Eileen Rachman: Desain Furniture Kita Belum Tuntas

Minggu, 16 Nov 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Selama ini orang lebih mengenal Eileen Rachman (64) sebagai pemilik dan Direktur Experd (Executive Performance Development), sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia (SDM) ternama di Jakarta. Setiap minggu kolom psikolog lulusan UI ini bisa kita baca di Kompas. Perempuan yang mendirikan Experd tahun 1989 bersama tiga kawannya dengan modal Rp200 juta itu, juga menulis dan menjadi nara sumber masalah SDM di sejumlah majalah dan TV ternama.

Jasa Experd mulai dari pengembangan organisasi, konsultasi, sampai perekrutan. Klien pertamanya salah satu perusahaan tempat Eileen pernah bekerja: PT Kawan Lama Sejahtera, grup perusahaan penyedia perkakas (tools) dan peralatan industri serta furniture, dengan outlet tersohornya Ace Hardware, Index Furnishings, dan Informa. Setelah itu kliennya meluas ke ratusan perusahaan/institusi besar lain baik nasional maupun multinasional.

Eileen Rachman HousingEstate #90

Tapi, Eileen bukan hanya Experd. Bekas mahasiswa Jurusan Arsitektur UI yang tidak meneruskan kuliah karena menikah muda itu juga pemilik Decorous (PT Decorous Mitra Selaras), perusahaan pemasok furniture (terutama kursi) dan aksesoris interior untuk perkantoran dan rumah kalangan atas. “Sebenarnya hobi saja membeli furniture. Ketika membeli dalam jumlah banyak, penjualnya bilang, Anda mau nggak jualan? Saya jawab, oke juga. Dari situ saya belajar tentang furniture,” katanya.

Awalnya Decorous menjajakan kursi merek Saporiti (Italia). Karena itu dulu di bawah Decorous ada tulisan Saporiti. Tapi, kemudian juga Vescom (wall paper), Milliken (karpet), Penta, Magis, Kartell, kursi Vitra, dan lain-lain. Tidak ada hubungan langsung antara bidang SDM dan furniture, kendati Decorous yang didirikan Eileen bersama seorang pemilik Kawan Lama setahun setelah Experd, juga melayani pasar perkantoran. Yang jelas ia mampu mengelola dan berbicara mengenai dua bidang yang berbeda itu dengan sama baiknya.

Sekarang Experd dan Decorous ditopang 150 orang. “Paling banyak karyawan Experd,” katanya. Kalau Experd ditangani 75 konsultan dari awalnya hanya empat pendirinya, Decorous didukung enam desainer. Pertengahan Desember 2011 Amalia M Roozanty, Yudiasis Iskandar, dan fotografer Susilo Waluyo dari HousingEstate mewawancarai ibu dua anak dan nenek dua cucu itu di kantornya yang nyaman di Jl Kemang Raya, Jakarta Selatan. Yoenazh K Azhar kemudian menuliskannya untuk Anda.

Kenapa waktu itu memilih Saporiti?

Produknya bagus, sedang ngetop-ngetopnya di dunia, dan desainnya sangat Italian. Terus terang saat itu saya nggak ngerti mana yang lebih bagus daripada itu. Pake feeling saja. Baru kemudian saya belajar tentang furniture. Saat itu status kita sebagai distributor. Nggak lama datang tawaran jadi agen Milliken. Ini bisnis yang berbeda. Kami mesti pergi ke desainer untuk kerjasama, baru ke end user, bank-bank. Bisnis ini juga berkembang, bercabang begitu. Kemudian ada Formica, high pressure laminate, datang minta kita jadi agennya. Kalau ini lain lagi, kami mesti nyetok lalu mendistribusikan. Cabangnya langsung jadi tiga. Pertama, ritel atau toko, kedua salesman yang keluar (menawarkan barang) yang kami sebut contract, ketiga distributor.

Mengapa Saporiti tertarik memilih Anda menjadi agen?

Mungkin mereka melihat orangnya. Saya nggak sendiri (mendirikan Decorous) tapi bersama Pak Kuncoro Wibowo, Direktur PT Kawan Lama Sejahtera. Modalnya dari dia, sahamnya besaran dia. Cuma beliau lebih fokus di Informa dan Index.

Bagaimana pasar furniture di Indonesia saat ini?

Yang paling banyak diserap itu furnitur seperti yang dijual Pak Kuncoro. Selama 20 tahun di bisnis ini pemahaman mengenai desain kursi, sejarahnya, koleksi dan semacamnya, belum berkembang. Kalau orang kaya beli kursi, hanya ingin memiliki tanpa menikmatinya, mengetahui sejarahnya, dan sebagainya. Mereka tidak melihatnya sebagai karya, hanya komoditi, brand. Beda dengan karpet. Seperti Milliken, sekarang ada banyak persyaratan gedung seperti preferensi terhadap kebakaran, asap. Jadi, karpet berspesifikasi tinggi dibutuhkan.

Bagaimana seharusnya memahami desain kursi?

Sebenarnya sih nggak harus gimanagimana amat ya. Cuma kan sayang sekali setelah dibeli, lalu bosen dan dibuang. (Harusnya) kursi dibeli lifetime (untuk pemakaian lama). Paling nggak 20 tahun. Kursi di rumah saya nggak keliatan kalau sudah 20 tahun. Itu kursi rancangan Le Corbusier (arsitek ternama asal Perancis, pelopor arsitektur modern yang juga desainer furniture, Red). Saya tidak fanatik dengan satu merek. Saya juga suka beli produk Ikea. Tapi, kalau dibagi dengan cost-nya, jatuhnya jadi murah. Itu yang pertama. Kedua, kita mesti lihat kenapa sih kursinya bagus. Misalnya, bentuknya nggak pernah berubah, kualitas kulitnya nggak pernah berganti, makin tua makin enak, comfort (kenyamanan) dan desainnya tetap bagus, tetap fit in dengan environment (pemakainya). Kalau hal-hal itu tidak dipahami secara mendalam, (membeli kursi) akan jadi cost tinggi. Padahal, kursi bisa menjadi collection items. Buktinya banyak pihak mencari kursi bekas karena kayak jadi barang abadi gitu.

Tapi orang ingin mengganti barangnya karena tren desain berganti?

Iya. Makanya ketika beli harus dipertimbangkan benar-benar. Kalau kursi sudah ditaruh di suatu ruangan dengan setting yang pas, buat apa sih diganti? Kalaupun diganti, ya after twenty years. Kalau sebentar-sebentar ganti, berarti ketika dibeli dia tidak mengerti. Seperti beli berlian, kita akan cari dong berlian yang matching dengan kita. Masak kita beli yang matching cuma dengan satu baju. Sayang kan. Kalau bisa kita beli yang matching dengan baju apa saja. Jadi, kita bisa pake berlian itu terus. Lalu (perhatikan) juga ergonomiknya. Seperti kursi ini (menunjuk kursi yang didudukinya), tidak ergonomik kendati sisi keindahannya ada. Makanya produsen Vitra membuat kursi seperti ini yang penampilannya mirip-mirip, clean, tipis, transapran tapi ergonomik.

Anda mengatakan menyukai kedua bidang ini (SDM dan furniture), kenapa tidak pernah menulis soal furniture?

Karena saya tidak profesional dalam furniture, hanya memperdagangkan. Saya (juga) tidak tahu tentang desain. Kalaupun saya menulis tentang furniture, paling saya akan menempatkan diri sebagai pemakai, bukan desainer.

Sebagai konsultan Eileen punya keinginan mengajar. Salah satu yang ingin diajarkannya adalah tata cara mendesain kepada para perajin mebel. Ia melihat selama ini kebanyakan perajin Indonesia belum mampu mengoptimalkan keahliannya dalam menghasilkan desain furniture yang bagus dan menjual. “Padahal, kalau desainnya bagus, pasar akan terbuka lebih luas, bukan hanya nasional tapi juga ekspor,” kata anak bungsu dari lima bersaudara ini. Melalui mengajar ia juga ingin menularkan sikap cerdas kepada orang lain, dengan antara lain banyak membaca.

Kenapa desain furniture kita belum bisa banyak bicara?

Sebenarnya usaha mendesain banyak. Tapi, belum tuntas, baru setengah jadi, sudah dijual. Jadi sikap mentalnya, pembimbingnya, juga tuntutan pasar, membuat kita tidak bisa menghasilkan barang yang berkualitas. Contoh di Jepara. Orang bule bilang, eh saya mau (furniture) yang kayak gini. Mereka nggak peduli kualitasnya dulu, pokoknya tolong dibuatkan. Nanti (baru) mereka pisahkan mana barang yang (mampu) melewati quality control, mana yang tidak. Yang tidak berkualitas dijual murah. Lalu ketika barangnya laku, mereka (para perajin) bikin lagi. Tapi, mereka nggak tahu the story behind of it (bahwa itu produk hasil sortiran). Mereka bikin dengan kayu yang kurang, bentuk barangnya dipendekin. Pemahaman seperti itu yang membuat (desain) kita nggak berkembang. Harusnya kita paham konstruksinya, jenis bahan dan kualitasnya, dan lain-lain. Karena itu penting bagaimana universitas membuat para desainer kita bisa mengimplementasikan (desainnya) sampai tuntas. Menurut desainer yang sudah mateng Irvan Nukman, if you do something ten thousand times, baru kau dibilang ahli. Lah, kalau latihan di universitas cuma beberapa kali, bagaimana mau tuntas?

Industri furniture kita belum maju ya?

Ya, mungkin karena kita belum negara industri. Produksinya belum matang. Negara Asia yang sudah bagus itu Taiwan. Ya produksinya, ketelitiannya, presisinya, dan penggarapannya. Kita masih jauh dari situ. Jepara kayunya segitu bagus seperti jati, tapi (mebelnya) dibikinnya kayak apa. Misalnya ukiran. Kita berbakat membuat ukiran, tapi coba lihat ukiran yang betul-betul halus, betul-betul fine, ada tidak? Kita masih harus banyak belajar, dan kita bisa. Kayak industri mobil, meskipun dibina orang Jepang, manajemennya full orang Indonesia dan berhasil.

Bagaimana kalau copy paste desain?

Copy paste dari internet masih lebih bagus daripada dikarang-karang sendiri. Tapi, waktu copy paste ada dimensinya nggak? Kalau bisa dapet dimensinya persis, konstruksinya persis, buat saya nyontek plek-plekan masih mending daripada dimodifikasi. Tapi, (kita) nyontek saja (sering) nggak bener. Itu masalahnya.

Bagaimana dengan di Decorous sendiri?

Saya punya tim yang juga masih terus belajar. Belajar membikin begitu. Kekurangannya banyak sekali. Meski sudah punya gelar master, PhD, tetap harus punya ketekunan dan obsesi terhadap kualitas kalau kita mau keren.

Kualitas SDM kita secara umum bagaimana?

Banyak yang nggak bisa kerja. Keluar sekolah tidak siap kerja karena di sekolah memang nggak diajarin untuk bekerja. Kedua, kurang belajar. Jadi, sudah sekolahnya sebentar, hanya empat tahun, belajarnya juga kurang dan nggak bener. Akhirnya modal di sini (menunjuk otak) sedikit, masih kosong. Kalau bekerja tidak punya basis (pengetahuan dan keahlian mengenai bidang yang dikerjakannya).

Saran Anda terhadap persoalan klasik itu?

Anak perlu diajarin magang di tempat yang benar, dan dia harus mendapat pelajaran dari magang itu. Pulang dari magang ditanyain, lu belajar apa di sana. Kalo nggak ditanyain, ya sudah lewat begitu saja. Magang itu untuk belajar tentang trik-trik dan kenyataan kerja.

Bagaimana dengan entrepreneurship?

Dulu waktu suami saya sekolah di fakultas teknik masih ada pelajaran entrepreneurship, kini tidak ada lagi. Kita memang memandang rendah kasta waisya, jiwa saudagar dan semangat mencari uang, tapi korupsi tidak apa. Jadi, kita telat belajar entrepreneurship, pedagang tidak mendapat tempat di masyarakat kecuali pedagang yang duitnya banyak. Nggak ada orang tua yang bilang, nak nanti kalo sudah besar jadi pedagang ya? Cuma orang Cina yang begitu.

Konsep pendidikan zaman dulu lebih baik dibanding sekarang?

(Dulu) ada hal-hal basic yang harus dipahami dan dikuasai orang. Orang kalau mau kreatif harus ada basisnya. Tanpa basis orang tidak akan kreatif. Basis ini harus dihapal mati. Misalnya, kalau dia insinyur mesin, dia harus ngerti cara jalannya suatu mesin. Jadi, mesin apapun atau mesin baru, ia paham prinsip kerjanya. Untuk mengerti basis itu, dia mesti hapal. Kalau selama sekolah sering bolos, dia tidak akan tahu. Begitu tamat, ia akan menemui problem. Saya contohnya, ketika melakukan tes kerja, lalu tangan orangnya dingin dan was-was, sudah harus tahu ini orang mengidap neurosis atau psikotik. Harus hapal. Tidak bisa liat buku dulu. Karena itu tiap ngetes pegawai saya selalu tanya hal-hal basic yang dipelajarinya di sekolah.

Oh ya, katanya Anda pernah kuliah di Jurusan Arsitektur?

Itu kecemplung. Saya pikir arsitektur itu gampang, hanya kreatif. Saya senang menggambar, padahal (ternyata) nggak bisa. Akhirnya (kuliah arsitektur itu) berhenti juga karena suami ngajak nikah. Untung juga saya nggak jadi arsitek, enakan jadi psikolog. Setelah anak saya delapan tahun, saya kuliah lagi ambil psikologi. Saya pikir lebih gampang, ternyata malah lebih berat. Bedanya waktu itu umur saya sudah 28 tahun. Jadi, sikap sudah lain, sudah lebih serius. Saya menyadari, ini jalan saya untuk maju.

Dalam sehari berapa jam Anda bekerja?

Hehe, berapa ya? Menurut saya komunikasi itu termasuk bekerja. Yang ditunggutunggu dan nggak bisa ditunda-tunda komunikasi. Contohnya, orang Kawan Lama tanya saya, jadi nggak nih beli mobil sekian-sekian. Saya harus jawab pertanyaan itu. Kalau enggak orang itu akan berhenti kerjanya.

Bagaimana bekerja yang baik menurut Anda?

Nggak banyak nanya, tahu kerjaannya seperti apa, kapan mesti selesai, produktif, bisa mendatangkan uang tanpa perlu seriusserius amat.

Apa yang membuat Anda bisa berhasil seperti sekarang?

Saya jalan sendiri, nasib yang membawa. Saya bukan tipe orang yang punya cita-cita, saya kerja saja. Tapi, di manapun saya berada, I try to be the best. Anak kedua saya (Riri) seorang DJ, bersekolah hotel di Swiss, pulang- pulang ke sini jadi DJ, sebelumnya dia manajer restoran di Thailand. Anak pertama Shelby, membangun Decorous Contract.

Hobi?

Twitteran, hehehe…. Kalo olahraga fitness, seminggu tiga kali, itu kewajiban karena saya tahu jantung saya harus sehat. Yang paling saya sukai main dengan kedua cucu. Saya juga banyak baca buku. Kalau buku arsitektur saya pilih yang glossy (tampilannya) karena untuk konsumsi mata. Kebanyakan saya beli buku dari buka situs Amazon. Ke toko buku kalau sedang travel. Saya travel sebulan dua bulan sekali.

Siapa idola atau inspirator Anda?

Kartini Muljadi (pengacara ternama pemilik firma hukum Kartini Muljadi & Rekan dan pemilik perusahaan obat PT Tempo Scan Pasific, Red). Dia sudah sekitar 82 tahun, pintar, tapi masih aktif bekerja.

Keinginan Anda yang belum terpenuhi?

Saya senang punya wadah seperti ini (gedung tiga lantai di Kemang yang menjadi kantor Experd dan Decorous dan sebagian disewakan, Red), karena jadi tempat rapatnya orang-orang, tempat ngetes Experd, tempat orang iklan lihat calon iklannya, tempat produsen lihat iklannya, studionya Riri, lounge, restoran. Kalau one day ada tempat yang lebih lucu, lebih luas, dilengkapi galeri, saya pasti kepengen.

Kalau terlahir kembali Anda ingin jadi apa?

Seperti ini lagi juga oke, cuma lebih kaya, hahaha…. Saya bersyukur diberi kesehatan, anak-anak yang baik. Saya nggak ingin tukar anak dan suami, kolega, dengan apapun. Misalnya, saya lahir kembali, lalu semua yang saya punya dituker, diganti, oo… tidak. I love them a lot.

 

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan