Pertumbuhan Ekonomi VS Kemiskinan

Selasa, 20 Jan 2015 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Menutup topik sebelumnya kita sampai pada pertanyaan: apakah iya seberapa majunya perekonomian benar-benar dapat diukur dengan (tinggi rendahnya) angka GDP? Atau dengan perkataan lain, apakah dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi memberi jaminan bahwa perekonomian sebuah negara semakin maju, semakin baik. Boleh jadi Anda merasa aneh bertemu dengan pertanyaan seperti ini. Mengingat begitu dahsyat dan meluasnya penggunaan angka pertumbuhan ekonomi sebagai indikator kinerja perekonomian suatu negara, suatu pemerintahan. Bahkan tidak sedikit pemimpin pemerintahan yang begitu khawatir akan terjungkal dari kedudukannya ketika angka pertumbuhan perekonomian negaranya merosot . Maka, tidak salah jika ada diantara Anda yang merasa tidak perlu dengan pertanyaan itu.

Marilah kita menengok sisi lain. Sejak berpuluh tahun lalu, hampir semua negara di jagat ini berlomba mengejar pertumbuhan ekonominya. Setiap pemimpin negara pemenang pemilu menargetkan angka pertumbuhan tertentu dalam masa pemerintahannya. Dan, hampir semua negara mengalami pertumbuhan ekonomi, tentunya dengan angka yang bervariasi. Lalu, setelah berpuluh tahun menikmati prestasi pertumbuhan ekonomi, sebagian negara berkembang menyadari, kenapa tetap saja banyak orang miskin di negaranya? Tidak sulit saya menyampaikan ini, karena Anda dan saya melihat ini di keseharian. Betul, Indonesia adalah salah satu negara yang mengalami hal semacam ini. Dan Indonesia tidak sendiri, ada banyak, sangat banyak, negara lain di dunia yang mengalami hal yang sama.

Maka, melihat angka pertumbuhan ekonomi, kita tidak cukup melihat ‘seberapa tinggi’ pertumbuhan, tetapi sebaiknya juga memperhatikan ‘bagaimana’ pertumbuhan itu dicapai. Bayangkan dua buah kelompok A dan B, masing-masing terdiri dari 100 orang anggota dan satu orang pemimpin. Kepada setiap kelompok diberikan modal Rp100 miliar untuk dikembangkan. Mari kita perhatikan strategi mereka. Kelompok A: mengingat ‘kemampuan’ masing-masing orang tidak merata, maka untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi, pemimpin kelompok A memilih mempercayakan Rp90 miliar modal tadi untuk dikembangkan oleh 5 orang yang benar-benar mempunyai kemampuan bisnis. Sementara sisanya Rp10 miliar dibagi kepada 90 orang lainnya untuk dikembangkan. Hasilnya, dalam setahun perekonomian kelompok A tumbuh luar biasa tinggi, 15%. Sementara kelompok B, dengan modal yang sama Rp100 miliar, dibagikan secara merata kepada 100 orang anggotanya, masing-masing Rp1 miliar untuk dikembangkan. Hasilnya, perekonomian kelompok ini dalam setahun hanya tumbuh 3%.

Silakan Anda untuk menjadi hakim, mana yang lebih baik dari dua kelompok tadi. Kelompok A berhasil mencapai pertumbuhan sangat fantastis, 15%. Tapi ingat, dari 15% pertumbuhan tadi sebagian besarnya dinikmati hanya oleh segelintir anggotanya yang lima orang tadi. Sedangkan 90 anggota lainnya hanya menikmati sangat sedikit dari pertumbuhan tersebut. Jika ini berlangsung berterusan, maka beberapa tahun kemudian, lima orang tadi berkembang menjadi sangat kaya, sementara sisanya yang 95 orang, tetap saja miskin. Kemudian lihatlah kelompok B. Modal dibagi merata, tetapi menikmati pertumbuhan yag sangat kecil, boleh jadi banyak juga orang miskin di kelompok ini.

Begitulah, dilema antara pertumbuhan dan pemerataan seperti ini dialami oleh sebagian besar negera berkembang. Tentu yang diinginkan adalah pertumbuhan ekonomi tinggi disertai distribusi pendapatan yang merata. Hanya, ini memang tidak mudah.

Dan kini, setelah berpuluh tahun berlomba mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sepertinya kita sampai pada kondisi yang menempatkan kita pada satu pilihan saja yaitu pertumbuhan ekonomi harus tetap tinggi. Karena, begitu pertumbuhan ekonomi rendah, permasalahan lain siap mengancam yaitu peningkatan pengangguran. Bahkan, tumbuhnya perekonomian yang diharapkan tidak sekedar tumbuh, tetapi tumbuh dalam ambang batas persentase tertentu. Kalau hukum Okun (diambil dari nama ekonom Arthur Okun) yang dipakai, maka ekonomi harus tumbuh di atas 3%. Di bawah itu tidak mempan mengurangi tingkat pengangguran. Berarti, ekonomi kita didorong untuk terus tumbuh, semakin besar angka pertumbuhan semakin besar pula pengaruhnya terhadap pengurangan pengangguran, dan sebaliknya.

Sepertinya, perlombaan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tetap akan berlangsung beberapa tahun ke depan (atau tidak akan pernah berhenti?). Jika tidak, Anda sebagai pemimpin negara akan dianggap gagal oleh lawan politik Anda. Ya sudah jika harus begitu. Semoga kita semua juga jeli menghitung ‘biaya’ untuk mencapainya: alam yang makin rusak. Dan semoga peningkatan pertumbuhan ekonomi juga seirama dengan peningkatan ‘kebahagiaan’. Bukankah itu yang sebenarnya dituju? Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan