Yang Masih Sering Dilupakan dalam Membuat Keputusan (Ekonomi) 2

Selasa, 3 Feb 2015 |

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Hal kedua yang sering dilupakan dalam membuat keputusan (ekonomi) adalah kesadaran untuk mengesampingkan sunk costs. Berbeda dengan opportunity cost yang pada Juni 2009 lalu kita diingatkan untuk mempertimbangkannya pada waktu membuat keputusan, sunk costs sebaiknya kita abaikan. Contohnya ketika Anda harus memutuskan untuk menggunakan bus atau mobil sendiri untuk perjalanan Bandung – Jakarta. Dengan catatan bahwa preferensi menyetir adalah indifferent, maka yang harus Anda bandingkan adalah biaya bus (misalnya Rp60.000), dibandingkan dengan biaya bensin, oli dan perawatan jika menggunakan mobil sendiri. Sementara biaya asuransi mobil dan bunga pinjaman (jika mobil tersebut masih kredit ke bank) adalah sunk costs. Betul, biaya asuransi dan bunga pinjaman pada kenyataannya memang harus kita bayar setiap tahun, dan jumlahnya juga tidak kecil. Namun, biaya itu sebaiknya kita abaikan dalam menghitung perbandingan biaya perjalanan dengan bus dan mobil pribadi. Kita pakai atau tidak mobil itu, tetap saja kita membayar biaya asuransi dan bunga pinjaman. Iya kan? Itulah sunk cost.

Hal ketiga, kita sering mengukur biaya – manfaat dalam angka absolut, bukan proporsinya. Kalau Anda ditanya, apakah sebuah televisi 21” merupakan hadiah yang menarik dari suatu pembelian produk tertentu? Sebelum menjawab menarik atau tidak, tentunya kita harus tahu dahulu produk yang dijual itu apa. Jika produk yang dijual adalah kulkas senilai Rp4 juta dan setiap pembelian kulkas Anda mendapat hadiah sebuah televisi 21”seharga Rp3 juta, maka tentu hadiah ini sangat menarik, karena nilai hadiah tersebut sekitar 75% dari produk yang kita beli.

Lalu apa komentar Anda jika produk yang dijual tadi adalah rumah type 90/180 seharga Rp450 juta? Saya masih ingat beberapa waktu lalu ada salah satu developer yang cukup terkemuka, mempromosikan produk rumahnya dengan iming-iming televisi setiap pembelian satu unit rumah. Kalau kita terjebak dalam besaran absolut maka boleh jadi kita tergiur dengan nilai hadiah yang seharga Rp3 jutaan itu. Tetapi jika kita berpikir dalam ukuran proporsi, maka hadiah TV atas rumah tadi hanyalah sekitar 0,6% dari nilai rumah yang harus kita beli. Apakah kita akan tergiur oleh hadiah Rp3 juta untuk memutuskan membeli rumah senilai Rp450 juta? Begitulah pentingnya berpikir dalam ukuran proporsi, bukan angka absolut, ketika membandingkan manfaat dan biaya.

Hal keempat, kita kadang kurang lincah kapan menggunakan angka rata-rata dan kapan menggunakan angka marginal. Ilustrasi berikut akan menguji apakah Anda termasuk kelompok keempat ini atau tidak. Misalkan saya memiliki usaha outlet handphone. Saat ini telah ada tiga outlet yang saya kelola dengan omset total per bulan Rp90 juta, atau rata-rata per outlet Rp30 juta. Biaya operasional per bulan untuk ketiga outlet tersebut adalah Rp60 juta, ini sudah termasuk sewa tempat dan gaji pegawai. Berarti rata-rata biaya per outlet adalah Rp20 juta per bulan. Ini tentu usaha yang lumayan, setelah omset dikurangi biayanya, rata-rata setiap outlet memberikan penghasilan bersih Rp10 juta per bulan. Jika demikian, saya merencanakan untuk menambah satu outlet lagi. Dengan empat outlet omset saya akan meningkat menjadi Rp96 juta per bulan. Gimana menurut Anda, apakah menambah satu outlet lagi sehingga menjadi empat outlet adalah keputusan yang tepat?

Hanya mendasarkan pada angka rata-rata omset dan rata-rata biaya, tidak cukup memadai untuk membuat keputusan yang baik. Mari kita buktikan. Hingga tiga outlet, usaha ini oke, rata-rata omset Rp30 juta per bulan dan rata-rata biaya Rp20 juta per bulan. Berarti omset masih di atas biaya. Jika kita tambah satu otlet lagi maka omset rata-rata adalah Rp24 juta perbulan (Rp96 juta dibagi 4 outlet). Berarti rata-rata omset juga masih di atas rata-rata biaya. Tapi ingat, keuntungan rata-rata sekarang turun drastis dari Rp10 juta menjadi Rp4 juta. Jadi, apakah sebaiknya menambah outlet keempat? Begitulah, kita belum memperoleh sandaran yang kuat untuk mengambil keputusan jika hanya berdasar pada angka rata-rata omset dan rata-rata biaya.

Jumlah Outlet Omset per bulan (Rp) Rata-rata omset (Rp)
0 0 0
1 45 juta 45 juta
2 72 juta 36 juta
3 90 juta 30 juta
4 96 juta 24 juta

Kita memerlukan konsep tambahan yaitu angka marginal. Marginal omset dan marginal biaya. Marginal omset adalah tambahan total omset sebagai akibat tambahan satu unit outlet. Marginal biaya adalah tambahan total biaya sebagai akibat tambahan satu unit outlet. Misalkan besarnya marginal biaya untuk menambah satu outlet adalah tetap, yaitu Rp20 juta, maka kini kita dapat membuat rekomendasi dengan lebih baik. Rekomendasinya adalah, sebenarnya kita tidak perlu membuka outlet ke tiga apalagi ke empat.

Jumlah Outlet Omset per bulan (Rp) Rata-rata omset (Rp)
0 0 0
1 45 juta 45 juta
2 72 juta 27 juta
3 90 juta 18 juta
4 96 juta 6 juta

Demikianlah, kerangka teori ekonomi membantu kita dalam membuat keputusan sehari-hari. Keputusan yang cepat dan lebih baik (he he). Heru Narwanto

Sumber bacaan:

  1. Robert H Frank, 2006, Microeconomics and Behavior, 6th Ed, McGraw Hill.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan