Yayat Supriatna, Monyet dan Kota Semrawut

Sabtu, 1 Nov 2014 | Penulis: Yudis

Housing-Estate.com, Jakarta - Setiap hari pengamat perkotaan Yayat Supriatna (49) menggunakan kendaraan umum. Dari rumahnya di pinggiran kota Bogor, dosen Planologi Fakultas Teknik Universitas Trisakti (Jakarta), itu naik sepeda motor ke terminal atau stasiun terdekat, kemudian naik bis atau kereta ke tujuan hari itu di Jakarta. Karena kebiasaannya itu ia sangat paham kondisi kota Jakarta dan sekitarnya, termasuk transportasinya, mentalitas pejabat dan warganya.

Yayat Supriatna

Yayat Supriatna

Ia punya banyak anekdot untuk menggambarkannya. MRT atau mass rapid transportation misalnya, oleh Yayat diplesetkan menjadi Menderita Rasanya Terhimpit atau Macet-Ruwet-Tersendat. Situasi itu menurut suami Ela Eliasari ini tidak terlepas dari mentalitas SDM pemerintahan yang rendah. “SDM-nya rendah, Semuanya Dapat Masalah. Semua dapat masalah, ujungnya Selamatkan Diri Masing-Masing,” kata Magister Planologi ITB ini.

Sikap mementingkan diri (daerah) sendiri dan tidak mau bersinergi menciptakan kota yang tertata itu, jelas Yayat, karena setiap daerah di Jabodetabek mementingkan PAD masing-masing. “Maksudnya bukan Pendapatan Asli Daerah, tapi Pendapatan Asli Dompetnya,” kata anak tentara yang lahir dan besar di Medan itu. Dampak mentalitas bobrok itu tercermin di jalanan.

Contoh, angkot yang berhenti sembarangan di Bogor tanpa ada yang menindak. Pengendara lain pun marah dan memaki. “Dasar monyet siah (kamu). Supir angkot membalas, maneh oge (kamu juga) monyet. Jadi, sama-sama masih monyet, wajar kalau kotanya semrawut. Hahahaha,” katanya.

 

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan