Jay Subiyakto Museum dan Generasi BBM

Sabtu, 27 Des 2014 | Penulis: Yudis

Housing-Estate.com, Jakarta - Seperti penyair Goenawan Mohamad, arsitek Jay Subiyakto (52) juga sedih melihat minimnya pemahaman masyarakat soal budaya. Generasi sekarang misalnya, tidak mengerti pentingnya museum tapi malu bila tidak tahu Brad Pitt atau belum nonton Transformers. “Mereka nggak malu kalau nggak kenal Raden Saleh, nggak tahu Borobudur, mereka lebih memilih ke mal. Sama seperti anggota DPR-nya, kalau keluar negeri mana pernah mampir ke museum,” katanya saat berbicara dalam diskusi “Museumorphosis & Green Interior” yang diadakan Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) dan Asosiasi Museum Indonesia (AMI) di Jakarta, awal Juli 2012.

Jay Subiyakto wb

Anak mantan KSAL Laksamana TNI Subiyakto yang lahir di Ankara (Turki), 24 Oktober 1960, itu juga mengritik sikap malas berpikir orang kita dengan selalu mencari referensi dari luar. “Referensi luar boleh saja tapi tetap harus ada identitas (kita). Islam masuk ke sini begitu indah, tapi yang sekarang terjadi arabisasi. Saya kalau presentasi selalu referensinya dari Indonesia. Karena orang pada nggak ngerti (budaya), ide saya diterima. Kalau pakai referensi luar, mereka lebih jago, saya malah ditanya-tanya,” jelas arsitek lulusan UI yang lebih dikenal sebagai sutradara dan produser pertunjukan itu.

Mengenai museum, Jay mengaku telah berkeliling ke sejumlah museum di Indonesia. Semuanya sangat memprihatinkan. “Museum ibarat gudang tempat menyimpan barang usang. Kita tidak suka sejarah, tidak senang orang tua dan nenek moyang kita. Harusnya museum jadi landmark, sesuatu yang menarik,” ujar pria yang suka berpakaian hitam-hitam dan hobi fotografi itu. Ada budaya lokal diserap, tapi hanya dekoratif atau sekedar komoditas. Cerita wayang di TV contohnya, dibikin konyol sehingga hilang filosofinya. “Inilah era generasi menunduk (tidak peduli) karena sibuk ber-BBM (BlackBerry Messenger, Red),” katanya.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan