The Magic of Compounding 2

Rabu, 4 Mar 2015 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Semakin banyak yang memahami konsep The Magic of Compounding, maka keadaan akan semakin baik. Semakin banyak lagi yang memahami kemudian menerapkannya, semakin baik lagi keadaan. Bukan hanya keadaan per individu tetapi kita bersama secara kolektif.

Kalau Anda punya pengalaman tentang saudara, kerabat, kawan atau tetangga yang tiba-tiba kaya mendadak karena terima warisan dari orang tua atau leluhurnya, coba perhatikan yang terjadi beberapa tahun kemudian setelah dia kaya mendadak. Tidak sedikit yang kemudian lambat laun kekayaannya berkurang, berkurang, berkurang, bahkan ada yang kemudian ludes. Memang, tidak semua seperti itu, tetapi banyak contoh yang seperti itu. Tidak hanya di negeri kita, di banyak Negara di dunia ini banyak yang mengalami tragedi itu. Tragedi yang sama terjadi pada orang yang tibatiba terima undian besar, atau orang yang memperoleh pemberian. Saya yakin Anda dapat dengan cepat menyebut nama-nama yang pada suatu masa dulu begitu berjaya, kemudian di beberapa periode berikutnya Anda menjumpainya serba kekurangan.

Yang berikut menurut saya juga tragedi. Ketika masih kanak-kanak Anda punya pedagang keliling langganan? Tukang bakso atau mie ayam keliling misalnya? Perhatikan, saat ini ketika Anda sudah hampir menikah, Anda masih menjumpai dia keliling menjajakan bakso dan mie ayamnya di sekitar komplek rumah Anda. Hampir tidak ada yang berubah, gerobaknya, mangkuknya, mirip dengan lima belas tahun yang lalu. Saya menyebutnya tragedi bukan karena jenis pekerjaannya yang tukang bakso, bukan itu, tolong jangan salah. Yang membuat saya sedih adalah dia setiap hari harus tetap keliling, menjalani rutinitas yang sama sejak lima belas tahun lalu, karena kalau tidak istrinya tidak punya uang untuk belanja sehari-hari. Dan itu terjadi terus dan terus. Termasuk dalam contoh ke dua adalah teman kita yang sejak sepuluh dua puluh tahun yang lalu berangkat subuh pulang sore ke tempat kerja yang jika dia tiba-tiba sakit dan tidak bisa hadir kerja, maka keuangan kelurganya langsung ikut sakit.

Saat ini dua contoh di atas masih banyak terjadi di sekitar kita. Itulah kenapa, saya senang ketika ada yang tertarik membaca tulisan The Magic of Compounding sebelumnya. Karena kalau tulisan itu mampu dipahami, maka dua contoh di atas mampu dihindari. Tulisan itu memancing pemahaman paling dasar tentang investasi. Kita berusaha menciptakan surplus, salah satunya dengan cara tidak mengonsumsi hingga habis semua pendapatan. Selanjutnya memperlakukan surplus itu sebagai kapital investasi. Dalam contoh tulisan itu kita menyimpannya di bank, ini adalah bentuk yang paling sederhana dari investasi. Dalam prakteknya, surplus tadi dapat diinvestasikan dalam properti, warung misalnya, jadi teman kita tukang bakso tadi tidak lagi harus keliling, punya karyawan, surplus diinvestasikan lagi, tambah warung lagi di tempat lain, karyawan lagi, dengan demikian makin membesar dengan berjalannya waktu, sebagai mana uang Ika dalam tulisan The Magic of Compounding yang hanya Rp200.000 per bulan selama lima tahun yang berarti hanya Rp12 juta, telah berkembang menjadi Rp1,34 miliar atau berlipat hampir 112 kali.

Untuk menyempurnakan pemahaman, saya merasa perlu menjelaskan bagaimana menghitung angka-angka itu. Rupanya ini akan mempermudah pendalaman pemahaman. Begini penjelasannya. Dalam contoh itu bunga bank 10% per tahun. Berarti bunga per bulan adalah 10% dibagi 12, yaitu 0,83%. Uang Rp200.000 yang ditabung Ika pada bulan pertama, akan berbunga Rp1.660 selama sebulan sehingga pada akhir bulan pertama menjadi Rp201.660. Pada awal bulan ke dua Ika menambah tabungan Rp200.000 sehingga pada awal bulan ke dua uang dia menjadi Rp401.660. Bisa diikuti? Tolong ambil kalkulator Anda. Seterusnya, Rp401.660 ini berbunga 0,83% yaitu Rp3.334 sehingga di akhir tahun ke dua menjadi Rp404.994. Dan seterusnya, selama 5 tahun (yang jika dihitung menggunakan bulan, sebanyak 60 bulan). lihat ilustrasi 1.

Ilustrasi 1

Ilustrasi 1

Jadi, setelah secara rutin menabung Rp200.000 di bank denga bunga 10% per tahun, uang Ika menjadi sejumlah Rp15.471.053. Lihat ilustrasi 1. Jika Anda suka berhitung, ada cara cepat untuk menghitungnya, gunakan rumus: (((1+0,0083)^60)-1)/0,0083) kemudian kalikan dengan Rp200.000. Coba hitung, hasilnya: 77,3552647 X Rp200.000 = Rp15.471.053. Sama dengan penghitungan satu per satu sebagaimana table ilustrasi 1.

Selanjutnya uang Rp15.471.053 ini dibiarkan tetap di bank, hingga Ika berumur 65 tahun. Maka jika kita hitung bulan per bulan sebagai berikut. Lihat ilustrasi 2.

Ilustrasi 2

Ilustrasi 2tate

Kita juga dapat menghitungnya dengan sangat cepat menggunakan rumus sederhana. Dari umur 20 hingga 65 berarti 45 tahun, atau 540 bulan. Bunga 10% atau 0,83% per bulan. Maka: ((1+0,0083)^540) kemudian dikalikan Rp15.471.053. Hasilnya adalah: 86,79091803 x Rp15.471.053 = Rp1.342.746.893, sama persis dengan table ilustrasi 2, Microsoft Excel. Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan