisien. Karena kering, ikatan semen dengan pasirnya kurang. Semen itu ngikat kalau ada air. Pemadatannya dengan di-vibrate, sehingga tetap ada lubanglubang (yang bisa dimasuki air). Karena itu coating (lapisan cat)-nya berfungsi sekaligus sebagai waterproofing. Kalau press sistem basah, sistem produksi genteng yang kita punya. Genteng dibuat satu per satu dari adonan bubur semen dan pasir, lalu dipress untuk membuang airnya, baru dicetak dan dikeringkan. Jadi, semen dan pasirnya mengikat kuat dan solid, sehingga tanpa coating pun genteng sudah waterproof. Cocok dengan iklim tropis yang tinggi curah hujannya. Dikasih warna supaya lebih estetis.

Karena itu harga genteng Cisangkan lebih mahal?

Ini kembali pada sejarahnya. Genteng beton itu mulanya berkembang di Asia yang basah. Jagonya itu Jepang, karena konsentrasinya bukan pada kuantitas tapi kualitas. Kita yang moulding-nya dari Jepang, mengikuti sejarah itu. Sementara di Eropa pakai sistem kering karena cocok dengan iklimnya. Sistem ini yang dibawa Monier ke sini. Paving block kita pakai sistem kering, permukaannya kayak kulit jeruk, karena memang harus poros (menyerap air).

Jadi, itu yang membuat sebuah perusahaan pengembang Jepang memilih Cisangkan untuk semua proyeknya di Jabodetabek?

Mungkin karena mereka melihat moulding kita pakai punya mereka. Waktu beli kita juga minta diajarin cara mencetaknya. Orang Jepang kan fanatismenya di situ. Saya jadi mudah masuk ke mereka. Kita bahkan pernah kontrak karyawan Jepang untuk memudahkan bikin appoinment dengan mereka.

Kenapa sejak awal memilih target kalangan menengah atas?

Kita kan orientasinya bisnis. Kalau berbisnis, kita harus main di atas. Mutu harus dikedepankan. Kalau main di bawah, kita harus juga berfikir sosial, bikin barang murah yang terjangkau banyak orang. Ketika krisis moneter (krismon) tahun 1997 sempat ada pemikiran, sudahlah tidak usah mikirin mutu lagi, yang penting jualan. Tapi, kita tidak goyah. Ada juga yang minta dibikinkan genteng, tidak usah ada logo, yang penting dari Cisangkan. Ini juga tidak kita layani. Ada yang mau beli cat kita saja, gentengnya dari merek lain, karena cat kita bagus, bikin sendiri. Kita juga tidak ladeni.

Bikin cat sendiri?

Kualitas cat juga menentukan mutu genteng. Awalnya kita pakai Fujimura dari Jepang. Masalahnya, kita sering kesulitan stok. Misalnya, kita cuma ambil warna coklat, tapi ada yang minta warna kopi atau sebaliknya. Kita pesen ke sana, tiga bulan baru datang. Warna catnya juga suka tidak konsisten. Ini membuat sulit kita. Kita dikomplain. Dari situ kita datengin BASF (produsen bahan kimia dan kaset ternama), minta diajarin cara bikin cat. Mereka mau karena bahannya kita ambil dari mereka. Sekarang sebagian bahan cat kita masih dari BASF, sebagian dari tempat lain. Yang penting bagus dan berkualitas, tahan alkali.

Menurut Tjetjep, punya cat sendiri merupakan keunggulan lain Cisangkan. Pasokan cat terjamin, volume dan warnanya lebih fleksibel sesuai kebutuhan, aplikasi lebih irit tapi lebih bagus, dan tidak mudah pudar. Ia menunjukkan kepada HousingEstate sejumlah rumah dan gedung di Bandung yang menggunakan genteng Cisangkan tipe S pada tahun 1980-an. Sampai sekarang genteng-genteng itu masih solid, tidak rusak, dan warnanya masih baik.

“Ketahanan warna genteng kita di atas 10 tahun. Anda bisa lihat rumah-rumah ini (menunjuk barisan rumah menengah atas di Jl Dadali, Bandung), semuanya pakai genteng kita. Berarti sudah lebih dari 20 tahun. Gentengnya masih sangat baik dan belum pernah dicat ulang,” kata pria kelahiran Bandung, 9 Desember 1950 ini. “Coba kalau Cisangkan ambil cat dari luar, kompetitor akan pakai juga sehingga cat kita sama dan kita tidak punya daya saing,” lanjutnya.

Sejak awal sudah memakai nama Cisangkan?

Sudah. Logonya (berupa tiga kelopak daun bulat) juga sudah seperti sekarang dengan beberapa penyesuaian. Dulu daunnya ada lubang, kemudian tanpa lubang dan diberi tangkai. Orang bilang mirip logo BCA, padahal BCA waktu itu belum ada.

Apa arti logo itu?

Saya pernah tanya Pak Irawan Soetantio. Katanya pemegang saham Cisangkan itu ada empat, tapi yang dianggap big boss tiga orang, Pak Irawan buntut kecilnya yang (pada logo) jadi tangkainya. Tiga daun itu dilingkari huruf C yang berarti Cisangkan. Tadinya lingkaran itu ketutup penuh, karena ada yang bilang jangan dibuka, nanti rezekinya keluar. Sekarang dengan (lingkaran) huruf C ada bukaan sedikit. Supaya lebih bagus dan bisa berbagi (rezeki). Hahaha.

Kenapa memakai nama Cisangkan?

Sebelum buka pabrik di Cijerah (4 ha), kita sudah beli tanah di Cimahi. Di situ ada daerah yang namanya Cisangkan. Tapi, saat tanah sudah terbeli, kita lihat di belakang dan di pinggir-pinggir tanah itu sudah ada permukiman. Jadi, nanti kita sulit melakukan peluasan. Dari situ akhirnya kita pilih di sini (Cijerah). Hanya, karena PT-nya sudah berdiri, kita tetap pakai nama Cisangkan. Sejak tahun 1976 akte kita sudah PT (perseroan terbatas) bukan CV, karena lebih jelas hukumnya.

Setelah muncul genteng keramik bagaimana pamor genteng beton?

Agak turun, karena rumah menengah atas beralih ke genteng keramik. Itu berlangsung sejak awal tahun 90-an sampai tahun 2000. Ditambah lagi banyak produsen genteng beton menurunkan kelas. Mereka jual di bawah kita. Kualitas bahannya dikurangi. Semen dan pasirnya yang murah, cat asal saja. Genteng jadi gampang retak dan cepat pudar warnanya. Saya ingat, yang bagus, bersih, dan mahal itu pasir dari Cimalaka. Kalau mau murah ambil pasir Cipatik yang mengandung soil (lempung, lumpur). Sifat lumpur itu ekspansif. Kalau genteng kena panas dia keras, begitu ada hujan langsung retak karena ada pemuaian tiba-tiba. Karena banyak seperti itu, pamor genteng beton turun. Tapi, kita sendiri tetap menjaga kualitas.

Bagaimana Cisangkan berjualan dengan tetap menjaga kualitas saat pamor genteng keramik meningkat di kalangan atas?

Pengaruh paling besar (terhadap genteng Cisangkan) hanya dari KIA. Merek lain baru datang belakangan. Tapi, produksi KIA terbatas dan kebanyakan untuk proyek-proyek dalam satu grup. KIA satu grup dengan Indokisar yang antara lain mengembangkan Vila Melati Mas (Serpong, Tangerang). Jadi, di Bandung yang 60 persen pasarnya ritel agak terganggu, karena kalangan menengah atas beralih pakai keramik. Tapi, di Jabodetabek yang 70 persen pasar kita proyek perumahan, relatif tidak terpengaruh. Keramik hanya dipakai untuk rumah-rumah mahal bergaya mediterania yang waktu itu in. Rumah lain tetap pakai genteng beton, karena harganya lebih murah dibanding keramik. Anda bisa lihat rumah-rumah lama di Vila Melati Mas, BSD, Bintaro Jaya, dan lain-lain, semuanya pakai genteng beton. Jadi, penjualan kita tidak terlalu terpengaruh oleh genteng keramik. Apalagi, saat bersamaan kita ekspor ke Jepang.

Ekspor ke Jepang?

Iya. Itu awal tahun 90-an. Sekitar 100 kontainer per bulan. Tiap tahun ada 6–7 pelabuhan yang kita masuki: Osaka, Yokohama, dan lain-lain. Ada juga ekspor ke Selandia Baru dan Australia kendati sedikit. Yang ke Jepang oleh pedagangnya bahkan kita dijanjikan bisa ekspor lebih besar lagi. Makanya kita buka pabrik kedua di Purwakarta (Jawa Barat). Tapi, setelah kadung buka pabrik, beli mesin, nambah orang, mereka bikin pabrik sendiri di Ipoh (Malaysia). Mereka ajak kita joint 50:50. Kita tidak mau. Bisa-bisa mereka yang gemuk, kita yang kurus, karena mereka yang tahu pasar. Ibaratnya, kalau pabrik untung 10, kita hanya dapat 5. Sementara dari yang dijual ke Jepang mereka bisa ambil lagi 30. Tapi, dari ekspor itu kita banyak belajar soal shipping dan lain-lain. Genteng kita bisa tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, itu belajar dari ekspor ke Jepang. Kita punya 10 distributor di Jakarta dan Bandung, 15 agen di luar Jakarta dan Bandung. Saingan kita hanya Monier yang punya pabrik di beberapa kota. Ekspor ke Jepang berlangsung sampai menjelang krismon. Yang diekspor semuanya genteng flat, sesuai tuntutan desain rumah-rumah di Jepang.

Jadi, momentumnya pas?

Kebetulan, flat cocok dengan desain modern minimalis yang ngetren setelah krismon. Rumah minimalis belum afdol kalau tidak pakai genteng flat. Jadi, tren minimalis itu luar biasa dampaknya buat kita. Sekarang kita punya empat tipe genteng flat dengan corak, tekstur, dan warna berbeda. Tapi, kita tetap bikin genteng lengkung. Paling tidak untuk purna jual, karena ketahanan genteng kita kan hingga 20 tahun.

Pembukaan pabrik kedua di Purwakarta seluas 9 ha sempat membuat Cisangkan terpuruk karena dilakukan menjelang krismon. “Kita utang dalam dolar, tapi order (dari Jepang) tidak ada. Utangnya dua juta dolar atau sekitar Rp4 miliaran, saat krismon nilainya jadi lima kali lipat,” kata Tjetjep. Cisangkan pun masuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Semua utang itu dibayar dengan menjual berbagai aset Cisangkan.

“Kita mulai pulih tahun 2004 bersamaan dengan menguatnya tren minimalis itu,” kata suami Betty Hadisoebrata dan ayah Andrew Hartono-Verena Hartono ini. Sekarang produksi gentengnya mencapai 1,2–1,5 juta keping/ bulan, plus 2.000 – 2.500 paving block/hari, dua produk andalan Cisangkan di pasar. Sekitar 90 persen dari genteng itu genteng flat. “Selama masih modern, genteng flat tetap masuk. Kalaupun pamornya turun, kita siap karena sejak awal punya aneka varian genteng,” ujarnya.

Supaya produk-produknya tetap jadi pilihan, selain terus memberikan edukasi tentang aplikasi genteng yang baik, Cisangkan juga menjalin komunikasi intens dengan kalangan arsitek, supaya mereka selalu tune in dengan perkembangan desain dan dapat menawarkan produk yang tepat. Produk beton lebih fleksibel melayani permintaan pasar, bahkan yang customized sekalipun.

Contoh, ketika ada permintan genteng berukuran lebih besar untuk mengurangi pemakaian rangka atap, Cisangkan bisa segera memenuhinya. Untuk mengelola tuntutan pasar itu Cisangkan membentuk unit business development. Kini produk Cisangkan terentang mulai dari genteng beton, paving block, batu alam buatan, pipa beton, bata beton, sampai beton ventilasi. Cisangkan juga akan membuka pabriknya di Purwakarta yang sempat ditutup saat krismon.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan