Bagus Medianya, Sehat Tanamannya

Minggu, 25 Jan 2015 | Penulis: Yudis

Media tanam sama pentingnya dengan tanaman itu sendiri.

Housing-Estate.com, Jakarta - Mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim pernah menyatakan, di negara empat musim kita harus membuat rumah kaca untuk mengondisikan tanah atau media tanam agar layak ditanami. “Tapi, di sini seluruh Indonesia itu sudah rumah kaca karena subur semua,” katanya. Kendati demikian tetap diperlukan pengkondisian tertentu pada media tanam agar proses bercocok tanam bisa maksimal. Apalagi untuk tanaman hias di pekarangan rumah yang cenderung sulit dan mudah mati.

Taman

Nutrisi

Menurut Slamet Budiarto, Manager Operational Godong Ijo, nursery dan landscaper di Sawangan, Depok-Jawa Barat, media tanam yang bagus sifatnya tidak terlalu padat atau menggumpal. “Harus remah. Cirinya kalau kita genggam mudah rontok dan tidak menggumpal,” katanya. Kalau tanah di rumah masih terlalu padat, anda bisa mencampurnya dengan pasir agar lebih lunak.

Selain itu tanah sebagai media tanam merupakan tempat hidup tanaman. Karena itu zat-zat yang dibutuhkan tanaman juga harus tercukupi di medianya. Jadi, kita juga perlu menambahkan bahan organik, pupuk, dan zat penyubur lain pada tanah yang akan ditanami. Bahan organik berasal dari bahan hidup seperti tumbuhan, kulit buah atau sayur, dan lain-lain yang sudah mengalami proses pembusukan.

Pupuk bisa diambil dari kotoran hewan seperti sapi atau kambing. Sementara zat lain berupa nutrisi tambahan, untuk praktisnya bisa dibeli di nursery. “Yang penting bahan organik yang akan kita gunakan sudah siap. Kalau masih dalam proses pembusukan, sifatnya masih panas, kasihan tanamannya. Kotoran hewan juga sama, harus melewati proses pembusukan dulu, jangan langsung dipakai,” ujar Slamet.

Fathul Maki, Marketing Manager PT Istana Alam Dewi Tara, nursery dan landscaper lain di Depok, mengatakan tanah di rumah pada umumnya berupa tanah merah yang masih liat seperti lempung. “Biar oke sebagai media tanam, tanahnya harus digali, digemburkan, dicampur dengan kompos atau pupuk kandang. Setelah itu baru siap ditanami,” katanya.

Kalau mau sedikit repot kita bisa mencampur kompos (sampah organik yang sudah busuk), sekam bakar, pasir, cocopeat (serbuk sabut kelapa), dengan tanah. “Tidak ada campuran yang pasti. Campur aja semua. Kalau sudah remah (gembur), itu berarti sudah siap ditanami,” jelasnya. Kompos, pupuk kandang, dan nutrisi tambahan lain untuk media tanam bisa juga dibeli dan langsung bisa digunakan.

Penyiraman

Kalau medianya bagus, penyiraman tanaman tidak perlu terlalu sering dilakukan. Bahkan, untuk tanaman di dalam pot sebaiknya gunakan media tanam sekam dan cocopeat karena lebih oke menyimpan air. Jadi, tanaman tidak perlu sering-sering disiram. Bila kita menyiram pagi hari, saat siang tanaman layu, itu artinya airnya kurang. Khusus untuk tanaman di dalam pot bisa juga karena potnya sudah kekecilan.

Untuk tanaman di rumah dengan media tanam yang cukup baik, penyiraman cukup sekali sehari selama volumenya cukup. Cukup dalam arti resapan air di bawah tanah sudah memadai untuk tanaman melakukan proses respirasi dari akar. Malam adalah saat tanaman menghisap oksigen dan air. Saat matahari pagi muncul, sudah ada cukup air di batang dan daun untuk melakukan proses fotosintesis. Jadi, siram atau cukupi kebutuhan airnya ketika belum ada matahari.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan