Joshua PM Simandjuntak: Kita Sudah Lupa Cara Mencipta

Minggu, 14 Des 2014 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar, Yudis

Housing-Estate.com, Jakarta - Tidak seperti desain arsitektur yang berkembang pesat pasca krisis moneter 1998, dunia desain furnitur kita boleh dikata jalan di tempat untuk tidak mengatakan mundur. Kalaupun ada desain baru, lebih merupakan tiruan produk luar, bukan genuine hasil karya desainer lokal. Walhasil, sudah dibanjiri produk impor, kita tidak mendapat nilai tambah dari produk-produk itu. “Mebel hidup dalam interior, tapi perkembangannya tidak bisa mengikuti perkembangan arsitektur yang begitu cepat. Kita masih dalam tahap copy paste,” kata desainer mebel Joshua PM Simandjuntak (42).

Joshua PM Simandjuntak

Joshua PM Simandjuntak

Menurut prinsipal Zylia Design Studio (Jakarta) itu, karena bagian dari interioreksterior harusnya para perajin tidak sembarang membuat bentuk mebel tapi secara desain juga berkembang. “Jadi, suatu saat kalau melihat mebel buatan Indonesia orang bisa bilang, ini Indonesia banget lo,” jelas magister desain produk dari sekolah seni terbaik Royal College of Art (RCA), London (Inggris) itu.

Kenapa desain mebel kita tidak berkembang, padahal kultur perajin sudah hidup di masyarakat kita sejak lama dan keterampilan tinggi mereka diakui di mancanegara? Berikut perbincangan Yoenazh Khairul Azhar, Yudiasis Iskandar, dan fotografer Susilo Waluyo dengan pria yang lulus nomor satu dari Sekolah Desain Ravensbourne, Kent, Inggris, dan penerima beberapa penghargaan desain dari dalam dan luar negeri itu di kantornya di Rawamangun bulan Mei lalu.

Bagaimana sebenarnya dunia desain furnitur kita saat ini?

Perkembangan desain mebel sangat berhubungan dengan industrinya. Industri mebel kita cukup berjaya sebelum krisis 1998. Tapi, saat itu kekuatannya terletak pada tenaga kerja dan bahan murah. Jadi, yang kita jual murahnya, bukan desainnya. Kita hanya jadi tukang jahit, desainnya dari buyers. Pembeli senang karena kerja kita bagus, harganya murah. Sementara perusahaan-perusahaan yang mencoba menampilkan produk berbeda (hanya) melakukan modifikasi. Mereka pergi ke pameran internasional, lihat-lihat, kumpulin brosur, ubah sana sini, jadilah produk baru. Jadi, proses desain yang menciptakan added value sangat minim.

Apakah kita memang hanya bisa jadi tukang jahit?

Kita sebenarnya bangsa yang kreatif. Sejarah masyarakat kita adalah sejarah mencipta. Turun temurun kita bangsa yang dihormati karyanya (karena merupakan) karya orisinal. Mulai dari karya arsitektur seperti candi dan rumah tradisional, kriya besi seperti di Tegal, marmer di Tulung Agung, kulit di Solo–Yogya, batik di Pekalongan, kayu jati di Jepara, perak di Kota Gede, dan banyak lagi. Tapi, karena puluhan tahun tidak dikembangkan, kemudian nyaman (hanya) jadi pedagang yang menjual jasa membuat, kita terlena dan lupa cara mencipta. Belakangan seiring kebangkitan negara-negara tetangga terutama Cina yang bisa memberi harga lebih murah sehingga industri mebel kita terpukul, secara perlahan muncul kesadaran, kalau mau menang bersaing kita harus punya produk yang bagus dan unik. Keunggulan kita di situ. Ditambah concern pemerintah terhadap pengembangan ekonomi kreatif, kesadaran itu mulai berkembang.

Bagaimana dengan di negara-negara maju?

Di luar negeri seperti di Jepang dan Inggris profesi desainer produk berkembang sejak ratusan tahun lalu sampai sekarang. Mereka mencipta, bukan mencontek. Kadang yang dicipta bukan produk akhirnya tapi sistemnya. Jadi ada inventor, seperti kita pakai hape sekarang, awalnya Graham Bell yang ciptakan sistem suara jadi gelombang terus jadi suara lagi di ujung. Dari situ baru keluar model-model telepon sampai generasi ponsel seperti sekarang.

Sebaliknya kita perkembangannya terlambat. Misalnya, waktu dapat gelar sarjana desain mebel, orang bingung kok ada sekolah bikin mebel? Padahal, desain produk termasuk mebel adalah pekerjaan paling tua. Di museum kita bisa lihat tombak, artefakartefak, itu desain produk karena (dikerjakan dengan) berpikir, bagaimana membuat ujung tombak yang tajam, diikatkan pada kayu, kayunya tidak boleh terlalu panjang atau terlalu pendek supaya enak digunakan, awal munculnya pengetahuan ergonomi, dan seterusnya. Saya sendiri ambil spesialisasi desain mebel karena ini industri grass root, banyak perajinnya. Gampangnya kalau saya nggak jadi konsultan desain, punya modal sedikit, bisa panggil tukang bikin satu dua mebel, terus pasarin. Jadi, ini industri yang bisa dilakoni individual.

Kekurangan kita sebenarnya di mana?

Hampir tiap daerah punya kultur perajin. Jadi, kemampuan teknis dan pemahaman material jago. Orang luar juga mengakui. Kekurangan perajin kita kreatifitasnya. Kalau sudah biasa bikin begitu, begitu aja terus. Sulit berubah. Diminta bikin desain baru, kebanyakan malas atau bilang repot. Begini aja sudah laku, buat apa coba-coba? Entar kalau nggak laku gimana? Makanya kursi sekolah sampai sekarang begitu-begitu aja. Istilahnya, untuk apa bikin desain baru, toh Soeharto, SBY, semua menteri duduk di kursi kayak gitu juga jadi presiden, jadi menteri. Anehnya, industri mebel kita kalau ada partner luarnya, barangnya bisa lebih bagus. Apa tukangnya jadi lebih nurut?

Kekurangan lain, tidak mengikuti perkembangan pasar. Misalnya, bersama AHEC (American Hardwood Export Council) kita pernah melakukan semacam riset di Jepara, membuat hallway mirror (cermin untuk dinding lorong) apartemen, tempat menaruh barang-barang kecil seperti kunci, kartu, dan lain-lain. Jadi, kalau duduk ada fungsi kenyamanan, (hallway mirror), ini ada fungsi (mengakomodasi) kebiasaan sehari-hari (dalam meletakkan benda-benda kecil). Tapi, mereka tanya ini untuk apa, nggak kebayang sama mereka. Ada semacam disconnection antara apa yang mereka buat dengan fungsi kekinian furnitur. Mereka juga nggak ngerti ruang apartemen, kebiasaan hidupnya. Karena itu kemasan produknya juga tidak berkembang. Mereka biasa bikin heavy furniture. Padahal, untuk dimasukkan ke apartemen jalannya cuma service lift, berarti mebel harus knock down. Kebayang nggak gimana bawa tempat tidur besar yang ada burung garuda di kepalanya ke dalam apartemen?

Joshua PM Simandjuntak

Joshua PM Simandjuntak

Bagaimana menjembatani kekurangan itu?

Di situlah fungsi desainer. Dia harus memiliki pengertian yang cukup dari sisi produksi (perajin) dan pasar (kebutuhan). Dengan perajin rotan kita ngerti ada berapa jenis rotan, pola anyaman dan lain-lain. Misalnya, saya suka nggak ngerti, untuk table top orang pakai rotan bulet-bulet. La, itu narok barang di atasnya gimana? Akhirnya dilapisi kaca, jadi nambah cost, padahal idenya tadinya rotan aja.

Setelah mendapat gelar sarjana mebel, Joshua membuat studio sendiri di London sembari menyelesaikan S2 di RCA, sebelum bekerja untuk Fusion Studio dan Tom Dixon sebagai product developer. “Sejak awal saya selalu tertarik dengan (desain mebel untuk) industri. Karena itu waktu ada lowongan jadi product developer, saya masuk. Product developer itu jembatan antara desainer dan produsen,” kata pria yang tahu ada sekolah desain produk di Inggris dari seorang manajer perusahaan asing yang menjajaki bisnis dengan ayahnya yang konsultan engineering dan suka bikin mebel.

Sebagai product developer ia berkesempatan mendatangi beberapa negara Eropa untuk melihat pabrik-pabrik yang mau dan bisa memproduksi desain baru. Dari situ ia belajar bernegosiasi dengan pabrik dan meyakinkan mereka soal kelayakan produk dan lain-lain. “Semua itu tidak diperoleh di sekolah tapi dari pengalaman di lapangan,” ujar pria yang sejak kecil suka pelajaran prakarya dan setiap hari senang memperhatikan tukang di rumahnya yang dipekerjakan ayahnya membuat mebel.

Sekembalinya ke Indonesia tahun 2005 Joshua langsung terlibat dalam mendorong pengembangan desain mebel di sini bersama desainer produk lainnya. Mulai dari menjadi pembicara dan moderator dalam berbagai seminar dan workshop furnitur, menjadi juri lomba desain furnitur seperti Indonesia Furniture Design Competition (IFDC) versi AHEC (tahun ini sudah yang ketiga) dan International Young Design Entrepreneur Award yang diadakan British Council, mendirikan studio desain Zylia, sampai melansir brand sendiri: Karsa.

Melalui Zylia ia membantu pabrikan dalam soal desain. “Kita melakukan riset awal, pengembangan desain, dan presentasi mengenai model-modelnya. Proses sampling, produksi dan jualan, urusan pabrik,” kata Joshua. Salah satu desainnya yang diciptakan untuk sebuah pabrikan di Klaten (Jawa Tengah) memenangkan Penghargaan Emas dari Pemerintah RI dalam ajang Pemilihan Desain Terbaik Indonesia 2008 untuk kategori Furnitur. Sedangkan lewat Karsa ia mencoba membuat platform desain mebel yang baik, bersama desainer lain yang punya visi dan style yang sama tapi tidak punya kemampuan melempar produk ke pasar.

Apa sih sulitnya mendesain mebel?

Membuat desain populer sih gampang, sehari 10 juga bisa. Kita punya tim di (sebuah pabrik di) Klaten yang produknya diekspor. Setahun kita bisa bikinkan 348 desain sudah berikut prototipe. Yang berat itu menemukan desain baru yang punya nilai tambah tinggi. Ini risetnya panjang banget. Orang seperti saya heavy on research seperti itu. Barang-barang yang ada di sini (menunjuk beberapa prototipe kursi dan bangku di ruang kerjanya) semua berdasarkan riset. Kelihatannya simpel tapi risetnya setahun lebih. Proses desainnya bisa enam bulan, habis itu brainstorming team, sketsa, rendering, mock up, prototipe, baru sample sebelum dilempar ke industri.

mebel copy

Kayak kursi ini (menunjuk Iron Chair karya Herman Miller dari Jerman yang modern dan fleksibel di kantornya), langsung jadi iconic chair waktu keluar. Saat itu inilah kursi kerja yang memenuhi syarat, enak diduduki dan kuat, yang pertama pake bahan berongga, bisa dinaik-turunkan, maju mundur, tangannya bisa dilebarkan atau diturunkan. Ini risetnya panjang banget. Pertama keluar, bentuknya lain sendiri dan harganya mahal. Siapa yang berani jamin waktu itu bisa laku? Manager ke atas waktu itu pakai kursi berlapis kulit. Sekarang semua pakai yang seperti ini. Sekarang industri mana yang mau (menerima proses desain) kayak gitu? Mereka asal cepet. Jadi, sering ada (proses) yang dipotong (untuk menekan biaya), misalnya mock up-nya. Ini contohnya (menunjuk sebuah kursi). Supaya nggak mahal, dudukan atasnya kita pakai styrofoam dulu, kayunya kayu apa aja, jadi kalau mau didudukin mesti dipegangin. Mock up pertama malah kadang cuma kayu bulet, palang, terus tarok papan.

Apa pentingnya mebel didesain secara seksama?

Mebel itu produk yang kelihatannya mudah tapi sebenarnya cukup challenging, karena untuk digunakan langsung, membantu memudahkan hidup kita, bukan untuk dipamerkan. Misalnya, meja cuma kaki empat ditaruh papan sebagai top table, tapi kalau ketinggiannya salah, nggak enak banget, lamalama bisa bikin kita sakit. Lemari fungsinya storage (penyimpan), tapi kalau nggak ada gantungan padahal kita punya jas, terpaksa jasnya dilipet, nanti kalau mau pakai disetrika lagi. Atau mau masukin baju ke gantungan tapi mesti diangkat dulu karena celahnya sempit. Ngeluarin-nya juga begitu, gantungannya harus diungkit. Kebayang nggak sebelnya, padahal hanya kurang gantungan atau gantungannya ketinggian. Mebel dengan ukiran segala macam untuk simbol-simbol sih boleh saja, tapi kalau dipakainya nggak enak kan sayang. Milih-nya juga harus common sense. Untuk rumah tipe 36 misalnya, jangan ambil sofa gede, beli yang multifungsi. Jangan belagu pakai coffee table doang, mesti yang ada lacinya. Kalau udah tahu nggak enak, jangan beli. Jangan karena kelihatan keren, dibeli juga.

