Teori Konsumsi

Senin, 1 Des 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Persoalan penghasilan bulanan selalu saja habis terkonsumsi, sementara tabungan tidak bertambah, bukan hanya persoalan mereka yang bergaji kecil, tapi juga yang bergaji besar dan sangat besar. Jika ada dua opsi penggunaan pendapatan yaitu konsumsi dan tabungan, maka setelah semua kebutuhan konsumsi terpenuhi sisa pendapatan akan masuk dalam tabungan. Logis kita berpikir mereka yang berpenghasilan besar tentu punya sisa pendapatan (tabungan) yang besar pula. Benarkah demikian? Dari setiap Anda tentu punya jawabannya. Boleh jadi Anda dan teman Anda punya jawaban berbeda. Ada yang jumlah tabungannya makin menggunung seiring meningkatnya penghasilan. Ada juga yang tetap saja kehabisan uang sebelum akhir bulan, padahal, gaji saat ini sudah hampir dua kali lipat dua tahun lalu. Dan, bisa jadi dengan besar gaji yang sama, keuangan mereka yang masih single justru tertatih-tatih di paruh akhir bulan, sementara mereka yang sudah berkeluarga justru masih tenang. Semua itu serba mungkin.

Kenyataan seperti ini kadang tampak tidak masuk akal. Dan sepertinya banyak dari kita yang mengalami ketidak masuk akalan ini. Saya masih ingat masamasa awal bekerja. Gaji yang tidak seberapa besar itu dapat saya kelola dengan baik, bahkan sempat saya sisihkan menjadi tabungan. Rupanya ini hanya berlaku pada satu dua bulan awal saja. Ketika bulan berjalan, konsumsi meningkat, selera meningkat dan saya mulai tekor. Ketika gaji mulai naik, sempat kondisi keuangan membaik. Tapi lagi-lagi itu hanya berlaku beberapa bulan, selanjutnya kembali terperangkap dalam ketidak berimbangan pendapatan dan pengeluaran.

Seharusnya, ketika pendapatan naik, maka tabungan juga naik. Ini baru masuk akal. Dan seperti ini pulalah prediksi teori konsumsi dari ekonom terkenal John Maynard Keynes, 1936: konsumsi akan meningkat ketika pendapatan meningkat, tetapi tidak sebanyak kenaikan pendapatan. Teori ini sangat logis, jika pendapatan meningkat Rp1 juta, maka konsumsi juga akan meningkat tetapi hanya sebesar, misal, Rp600.000. Sehingga tabungan meningkat Rp400.000.

Sekali lagi pada kenyataannya tidak semua dari kita mampu berpikir logis sebagaimana prediksi teori konsumsi tersebut. Yang banyak terjadi, ketika gaji meningkat Rp1 juta, tabungan meningkat Rp0. Apa penyebabnya? Pola konsumsi. Ketika pendapatan seseorang meningkat, sebenarnya dia sudah merencanakan dengan rapi untuk mengerem konsumsi, sehingga terbayang tabungan meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Rencana tinggal rencana, program promo dari suatu pusat perbelanjaan bisa-bisa dengan mudah mengacaukan rencananya. Mumpung lagi murah, sekalian juga belanja untuk suami dan anak, sambil dalam hati berjanji setelah ini dan beberapa bulan ke depan tidak berbelanja lagi. Penelitian konsumsi oleh Profesor David Laibson dari Harvard (1997) mengindikasikan bahwa perilaku seperti ini dialami banyak orang. Beliau mengistilahkan dorongan gratifikasi instan (instant gratification). Dorongan ini telah menyebabkan keputusan seseorang menjadi tidak konsisten dengan waktu (time-inconsistent). Akibat dari gratifikasi instan tadi, besar kemungkinan kawan kita yang berjanji tidak berbelanja lagi beberapa bulan ke depan tadi, saat ini tengah kembali sibuk berbelanja.

Begitulah, sepertinya memang keputusan konsumsi tidak dibuat oleh homo economicus yang ultrarasional tetapi oleh manusia yang tindakannya bisa jauh dari rasional. Oleh karena itu saya harus mengakui keberhasilgunaan cara unik teman saya agar tidak semua penghasilan bulanannya habis terkonsumsi. Beberapa waktu lalu dia mengajukan pinjaman ke sebuah bank Rp50 juta. Bukan karena beliau butuh uang atau butuh modal. Ternyata uang Rp50 juta itu didepositokan!! Kini, selama dua tahun ke depan, gajinya harus dipotong Rp2,5 juta untuk membayar angsuran dan bunga. Aneh memang, meminjam uang untuk ditabung. Bagi Anda yang biasa berpikir rasional, tentu mengkritik cara teman saya ini. Bunga pinjaman pasti lebih tinggi dari bunga deposito, secara matematik cara ini tentu tidak menguntungkan, dia tombok.

Keputusan kawan saya ini tidak rasional, tetapi realistis. Dengan meminjam ke bank, maka dia ”dipaksa” untuk konsisten membayar angsuran setiap bulan. Dengan begitu konsumsi dapat ditekan pada level terendah, dan gratifikasi instan dengan mudah tertolak karena uang di dompet memang sudah kosong. Hasilnya, dua tahun ke depan pada rekening depositonya tersimpan Rp57 jutaan. Buah ’perjuangan’ mengendalikan hasrat konsumsi.

Kenapa tidak kita sisihkan saja setiap bulan Rp2,5 juta lalu kita tabung? Tentu akan lebih menguntungkan. Cara ini rasional, tetapi sering tidak realistis. Jika Anda yakin mampu konsisten, cara ini lebih menguntungkan. Masalahnya, berapa banyak dari kita yang mampu konsisten untuk ini? Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan