Adverse Selection

Rabu, 11 Feb 2015 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Dalam perjalanan mudik lebaran . Anda terjebak macet di suatu kota. Sambil tetap masih menyetir, Anda mencoba menemukan tempat makan yang oke untuk semua anggota keluarga. Berjajar rumah makan dan restoran, tapi Anda ragu untuk membelokkan mobil Anda. Ragu, tidak yakin apakah di restoran itu makanannya enak, apakah bersih dan higienis dan sebagainya. Tiba-tiba Anda melihat papan nama besar didominasi warna merah dan kuning dengan logo bentuk huruf M melengkung yang khas. Tanpa ragu, Anda arahkan mobil ke sana dan parkir. Anda tidak ragu sama sekali untuk masuk ke restoran ini, karena Anda tahu di manapun kota di Indonesia, menu yang disajikan McDonald’s sama. Ayam goreng, kentang goreng, burger, sama rasa, sama harga, sama tampilan outletnya, kebersihannya dan sebagainya.

Ini adalah satu contoh reaksi spontan seseorang ketika menghadapi pilihan yang ada unsur ketidakpastian (choice under uncertainty). Seseorang yang penghindar resiko (risk averse), akan memilih satu pilihan yang memiliki profil resiko terkecil. Boleh jadi restoran yang berada persis di sampingnya, menyajikan menu yang jauh lebih dahsyat dibanding McDonald’s yang terlanjur Anda pilih. Rasanya mantap, sajiannya khas kota di mana Anda singgah, bersih, tempatnya lebih cozy dan harganya sangat bagus. Tetapi itu tidak Anda pilih, karena Anda tentu berpikir: hal yang sebaliknya bisa terjadi, Bung!

Situasi ini banyak terjadi dalam keseharian, kita menghadapi situasi memilih dalam ketidakpastian. Ketika Anda harus menyeleksi pegawai, tidak ada jaminan bahwa yang kita pilih itu kompeten dan loyal. Memilih universitas, memilih dokter dan tempat berobat, juga ketika kita memilih saham untuk investasi dan masih banyak situasi lainnya yang sejenis.

Kata kuncinya adalah informasi. Kadang kita tidak mempunyai informasi lengkap tentang produk atau jasa yang akan kita beli. Informasi atas suatu produk barang maupun jasa seringnya tidak seimbang antara produsen dan konsumennya. Seorang dokter tahu persis seberapa hebat kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Tapi masyarakat di luar sana, tidak banyak yang tahu.

Bagi produsen yang cerdas, ketidakberimbangan informasi ini kemudian disiasati. Contohnya, McDonald’s tadi. Keputusan McDonald’s membakukan jenis makanan minuman yang dijual, rasa, bentuk harga diseragamkan, adalah langkah untuk memutus ketimpangan muatan informasi tadi. Maka, dalam kasus tadi, walaupun dari segi kehebatan menu McDonald’s kalah dari restoran yang tadi diceritakan, toh, pemenangnya adalah McDonald’s. Pada saat memutuskan pilihan tadi, Anda tahu persis seperti apa McDonald’s, sebaliknya Anda buta informasi atas restoran lain.

Ketidakberimbangan informasi atas barang atau jasa dapat menyebabkan apa yang dalam teori ekonomi disebut dengan adverse selection. Penjelasannya ya restoran samping McDonald’s tadi. Dia tidak dipilih padahal lebih hebat dan murah. Contoh lebih ekstrimnya adalah emas. Cobalah beli seuntai kalung emas di outlet emas ternama di Pondok Indah Mall. Belilah seuntai kalung emas putih seharga Rp15 juta. Tentunya ini emas asli. Segera setelah itu naiklah metromini atau angkot yang lewat di situ. Coba tawarkan kalung yang baru saja Anda beli tadi ke beberapa penumpang di sana. Tidak usah Rp15 juta. Coba Anda tawarkan Rp10 juta. Saya yakin tidak ada yang membeli. Tawarkan Rp5 juta. Saya masih yakin tidak ada yang membeli. Tawarkan Rp2 juta. Saya masih tidak yakin ada yang membeli. Kenapa? Saya yakin Anda tahu jawabannya. Itulah adverse selection.

Untuk menghindari pilihan yang terbalik (adverse selection) tadi, perlu adanya signaling. Produsen perlu mengirimkan ‘signal’ kepada konsumen bahwa produknya berkualitas. Toko emas membuka gerai yang mewah di mall. Mencantumkan gelar, sertifikat kursus, pengalaman kerja, penghargaan, pengalaman organisasi, pada dokumen lamaran kerja, adalah ‘signalling’ kepada perusahaan yang sedang Anda lamar bahwa Anda kompeten dan layak dipilih.

Produk real estate adalah produk yang potensial untuk tidak berimbang informasi antara pembeli dan penjual. Misalnya ada satu developer baru yang bersemangat menyampaikan pesan ke konsumen dengan cara cukup unik. Kesan ingin meyakinkan bahwa rumah yang dijualnya penuh dengan kualitas coba dikomunikasikan: pondasinya, strukturnya, rangka atapnya dan sebagainya. Hasilnya? Kita tunggu dan amati. Semoga cara yang diambilnya bisa mengatasi fenomena adverse selection. Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan