Pajak Pigouvian

Senin, 15 Des 2014 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Banyak aktivitas kita yang sebenarnya bersifat personal, dalam dunia yang makin padat ini menjadi tidak sepenuhnya personal karena mengait dengan pihak lain. Kegemaran Anda memelihara anjing adalah personal. Gonggongan hewan kesayangan Anda ini, terlebih di malam hari, bisa sangat mengganggu tetangga dekat. Bunga warna-warni yang Anda tanam memenuhi halaman bukan hanya membuat hati Anda ceria setiap kali memandang, ternyata banyak tetangga yang memperlambat jalan mereka ketika melewati rumah Anda. Mereka juga menyukai bunga-bunga itu. Yang pertama tadi adalah contoh eksternalitas negatif, sementara yang ke dua adalah eksternalitas positif.

Di sebut eksternalitas, karena letaknya berada di luar (eksternal) mekanisme pasar. Kesenangan yang Anda peroleh dari memiliki hewan piaraan tadi tentu berbiaya, yaitu biaya untuk membeli hewan tersebut, menyediakan makanan, membawa ke salon, dokter dan sebagainya. Ini adalah mekanisme pasar: Anda mengeluarkan biaya dan Anda memperoleh manfaat. Di luar itu ada ‘biaya’ lain, yaitu ketidaknyamanan tetangga Anda, yang tidak Anda bayar. Contoh lain tentang eksternalitas adalah dampak dari kemacetan lalu lintas. Tidak bisa dihindari, akan ada eksternalitas negatif dari kegiatan kita berkendara yaitu polusi. Kemacetan, melipatgandakan dampak negatif tadi.

Pemahaman tentang eksternalitas dari berkendara ini semoga memberi kesadaran bahwa dalam kegagahan dan keanggunan laju mobil kesayangan kita, bertebaran polutan bagi orang lain di sekitar, di sepanjang perjalanan. Ini egois. Semakin kaya, semakin banyak mobil yang dimiliki, semakin banyak pula polutan yang ditebar untuk orang lain. Sekali lagi ini egois. Kecuali, setelah membaca tulisan ini, Anda menyiapkan segepok uang setiap kali akan berkendara, kemudian menyebarkannya kepada orang di sekitar mobil Anda, di sepanjang jalan yang Anda lalui, sebagai biaya atau kompensasi dari pencemaran yang disemburkan knalpot mobil Anda.

Apa harus begitu? Tentu tidak.

Teori ekonomi telah memformulasikan berbagai macam solusi dari permasalahan eksternalitas negatif. Salah satunya adalah dengan mengenakan pajak, disebut Pajak Pigouvian. Mengambil nama ekonom pertama yang merumuskannya, yakni Arthur Pigou (1877-1959). Berbeda dengan pajak umumnya yang dirancang sebagai salah satu sumber pendapatan negara, Pajak Pigouvian semata-mata sebagai alat regulasi untuk menginternalkan eksternalitas. Pajak Pigouvian misalnya dikenakan pada setiap unit produksi dari suatu pabrik yang aktivitasnya menyebabkan polusi. Pengenaan pajak akan memaksa pabrik tersebut membatasi produksinya, sehingga tingkat polusi dapat terkendali. Pada saat yang sama, pendapatan dari Pajak Pigouvian dapat digunakan untuk meningkatkan fasilitas kesehatan bagi masyarakat di sekitar pabrik.

Analogi yang sama dapat diterapkan pada kendaraan bermotor, yaitu dengan mengenakan Pajak Pigouvian. Bentuknya bisa bermacam-macam, yang penting harus memenuhi konsepsi Pajak Pigouvian: semakin banyak memberi polusi semakin banyak membayar kompensasi. Salah satu contohnya adalah sebagaimana usulan Profesor N. Gregory Mankiw, dari Harvard, yang dimuat pada Wall Street Journal 20 Oktober 2006. Usulannya (waktu itu) adalah sudah saatnya Amerika meningkatkan pajak atas gasoline menjadi $1 per gallon, secara gradual minimal 10% per tahun selama satu dekade ke depan. Ini adalah Pajak Pigouvian. Di antara tujuannya adalah untuk mengatasi masalah polusi dan kemacetan. Karena pajak dikenakan pada setiap gallon gasoline yang digunakan, maka semakin banyak menggunakan mobil pribadi, otomatis akan semakin tinggi pajak yang dibayar. Semakin lama terjebak dalam kemacetan, semakin banyak bahan bakar yang digunakan, semakin banyak pajak yang di bayar. Yang berarti pula semakin banyak polusi yang Anda hasilkan, semakin tinggi pajak yang harus Anda bayar. Adil. Pajak Pigouvian yang dikenakan ini akan menjadi penyeimbang, mendorong masyarakat untuk membatasi penggunaan mobil pribadi secara rasional.

Pemerintah kita baru-baru ini juga mengisyaratkan akan mengeluarkan kebijakan yang bertujuan menekan laju kepemilikan kendaraan bermotor, menurunkan konsumsi bahan bakar, dan mengurangi kemacetan lalu lintas. Bentuknya, kebijakan yang dapat mendorong pemerintah daerah untuk menaikkan tarif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dari yang semula maksimal 5% menjadi 10%. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) juga akan naik menjadi maksimal 20% dan bersifat progresif (mempertimbangkan: jumlah kepemilikan, nilai jual kendaraan, usia kendaraan). Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor akan naik menjadi maksimal 10% bervariasi (mempertimbangkan kendaraan umum, pribadi dan jenis bahan bakar).

Anda, pembaca adalah juga pengguna kendaraan bermotor, silakan Anda memperkirakan apakah kebijakan ini nanti akan berhasil. Atau coba jawab beberapa pertanyaan berikut. (1) Misalkan, mulai 2009 Pajak Kendaraan Bermotor yang harus Anda bayar atas mobil Anda menjadi Rp7 juta per tahun. Mana yang lebih untung, menggunakan mobil itu sekali setahun atau setiap hari? (2) Ketika membeli mobil baru, Anda membayar BBNKB 15% dari harga. Mana yang lebih untung, mobil itu hanya Anda gunakan sekali saja setahun atau setiap hari? (3) Jika setiap liter bensin atau solar yang Anda beli ditambah pajak 10%, apakah ini membuat Anda berhenti mengunakan mobil dan beralih ke angkutan umum? Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan