ThyssenKrupp Temukan Lift Bergerak Horisontal

Senin, 1 Des 2014 | Penulis: Nta

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Selama ini lift yang kita kenal, selalu berjalan vertikal: bawah – atas atau sebaliknya. Tapi dengan teknologi baru, lift bisa berjalan secara horisontal. Adalah time riset ThyssenKrupp, produsen material berbahan baja dan teknologi tinggi asal Jerman yang menemukan.

Diberi nama Multi, sistem lift baru ini juga tidak menggunakan kabel seperti lift “tradisional” yang kita tahu selama ini. Lift Multi menggunakan sistem Maglev, yaitu sistem magnet yang mendorong kabin lift bergerak. Teknologi Maglev sudah pernah diaplikasikan di Shanghai, satu dekade silam.

Ilustrasi

Ilustrasi

Menurut Patrick Bass, Head of Research and Development Elevator unit ThyssenKrupp, pada dasarnya lift Multi ini tidak beda dengan lift biasa. Kabinnya juga dimasukkan dalam satu kolom tabung tempatnya bergerak dan pengguna bisa keluar masuk di lantai yang dituju.

Cara kerjanya, ketika lift mencapai puncak shaft (lubang tabung lift), lift bergeser secara horisontal untuk kemudian bergerak turun di kolom yang lain. Jadi lift bergerak dengan konsep berputar (loop). Dengan konsep ini, maka dalam satu kolom bisa ada banyak kabin lift, sehingga tidak membutuhkan banyak shaft untuk banyak kabin. Untuk itu, kabin lift akan dibuat lebih ringan dan ThyssenKrupp mendesainnya dari bahan carbon composite.

Ilustrasi

Ilustrasi

Teknologi ini ditemukan sebagai jawaban atas makin jangkungnya gedung-gedung yang dibangun. Ditambah dengan desain arsitektur yang juga makin beragam. Gedung tidak lagi seperti persegi panjang, tapi ada desain yang meruncing, melebar atau seperti tumpukan kotak yang ditumpuk acak.

Semakin tinggi gedung, semakin banyak pula shaft yang dibutuhkan, karena semakin banyak orang yang harus diangkut. Itulah sebabnya, biasanya kabin-kabin lift dibagi per zona lantai, misalnya lantai-lantai di bagian tengah dan lantai-lantai di zona teratas. Dengan maksud agar waktu tunggu kedatangan lift tidak terlalu panjang, karena tidak banyak melakukan pemberhentian.

Gedung-gedung pencakar langit dunia, bahkan menyiapkan lift khusus ke lantai-lantai puncak berkecepatan tinggi. Lift tercepat di gedung pencakar langit yang pernah ada adalah di gedung Taipei 101 di Taiwan, yaitu bisa naik setinggi 16,8 meter per detik.

Lift dengan sistem Multi ini didesain memang hanya bisa mengangkat setinggi lima meter per detik. Tetapi dengan bisa berisi banyak kabin dalam satu shaft, membuat waktu tunggu bisa tidak terlalu lama. ThyssenKrupp merancang waktu kedatangan antar kabin hanya 15-30 detik, sehingga jumlah penumpang yang bisa diangkut pun akan lebih banyak. Tidak hanya itu, sistem ini juga didesain untuk menghilangkan efek tidak nyaman akibat tekanan yang biasa dirasakan oleh banyak orang ketika menggunakan lift berkecepatan tinggi.

Dengan lift tradisional yang menggunakan sistem kabel, dalam satu shaft hanya bisa satu kabin. Semakin tinggi gedung, semakin banyak shaft yang harus dibuat, artinya semakin besar blok utama di tengah bangunan yang harus dibuat. Nah dengan sistem Multi, hal-hal itu bisa ditiadakan. “Dengan teknologi ini, keterbatasan akan desain gedung-gedung tinggi bisa tersingkirkan dan gedung berdesain futuristik yang selama ini hanya dalam impian bukan tidak mungkin akan terwujud,” ujar Bass.

Teknologi ini memang masih baru dan ThyssenKrupp baru akan melakukan uji coba di gedung tinggi pada tahun 2016. Gedung uji coba itu setinggi 240 meter dan akan dibangun di Rottweil, Jerman. “Ini adalah teknologi yang menarik dan akan sangat mengubah industri desain dan lift,” kata Andreas Schierenbeck, chief executive elevator unit ThyssenKrupp.

Jejak ThyssenKrupp ternyata sudah diikuti produsen-produsen lain. Mereka kini juga sedang mengembangkan teknologi magnetic linear motors atau kabin lift banyak dalam satu shaft. Salah satunya adalah Hitachi, yang sedang mengembangkan paternoster-style concept.

 

(Sumber: Financial Times)

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan