Melestarikan Air Mengurangi Sampah

Sabtu, 18 Okt 2014 | Penulis: San, Yoenazh

Housing-Estate.com, Jakarta - Banjir pada musim hujan, kekeringan pada musim kemarau, adalah situasi yang jamak kota-kota Indonesia akhir-akhir ini. Salah satu penyebabnya, berkurangnya ruang terbuka hijau untuk resapan. Kita bisa berpartisipasi mengatasinya dengan membuat sumur resapan di rumah. Bila semua melakukannya, pada musim hujan sebagian besar air bisa diresapkan ke tanah, sehingga pada musim kemarau kita tidak kekurangan air.

membuat sumur resapan

Problem lain adalah sampah. Jakarta saja produksi sampahnya 6.500 ton/hari. Sekitar 90 persen dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA), sisanya tak terangkut, sehingga mencemari lingkungan. Padahal, ada cara murah mereduksi sampah, yaitu dengan melibatkan warga mengurangi sampah sejak di rumah. Kenapa warga?

Karena 50–65 persen produksi sampah di kota berasal dari rumah tangga. Dari jumlah itu sekitar 60 persen berupa sampah organik dari dapur dan halaman, 40 persen sampah anorganik seperti kertas, plastik, kaca, logam, dan kain. Sampah anorganik bisa dipakai atau didaur ulang, sampah organik diolah menjadi kompos. Sampah yang dibuang ke TPA pun tinggal sedikit.

Mengolah sampah organik menjadi kompos mudah. Misalnya, dengan menggunakan komposter (tangki kompos). Komposter bisa ditanam di dalam tanah atau diletakkan di areal terbuka. “Yang cocok untuk rumah komposter tanam, karena lebih praktis, estetis, dan mengurangi bau,” kata Ir Sri Darwati MSc, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puslitbangkim) Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

MEMBUAT KOMPOSTER

Menurut Sri, setiap rumah butuh dua komposter, karena setiap tangki perlu 5–7 bulan untuk memproses sampah menjadi kompos. Saat tangki yang satu penuh dan memproses sampah, kita bisa mengisi tangki kedua. Begitu tangki ini penuh, sampah di tangki pertama diharapkan sudah jadi kompos, sehingga bisa gantian diisi sampah mentah. Puslitbangkim menyediakan aneka bentuk komposter. Tapi kita juga bisa membuatnya sendiri

Caranya:

Cari tangki plastik atau fiber berkapasitas 100–200 liter, lubangi sekujur tubuhnya (diameter 1 cm/lubang) dan bagian bawahnya (diameter 3 cm/ lubang).

membuat sumur resapan 2

Pada bagian atas sekitar 7 cm di bawah leher tangki diberi empat lengan sepanjang 60–70 cm dari pipa PVC 3 inch, masing- masing dengan posisi saling bertentangan.

Seluruh body lengan juga dilubangi dan ujung lengan yang menghadap keluar ditutup. “Lubang- lubang kecil itu untuk membantu proses penguraian oleh mikroorganisme sampah melalui kontak dengan tanah, selain untuk mengalirkan lindi (air sampah) secara merata ke semua sisi komposter,” kata Sri.

Komposter ditanam ke dalam tanah dengan menyisakan lubang tempat memasukkan sampah di bagian paling atas setinggi permukaan tanah.

membuat sumur resapan 3

Agar air lindi mengalir ke dalam tanah dengan baik, di sekeliling bagian bawah komposter setinggi 30 cm diisi kerikil setebal 10–15 cm, begitu pula di seputar empat lengannya setebal 5 cm.

Masukkan sampah kecil-kecil yang mudah lumat ke komposter, termasuk sisa-sisa nasi, tulang ikan, dan lain-lain. Sampah keras seperti kulit durian jangan dimasukkan ke dalam komposter. “Makin variatif sampah yang masuk, makin bagus kualitas komposnya,” ujar Sri.

Sebelum dimasukkan sampah ditiriskan dulu, jangan terlalu basah.

Sesekali sampah diaduk, ditambahi kapur dan tanah di atasnya, supaya lebih cepat menjadi kompos. Kompos yang sudah jadi dikeluarkan dan diayak, lalu dikeringkan sebelum digunakan.

KOMPOSTER POT

Kita bisa juga membuat pengomposan sistem pot. Caranya, cari wadah plastik berlubang, isikan pasir di bagian paling bawah dan ratakan, kemudian masukkan sampah dapur yang sudah dipilah, tambahkan kotoran ternak dan kapur, tutup dengan tanah, isi lagi dengan sampah dapur, begitu seterusnya sampai pot penuh. Diamkan 1–2 bulan, siram pot tiap hari tapi jangan terlalu basah. Setelah jadi kompos aduk sebelum digunakan.

Membuat sumur resapan juga tidak sulit. Tinggal menggali sumur berdiameter 0,8–1,2 m sedalam 1,5–3 m, tergantung curah air dan kondisi tanah. “Bila curah hujan tinggi, sumur resapannya lebih lebar dan dalam supaya bisa menampung banyak air. Begitu pula kalau tanahnya lempung, karena tanah lempung lambat menyerap air. Sebaliknya kalau tanah berpasir nggak apa-apa lebih dangkal,” kata Dadang Sobana ST, perekayasa muda Puslitbangkim PU.

Dadang Sobana ST

Dadang Sobana ST

Rumah tipe 36 hanya butuh satu sumur berdiameter 1 m. Sedangkan rumah tipe 70 yang atapnya lebih lebar dan mencurahkan air lebih banyak, perlu dua sumur. Bentuk sumur bisa bundar atau persegi empat dengan dinding tanah, susunan bata berlubang tanpa plester, atau pipa beton berlubang.

Bagian bawah sumur diisi kerikil, puing, dan atau ijuk setebal kira-kira 10 cm. “Tanpa alas kerikil atau ijuk, air akan langsung menimpa pori-pori tanah dan menutupnya, sehingga mengurangi efektifitas sumur menyerap air,” jelas sarjana teknik sipil Undip (Semarang) itu.

Bagian atas sumur ditutup beton bertulang yang cukup kuat, dengan posisi lebih rendah sekitar 15 cm dari permukaan tanah. Jadi, di atasnya bisa ditutup tanah dan ditanami pohon. Air hujan dialirkan dulu ke saluran air hujan di halaman langsung dari atap atau melalui talang vertikal, sebelum terus ke bak kontrol berpenyaring kasa nyamuk dan masuk ke sumur.

Atau bisa juga dari saluran air hujan langsung ke sumur tanpa fasilitas bak kontrol. Pengaliran air dari saluran air hujan ke sumur menggunakan pipa PVC 110 mm (3 inch). Dibuatkan juga pipa keluaran dari sumur ke saluran umum untuk melepas air bila sumur penuh.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan