Haji Komarudin: Ilmu Congklak, Bini Dua, dan Etnis Tionghoa

Minggu, 26 Okt 2014 | Penulis: Yudis

Housing-Estate.com, Jakarta - Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) adalah kawasan pengembangan properti terbesar di Indonesia, baik dari nilai investasi maupun jumlah unit. Pengembangan properti besar hampir sepenuhnya dikuasai developer dari kalangan etnis Tionghoa. Tapi, di level menengah developer dari etnis lain juga banyak, kendati tetap kalah banyak dibanding pengembang dari etnis Tionghoa.

Di Jabodetabek sebagian developer dari etnis non Tionghoa itu berasal dari etnis Betawi (asli) atau Betawi–Arab. Umumnya mereka low profile dan tidak suka publikasi, sehingga sosoknya jarang diketahui khalayak. Salah seorang di antaranya adalah Haji Komarudin, pemilik PT Laguna Alam Abadi (Laguna Group). Perusahaan ini tersohor dengan proyek-proyek perumahan berskala kecil dan sedang di Jabodetabek, Cilegon, dan Bandung.

Sebagian besar dikembangkan sendiri, sebagian berkongsi dengan developer lain atau pemilik tanah sejak tahun 2007. Kini ada empat perusahaan yang terafiliasi dengan Laguna Group. Yaitu, PT Griya Sarana Akbar, PT Bumi Indah Parahyangan, PT Karyamas Mambang Perkasa, dan PT Laguna Cipta Griya. Perusahaan terakhir yang mengembangkan dua perumahan untuk kalangan menengah bawah di Cilegon (Banten), dimiliki dua developer menengah lain yang kemudian mengajak Pak Haji sharing karena pengalamannya dalam pembebasan tanah dan pengembangan perumahan menengah bawah. Kalau menyangkut proyek pribadinya, Haji Komar mengaku tidak berminat membawanya melepas saham di bursa.

Haji Komarudin (kanan)

Haji Komarudin (kanan)

Total sampai saat ini Laguna sudah mengembangkan 23 perumahan, dan akan menjadi 30 perumahan yang tercatat pada akhir 2011. Dari jumlah itu yang masih aktif dipasarkan 19 proyek. Memang, pengembangan berbagai proyek itu bukan tanpa rintangan, bahkan beberapa mengundang protes dari konsumen. Namun, semuanya bisa diatasi Haji Komar.

Bagaimana putra Betawi asli yang setia beristri satu ini merintis dan mengembangkan Laguna Group hingga eksis seperti sekarang? Berikut petikan wawancara Yoenazh Khairul Azhar, Samsul Arifin Nasution, dan fotografer Susilo Waluyo dari HousingEstate dengan Haji Komarudin di kantornya di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Bagaimana ceritanya masuk bisnis perumahan?

Background saya kontraktor dan bisnis urugan. Saya sampai punya 100 truk, alat berat 27 unit. Tapi, kemudian terjadi krismon. Proyek lesu, bisnis susah. Kita kehilangan order. Tapi, kita punya lahan tempat kita ambil tanah urugan. Pikiran saya, kenapa nggak kita jadiin perumahan? Ibaratnya karena sudah khatam di bisnis urugan, mau tanah itu jelek, kita bisa bikin bagus. Kita juga pengalaman sebagai kontraktor. Jadi, kita bisa kerjakan sendiri sehingga bujet dan kualitas proyek bisa kita kontrol. Dari situlah kita bikin perusahaan properti tahun 2000. Proyek pertama tanah yang di Bojong Gede (Bogor) itu yang kita namain Bumi Indah Pesona. Kita pasarin ke hotel-hotel. Karyawan hotel bintang lima kayak Four Season, Grand Melia, Grand Hyatt, Shangri- La, beli di situ semua.

Awalnya saya pasarin sendiri. Saya tungguin mereka bubaran jam 11 malem. Mereka percaya dan bangga membelinya karena ketemu pemilik proyeknya langsung. Saya juga senang karena proyek laku dan belajar gimana ngejual rumah yang baik. Kebetulan lokasinya tidak begitu jauh dari stasiun kereta. Jadi, mereka makin tertarik. Waktu beli tanahnya saya sendiri nggak mikirin dekat jalur kereta apa bukan. Yang penting cocok untuk urugan.

Total luas lahannya sampai tuntas dikembangkan sekitar 50 ha. Saya bebasin tanahnya bertahap. Waktu itu pikiran saya sederhana saja. Kendaraan akan turun harganya, sementara tanah akan naik. Jadi, waktu beli truk 10, saya juga beli tanah lima hektar. Beli truk lagi 10, saya juga beli tanah lagi. Begitu terus sampai punya 100 truk. Jadi, waktu nilai truk-truk itu turun, harga tanah saya naik. Balance.

Jadi, sejak awal Anda sudah kontraktor dan berbisnis urugan?

Oh, nggak. Saya sempat kerja di Duta Anggada (salah satu konglomerat properti di Jakarta milik keluarga Angkosubroto, Red) antara tahun 1984–1990. Di situ saya belajar bisnis kontraktor dan properti. Kebetulan saya juga sempat kuliah di teknik sipil walaupun nggak tamat. Setelah keluar dari Duta Anggada baru saya bikin perusahaan kontraktor. Saya jadi subkon proyek beberapa perusahaan developer termasuk yang pernah dikerjakan divisi konstruksi Duta Anggada. Tahun 1991 kita masup ke bisnis urugan diajak Safira Group.Ternyata enak juga profitnya.

Tidak ada kendala permodalan?

Pasti ada. Kita pribumi ini nggak bakalan begitu saja dikasih fasilitas sama perbankan. Bank ragu-ragu. Dan, itu sesuatu yang wajar. Tapi, kita jalan terus tanpa pinjaman. Waktu puncak krisis 60 truk kita diambil bank, tinggal 40. Saya jual murah truk yang 40 itu seharga Rp40 juta/unit untuk modal. Jadi, saya punya Rp1,6 miliar untuk modal mengembangkan proyek perumahan pertama. Untuk KPR bank mau bantu, terutama BTN. Karena itu sampai sekarang kita setia sama BTN. Walaupun bunganya lebih tinggi, BTN itu berjasa buat kita. Apalagi kita bisa neken cost dan bisa jual rumah dengan harga bersaing, karena proyek kita kerjakan sendiri, punya truk sendiri, alat berat sendiri, pabrik batako sendiri, pasir sendiri, gunung batu sendiri. Jadi, bisa ngimbangin bunga KPR itu.

Berapa kapitalisasi bisnis Laguna saat ini?

Saya nggak ngitung, asetnya juga nggak ngitung. Kalau ngitungin malah repot. Yang jelas sampai saat ini untuk konstruksi kita nggak pinjem duit bank kecuali di Puri Cikarang Hijau. Itu karena dipaksa BTN. Mereka bilang, jangan hanya KPR, KYG (kredit konstruksi)-nya juga dong. Kita ngajuin kredit konstruksi ke BTN Harmoni.

Haji Komar bersedia diwawancarai HousingEstate berkat bantuan kongsinya Setyo Maharso, Komisaris PT Laguna Cipta Griya Tbk, yang kini menjadi Ketua Umum DPP REI. Itu pun semula ia hanya mau diwawancarai, tidak dipotret. “Saya bukan tokoh properti. Kalau mau diekspos, orangorang ini aja,” katanya menunjuk para manajer Laguna yang mendampinginya selama wawancara.

“Kalau difoto dan orang lihat tampang saya di majalah, nanti baru nongkrong orang sudah naikin harga. Padahal, bicara properti yang penting kan gimana nyari tanah, lokasi,” lanjutnya. Namun, setelah dibujuk, akhirnya ia luluh juga: bersedia dipotret tapi bersama para manajernya, tidak sendirian.

Pak Haji masih aktif mengendalikan Laguna sebagai direktur utama. Dalam berbisnis ia lebih mengedepankan intuisi ketimbang hitung-hitungan rasional. “Orang teknik saya mungkin bicara bagus (mengenai sebuah proyek), tapi kalau feeling saya bilang nggak ngejual, saya tidak beli (tanah di situ),” kata pria yang sudah memiliki dua cucu dari anak pertamanya ini.

Kenapa fokus mengembangkan perumahan menengah bawah?

Sederhana saja. Kalau kita masuk pabrik, supervisornya paling 10, direksi lima. Yang banyak karyawannya. Jadi, yang banyak ini yang mesti disasar. Saya tahu gaji mereka terbatas dan semuanya beli pakai KPR. Karena itu saya berupaya jual dengan harga terjangkau. Saya bisa karena punya divisi kontraktor, punya material sendiri. Sebuah kepuasan dan kenikmatan tersendiri kalau kita bisa jual rumah dengan cicilan senilai biaya kontrakan mereka tiap bulan. Tapi, kita juga ada ngembangin townhouse. seperti Bumi Harapan Permai di Kramat Jati (Jakarta Timur). Harga rumahnya Rp900 juta. Yang mau jalan Zam Zam Townhouse di Depok (Jawa Barat) dan satu lagi di Lebak Bulus (Jakarta Selatan).

Tidak tertarik mengembangkan perumahan berskala besar?

Nggaklah. Jangan ngadepin orang yang mau bikin kota. Bukan kelas kita. Misalnya, kita kembangin proyek 100 ha. Kalau demand-nya 100 unit per bulan, kita paling bisa jual 20 unit. Tapi, kalau kita pecah jadi 10 masing-masing 10 ha, yang laku bisa jauh lebih banyak tanpa kita terlalu repot. Malah segmen pasar kita lebih beragam. Sekarang dari proyek yang masih dipasarkan kita bisa jual 200–300 rumah per bulan.

Apa sih filosofi bisnis Anda?

Anda pernah main congklak? Main congklak itu simpel. Menarik yang penuh untuk mengisi yang kosong. Filosofi bisnis saya ilmu congklak itu. Di mana ada yang kosong, di situ saya masuk. Tentu saja saya juga baca-baca buku untuk nambah pengetahuan dan wawasan. Saya juga aktif di (asosiasi perusahaan real estate) REI, terutama waktu Pak Maharso jadi ketua REI Jakarta (periode 2010-2013) untuk sharing pengalaman.

Apa tantangan terberat selama berbisnis?

Yang susah itu kalau SP3K nggak terbit (permohonan KPR ditolak, Red). Kita ajuin 300 yang disetujui 200. Atau SP3K terlambat sehingga konsumen kelamaan nunggu, jual beli batal. Dua-duanya bikin susah karena mengganggu cash flow. Kalau yang lain seperti perizinan, bebasin tanah, pengembangan, nggak ada masalah.

Apa kegiatan Anda selain bisnis?

Paling menyangkut masalah umat yang nggak perlu disebutin. Bersama tokoh lain saya juga mendirikan sebuah yayasan orang Betawi. Golf nggak hobi. Kita maen tasbeh aja dah. Di kantor setiap jam sembilan pagi selama setengah jam karyawan saya anjurkan salat Dhuha, ngaji Yasin, surat Al Waqi’ah. Salat zuhur dan asar berjamaah. Akhir bulan kita panggil kyai kasi pengajian. Tujuannya menyatukan diri, keseimbangan. Jangan dunianya saja yang dipacu. Seorang pemimpin itu nanti ditanya tanggung jawabnya terhadap orang yang dipimpinnya.

Sebagai orang Betawi sukses Anda setia dengan satu istri? 

Kalau ngumpul sama orang Betawi, memang yang pertama ditanya bukan anak, tapi bini lu berapa. Supaya nyenengin dan nggak nanya-nanya lagi, gue bilang bini gue empat, lu kan baru dua, jadi kalah ama gue. Kalau saya bilang satu, pasti masih rame. Istri satu itu lebih aman.

Yang sudah ngalamin juga nyaranin jangan. Kita pribumi harus ngaca. Rata-rata hancur karena sudah menzalimi istrinya. Dimulai dengan berbohong. Lagi pacaran dibilang lagi rapat, nggak langsung kawin. Udah ketahuan baru ngaku. Yang sulit itu berlaku adil. Bukan materinya, tapi kasih sayangnya. Itu ketakutan saya (kalau beristri lagi). Selain itu sebagai pemimpin, kalau ada karyawan kawin lagi, terus istri pertamanya ngadu, saya mau nasehatin gimana kalau saya juga punya bini dua?

Haji Komar lahir dan besar di kawasan pecinan Sawah Besar, Jakarta Pusat, 18 April 1958. Karena lahir dan besar di lingkungan Tionghoa, ia bisa bicara dengan bahasa mereka, memahami kultur dan cara berpikir mereka. Setelah dewasa ia juga bekerja di perusahaan yang pemilik dan karyawannya banyak dari kalangan Tionghoa. Interaksi itu memberinya motivasi dan keyakinan menjalankan bisnis perumahan. “Orang Tionghoa atau bukan, peluangnya sama untuk sukses. Tidak ada yang istimewa. Semua orang bisa. Saya buktinya. Saya bahkan join ama mereka dalam pengembangan Permata Pamulang Residence (Tangerang Selatan- Banten),” katanya.

Kalau semua orang bisa kenapa hanya sedikit developer bukan etnis Tionghoa yang sukses?

Kelemahan kita, tidak tekun, cepat bangga, dan ingin segera terlihat wah. Baru punya dua hektar sudah girang, cerita ke mana-mana, jalannya udah kayak orang bisulan. Baru dapat duit dari BTN, bukannya dibeliin bangunan, malah beli mobil mewah, nambah bini. Orang Tionghoa nggak begitu. Mereka tekun, hemat, tidak cepat puas, mobilnya sederhana.

Bukannya karena mereka didukung modal kuat dari keluarga dan klannya?

Bisnis itu modal utamanya kepercayaan. Saya bisa dapat bisnis karena kepercayaan. Saya bisa join sama mereka karena track record saya. Mereka sangat menjaga kepercayaan. Karena itu sesama mereka mau saling mendukung (dana) hanya dengan jaminan catatan di atas kertas. Kita banyak yang sulit menjaga kepercayaan.

Ada juga pengaruh agama yang membuat etnis lain sulit sebesar mereka dalam bisnis?

Iya, ada. Kalau kita maunya kaya dunia akhirat. Seimbang. Buat apa kaya dunia tapi agama rusak? Kita juga harus peduli sama sekitar, tempat kita numpang cari makan. Dalam pandangan kita, kekayaan itu cuma amanah. Kapan saja bisa diambil sama Yang Punya.

Editor: H. Prasojo
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan
  • عارف بن مريوطا

    Pak Haji Komar Sangat Menginspirasi Sekali Dalam Masalah Dunia & Akhirat.
    Sosok Beliau Patut Dicontoh Dalam Kehidupan Bertetangga, Beliau Tidak Lupa Dengan Kewajiban Untuk Akhirat.
    Semoga Pak Haji Komar Selalu Diberi Kesehatan, Panjang Umur, Keberkahan & Selalu Dilindungi ALLAH SWT. (Aamiin….)
    06/010/48