Apa yang bisa dilakukan untuk menaikkan kualitas desain produk mebel kita?

Kita coba pilah apa yang kira-kira mereka perlukan, termasuk soal perkembangan desain arsitektur, selera, dan tren desain di pasar global. Kita juga coba jajaki bagaimana pemerintah atau perusahaan-perusahaan besar bisa membantu membiayai program yang mengajarkan pengetahuan itu, bahkan sampai bantuan permodalan. Hal-hal seperti ergonomis dan lain-lain serahkan sama desainer. Perajin bekerja sama dengan desainer. Sementara sama pabrikan seperti yang di Klaten itu, kita berharap mereka tidak hanya minta desain yang salah satunya menang dalam Indonesian Good Design Selection 2008 itu, tapi juga berinvestasi dalam desain. Pabrik sebesar itu punya banyak bagian, tapi bagian desainnya belum ada. Kita minta dibentuk supaya (soal desain) jadi kultur perusahaan. Nggak mudah (awalnya meyakinkan pemiliknya) karena sudah terlanjur enak jadi tukang jahit. Mencipta itu takes time. Karena itu kontrak pertama kita lima tahun, harus mengubah kultur. Tahun pertama kita riset, bikin 348 desain. Kemudian baru diberi kepercayaan membangun tim desain. Tiap minggu kita hadir di sana, bergiliran sama partner saya, kita bertiga.

Bagaimana membuat jasa desain mebel lebih berkembang?

Sekarang mulai berkembang. Misalnya, Alfin Tjitrowiryo di Kemang, Leonard Theosabrata, sudah mulai dengan karya-karya yang diadopsi industri, nama mereka juga dipake untuk jualan. Kita sendiri ada sasaran ke proyek arsitek dan desainer interior serta end user. Tapi, memang keperluan mendesain mebel dengan rumah itu masih agak timpang. Jasa arsitek lebih mudah tampak untuk diperlukan, tapi untuk mebel orang belum familiar. Lagian apa orang mau mengambil beban fee design (hanya untuk seperangkat mebel) karena prosesnya seperti yang saya bilang? Makanya saya bikin Karsa. Kita yang konsep, lalu diproduksi sesuai konsep itu, tidak berdasarkan order personal. Harganya jadi lebih murah. Kita produksi sama teman lama aja, tidak dilempar ke industri. Sudah mulai ada interest dari teman-teman interior.

Sekarang kita sedang men-develop produk coffee table karya salah satu pemenang IFDC. Dia lulusan ITS Surabaya dan jadi dosen di Universitas Petra (Surabaya). Nggak punya waktu mengembangkan karyanya, padahal saya lihat produknya keren, dilelang, saya beli. Saya juga bikin website karsa.co untuk memasarkan produk. Kita lagi coba buat situs yang lebih interaktif. Di setiap produk kita ingin bercerita. Saya ingin push Karsa bisa menembus kualitas internasional, dan itu butuh kecerewetan. Saniharto (produk mebel buatan Semarang yang laku di pasar global) bisa rapi, saya ingin lebih bagus lagi.

Kita nggak mau sudah didesain, orang sudah kasih compliment, terus gara-gara craftmenship kita jelek, orang bilang, keren ya tapi kerjaannya nggak rapi. Jadi, tidak bisa asal pabrikan (memproduksinya), kita lihat dulu kualitas skill-nya. Harapannya dalam lima tahun kita sudah punya ritel, showroom-lah paling tidak. Dua tahun ke depan kita melengkapi koleksi dulu, smart marketing. Kita lihat beberapa brand tanpa showroom bisa merambah pasar global. Kayak Box Furniture di Kebayoran (Jakarta Selatan), cuma ikut pameran tapi sudah bisa ekspor. Itu karya sendiri, masih muda-muda desainernya.

Sekolah desain produk juga sudah banyak. Selain ITB ada UPH, Trisakti, ITS, Paramadina, Itenas. UI punya interior design yang ada mata kuliah mebelnya. Industri mebel kita juga sudah mulai bisa menerima pentingnya desain. Harapannya desain kita bisa lebih luas termasuk aksesoris. Produk impor nggak kita musuhin, ambil positifnya, untuk edukasi produk yang baik dan cara men-set harga. Pemerintah juga perlu bantu. Misalnya, Kementerian Perumahan punya program bangun seratus ribu rumah. Semua perlu kursi meja. Ajak desainer merancangnya. (Bisnis) rotan lagi nangis-nangis, kita bisa pakai rotan. Kalau pemerintah bisa bantu 5.000 set saja, itu sudah menghidupkan sebuah desa yang mati.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan