Sanusi Tanawi, Label Green Memberi Nilai Tambah

Minggu, 19 Okt 2014 | Penulis: Yoenazh

Housing-Estate.com, Jakarta - Sanusi Tanawi (61) adalah satu dari sedikit eksekutif perusahaan developer yang sudah intens bicara tentang konsep green sejak awal isu itu menguat dalam pengembangan real estate tahun 2005–2006. Dialah misalnya, yang menggagas pengembangan perumahan dilengkapi kebun raya (botanical garden) di Puri Botanical Residence/PBR (135 ha), Joglo-Jakarta Barat, tahun 2004 saat menjadi Direktur PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSI), pengembang perumahan itu.

Kendati penerapannya baru di tataran embrio, itulah untuk pertama kalinya pengembang secara terbuka menjadikan konsep green sebagai nilai jual dan sukses. “Salah satu alasan konsumen membeli rumah di PBR adalah konsep kebun raya itu,” kata pria kelahiran Jambi, 22 Oktober 1953, yang mengawali karir di dunia real estate di Ciputra Group ini.

Sanusi Tanawi

Sanusi Tanawi

Setelah kembali menjadi Direktur Utama PT Belaputera Intiland (Lyman Group), pengembang Kota Baru Parahyangan (KBP), Bandung, tahun 2009, ia makin serius menerapkan konsep tersebut. Sanusi menjadi Dirut Belaputera untuk pertama kali saat KBP (1.250 ha) di-launching tahun 2000 sebelum pindah ke JSI tahun 2004– 2008.

Bagaimana dan kenapa alumni teknik sipil dari Unika Parahyangan (Bandung) ini bicara mengenai konsep green dalam pengembangan real estate sejak awal? Berikut wawancara Yoenazh Khairul Azhar, Samsul Arifin Nasution, dan fotografer Susilo Waluyo dengan Sanusi di kantornya di Bandung bulan lalu. Ia ditemani Marketing Manager PT Belaputera Intiland Raymond Hadipranoto.

Sejak kapan concern pada isu green di bisnis real estate?

Isu green baru mulai diadopsi dalam pengembangan real estate di Indonesia tahun 2004/2005 menyusul menguatnya isu global warming. Sebelum itu kita belum secara spesifik mengenal istilah green, baru sebatas kehijauan taman. Kalau taman sebagai nilai tambah, dari dulu pengembang sudah tahu. Perumahan yang memiliki banyak taman atau rumah di depan taman, memiliki daya jual lebih tinggi.

Misalnya, Taman Resor Mediterania (50 ha) yang dikembangkan Lyman Group di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, tahun 1993 dikembangkan dengan konsep banyak taman/ruang terbuka hijau yang terdistribusi ke seluruh area perumahan. Taman yang melingkupi rumah-rumah itu bukan hanya menghijaukan, tapi juga bisa dinikmati untuk jalan-jalan, bersepeda, bermain, dan jalur jogging. Karena itu taglinenya hunian resor pertama di tengah kota. Konsep itu membuat kita mengurangi salable area. Tapi, di sisi lain meningkatkan nilai jual propertinya 25 persen lebih tinggi dibanding nilai jual properti sekelas di sekitarnya.

Bagaimana dengan di KBP?

Waktu launching tahun 2000 konsep pengembangannya juga belum secara spesifik mengadopsi konsep green. Kita lebih mengarahkannya sebagai kota berwawasan pendidikan, sejarah dan budaya (Sunda), karena dari survei kita pendidikanlah yang memberikan nilai tambah tertinggi. Selain itu secara natural untuk ruang terbuka kita sudah dapat bonus ruang terbuka. Misalnya, dari 1.250 ha luas areal KBP, sekitar 200 ha berupa ruang terbuka air, yang merupakan bagian dari waduk Saguling.

Saat Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah (Menkumpraswil) dijabat Erna Witoelar, beliau selalu bicara tentang pembangunan yang holistik atau sustainable development (berkelanjutan). Yaitu pembangunan yang feasible secara ekonomi dan bisnis, meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan sosial. Itu kan konsep green yang sekarang populer. Kita merasa konsep itu cocok untuk KBP, karena ini proyek berjangka panjang dan skala pengembangannya luas sehingga memungkinkan penerapannya.

Karena itu selain berbisnis dan membangun kawasan permukiman dengan fasilitas dan nuansa pendidikan, sejak awal kita sudah memperhatikan kepentingan masyarakat di sekitar proyek. Saat orang ramai bicara tentang CSR (corporate social responsibility), kita bentuk Departemen Community Development (ComDev). Sejalan dengan misi pengembangan KBP yang mengusung tema pendidikan, kita juga menerapkan pengembangan aspek pendidikan dalam kegiatan ComDev. Kita survei kebutuhan sekolahsekolah di sekitar KBP. Hasilnya, kita kembangkan perpustakaan di kampung, memberi bantuan buku-buku, membangun fasilitas sosial seperti sekolah dan sarana ibadah, dan memperbaiki akses dari kampung-kampung sekitar ke areal kita. Kita juga merekrut tenaga sekitar dan membinanya menjadi pekerja terlatih di KBP. Sampai sekarang CSR itu terus kita jalankan. Sementara penerapan aspek lingkungan pada tahap-tahap awal masih berupa penghijauan ruang-ruang terbuka.

Sanusi Tanawi

Sanusi Tanawi

Bagaimana kemudian muncul dengan konsep botanical garden di Puri Botanical?

Seperti sudah saya katakan, sekitar tahun 2004 orang mulai gencar bicara sustainable development dalam pengembangan real estate. Waktu ke Jepang kebetulan saya baca majalah berkala arsitektur yang merangkum desain-desain hasil kompetisi desain arsitektur green di sana. Saya terinspirasi dari majalah itu.

Di Puri Botanical ada jalur SUTET (Saluran Utama Listrik Tegangan Ekstra Tinggi). Dulu di bawahnya tidak boleh dibangun apa-apa. Tapi, DKI punya rencana meningkatkan luas taman kota (ruangan terbuka hijau) dari sekitar enam persen menjadi sembilan persenan tahun 2012. Saya ambil itu sebagai entry point mengusulkan pembuatan taman di bawah jalur SUTET.

Jadi, waktu itu kita sudah mulai berpikir bagaimana menerapkan konsep green. Ide awalnya memang masih berkaitan dengan taman, karena itulah yang paling feasible untuk skala pengembangan kita. Tapi, taman yang lebih serius supaya benar-benar memberikan nilai tambah. Saya ingat waktu kecil sering dibawa ayah saya (almarhum) ke kebun raya di Singapura. Memori waktu kecil itulah yang memberi saya inspirasi mengembangkan konsep botanical di Puri Botanical Residence.

Untuk mewujudkan gagasan itu kami bekerja sama dengan pihak yang kompeten mengelola kebun raya, yaitu LIPI/Kebun Raya Bogor. Dengan di-endorse lembaga yang berkompeten, taman itu memberikan nilai tambah yang tinggi. Kebetulan arsitek lanskap yang ditunjuk menangani disain lansekap Puri Botanical, Umar Zain (alumni IPB Bogor dan pemilik Studio Oemardi Zain, Red), mengenal beberapa staf LIPI. Kami diperkenalkan. Saat itu pihak LIPI memang sedang perlu tanah yang luas untuk konservasi pohon yang sudah punah atau terancam punah akibat pembabatan hutan. Jadi, waktu kita datang mereka langsung welcome.

Ketika saya pensiun dari JSI, 70 persen pohon itu sudah tertanam. Sekitar 50 persen di antaranya adalah pohon langka. Pihak LIPI/Kebun Raya Bogor menyuplai semua pohon, sekaligus menjadi konsultan penanaman, perawatan, dan menyediakan informasi tentang asal-usul, manfaat dan, kapan pohon-pohon tersebut masuk ke Indonesia, sebagai bahan edukasi di botanical garden seluas lima hektar tersebut.

Pasar menyambut antusias konsep kebun raya itu. Sama seperti di Taman Resor Mediterania, nilai tambah yang kita peroleh jauh lebih tinggi dibanding biaya yang harus kita keluarkan untuk membangunnya. Selain kebun raya, di Puri Botanical Residence kami juga sudah menggunakan tangki septik ramah lingkungan, desain rumah dengan banyak bukaan dan sirkulasi udara yang baik yang mengurangi pemakaian AC dan listrik.

Setelah dipercaya lagi memimpin PT Belaputera Intiland, Sanusi secara bertahap makin serius menerapkan konsep green di Kota Baru Parahyangan. Beberapa bentuk aplikasi konsep itu yang sudah dilaksanakan adalah penyediaan angkutan umum dari lokasi KBP ke Bandung atau sebaliknya, penyediaan pedestrian dan jalur sepeda, penggunaan tangki septik ramah lingkungan, pembuatan lubanglubang biopori untuk resapan air, penyediaan sistem pengolahan sampah untuk mengurangi pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), berpartisipasi aktif dalam program one man one three, dan menjadikan KBP sebagai pilot project program ketahanan lingkungan lingkungan hidup yang diapresiasi negara-negara sahabat, me-launching desain rumah yang lebih ramah lingkungan di seluruh klaster hunian, penyediaan penghijauan yang memadai (RTH >30 persen), dan pembuatan hutan kota. “Di sini penerapan konsep green lebih memungkinkan, karena konsep itu memberikan nilai tambah berkelanjutan, selaras dengan pengembangan KBP yang berjangka panjang,” kata pria yang juga pernah bekerja di PT Pembangunan Jaya ini.

Pendapat Anda terhadap penerapan konsep green di real estate saat ini?

Sekarang orang sudah tahu konsep green memberikan nilai tambah tinggi. Hanya, interpretasi terhadap konsep itu masih bedabeda karena belum ada standarnya. Jadi, diskusi masih berkembang. Kecuali nanti GBCI (Green Building Council Indonesia) sudah melansir Greenship (standar green Indonesia) tentang kawasan perumahan ramah lingkungan. Aplikasi konsep yang masih beragam kadang kurang menguntungkan konsumen. Apalagi, secara umum konsumen juga belum mendapat pencerahan seperti apa perumahan yang green, bagaimana penerapannya pada skala dan segmen perumahan.

Bagaimana penerapan konsep green di real estate ke depan menurut Anda?

Di negara maju green sudah jadi bagian gaya hidup. Produk berlabel green dicari orang. Contohnya seperti Body Shop, harganya lebih mahal dibanding produk sejenis dari merek lain, karena diproduksi dan dipasarkan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Pasar bersimpati. Hal yang sama juga akan berlaku di real estate. Jadi, mau tak mau konsep itu harus kita usung, mulai dari pengembangan rumah dan lingkungannya, pemilihan lokasi, pemilihan material, pengembangan utilitas dan infrastruktur, sampai edukasi pasar.

Apalagi, konsumen saat ini juga semakin tercerahkan dan familiar dengan konsep itu. Tuntutan mereka akan kesana. Pada akhirnya orang akan bicara kualitas. Contoh, rumah bagus tapi panas akan sulit terjual. Itulah mengapa kalau kami bicara desain rumah, layout-nya nomor satu. Harus terkesan lapang, banyak bukaan, banyak cahaya, ada ventilasi silang, sirkulasi udara lancar. Kebijakan seperti itu juga kami terapkan dalam pengembangan dan penataan kawasan. Jadi, konsep green merupakan keharusan di masa depan.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan