Ketidakpastian, Kepastian, Moral Hazard

Rabu, 25 Mar 2015 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Kalau saja kita tahu pasti bahwa selama setahun ke depan tidak akan terjadi apa-apa pada mobil kita, tidak akan tabrakan, tidak akan tergores, tidak akan hilang dicuri, maka tentu kita tidak perlu mengeluarkan sekitar Rp5 jutaan untuk asuransi. Faktanya, saya, Anda, dan siapapun di dunia ini tidak punya kemampuan mengetahui secara pasti jalannya peristiwa mendatang. Hari esok ke depan adalah misteri. Oleh karenanya banyak orang yang merelakan Rp5 juta per tahun untuk membayar premi asuransi mobilnya. Itulah harga ketidakpastian. Dengan membayar Rp5 juta, selanjutnya ia merasa tenang hati. Kalau mobil penyok tertabrak, pihak asuransi akan membetulkan, kalau mobil hilang dicuri, pihak asuransi akan mengganti. Sebaliknya, jika selama setahun tidak terjadi apa-apa, ya sudah, relakan uang Rp5 juta tadi. Itu biaya membeli kepastian.

Setelah ini, coba Anda amati. Berapa banyak mobil kawan Anda yang diberi kunci pengaman tambahan, pada stir kemudinya, misalnya. Dan berapa banyak yang tidak. Lalu amati, mana mobil yang oleh pemiliknya diasuransikan dan mana yang tidak. Walaupun tidak 100% benar, kemungkinan besar mobil yang diasuransikan tidak diberi tambahan kunci pengaman. Sebaliknya, mobil yang tidak diasuransikan mungkin ditambah kunci pengaman. Jika ini benar, maka ini efek negatif dari penaklukan kepastian. Sadar atau tidak, sebagian besar manusia (tentu tidak semua), akan cenderung tidak hati-hati ketika semuanya menjadi pasti. Contohnya mobil tadi. Karena sudah diasuransikan, maka sangat mungkin pemilik menjadi cenderung tidak hati-hati. Tidak hati-hati ketika membawa, ah nggak apa-apa lecet, toh sudah diasuransikan, nanti tinggal klaim dan mulus lagi. Tidak hati-hati ketika memarkir. Hilang? Nggak apa-apa toh sudah diasuransikan, nanti tinggal klaim. Sekali lagi tidak semua berpikir begitu, tetapi proporsi yang seperti itu ada. Dan dalam teori ekonomi memang sudah diprediksi ada yang seperti itu. Istilahnya adalah moral hazard.

Dalam pekerjaan, moral hazard seperti itu juga mungkin terjadi. Coba perhatikan, secara umum mana yang lebih tekun bekerja pada jam kerja, karyawan kantor atau kuli bangunan. Berkelilinglah ke semua proyek pembangunan gedung di manapun Anda berada, lihatlah apakah ada kuli bangunan yang dudukduduk santai pada jam kerja? Atau dengan santai makan sarapan pagi pada jam kerja saat teman-teman kuli bangunan lainnya bekerja? Tidak ada. Mereka hanya akan lakukan itu di jam-jam tertentu sesuai aturan yang sudah ditetapkan mandor, jamnyapun dibatasi. Jika Anda betul-betul melihat ada yang melakukannya, maka kemungkinan besar besok atau beberapa hari kemudian kuli bangunan yang Anda lihat itu sudah tidak bekerja lagi. Sudah dipecat. Lalu, berkelilingnya ke kantor-kantor (swasta maupun pemerintah) pada jam kerja, mengulang pertanyaan sebagaimana untuk kuli bangunan: apakah ada pegawai yang duduk-duduk santai pada jam kerja? Atau dengan santai makan sarapan pagi, atau baca koran, atau chating di facebook pada jam kerja saat teman-teman pegawai bekerja? Saya rasa jawabannya ada, atau (maaf) ada banyak.

Tolong teman-teman jangan marah. Ini bukan persoalan kuli bangunan lebih baik dari karyawan kantor. Teori ekonomi bisa menjelaskan masalah ini. Kalau Anda mau menengok kembali ke bagian awal tulisan ini tentang sikap pemilik mobil yang sudah diasuransikan menjadi cenderung ‘sembrono’ dibanding mobil yang tidak diasuransikan, maka saya yakin Anda telah mendapatkan jawaban tentang perbedaan kinerja karyawan kantor dan kuli bangunan, dengan kerangka pikir ekonomi tentunya. Pekerja kuli bangunan kapanpun bisa dipecat oleh yang mempekerjakannya. Berarti ketidakpastian akan kelangsungan pekerjaannya sangat tinggi. Karena sewaktu-waktu bisa dipecat jika dinilai bekerja tidak sungguh-sungguh, maka mau tidak mau dia harus bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh. Jika tidak, maka besok paginya dia bisa kehilangan pekerjaannya. Karena begitu tingginya risiko kehilangan pekerjaan inilah maka dia harus bekerja sungguh-sungguh. Situasi ini sebagaimana pemilik mobil yang tidak diasuransikan. Dia harus hati-hati memarkir mobilnya, menambah dengan kunci pengaman, jika tidak mobil bisa amblas dicuri. Sementara karyawan, walaupun risiko dipecat tetap ada, tetapi proses tidak semudah kawan kita kuli bangunan. Karena itulah ada sebagian karyawan yang terjebak dalam moral hazard , terutama pada karyawan yang bekerja pada perusahaan atau institusi yang risiko kehilangan pekerjaannya sangat rendah, sebagaimana pemilik mobil yang sudah diasuransikan, cenderung sembrono.

Teori ekonomi dibangun oleh para pemikir melalui serangkaian pengamatan perilaku manusia dan melalui pengujian. Oleh karena itu prediksi teori ekonomi adalah gambaran umum, pada kenyataannya sangat mungkin ada yang tidak demikian. Semoga tulisan ini tidak membuat Anda marah, karena sebagai karyawan, toh Anda selama ini sangat tekun. Semoga ini menjadi pengingat bahwa situasi yang serba pasti, kalau tidak bijak menghadapinya justru menjebak kita pada moral hazard. Akhirnya kita harus terus bersyukur kepada Tuhan karena kita tidak tahu seluruhnya yang akan terjadi esok dan ke depan, dengan begitu kita makin terdorong untuk tetap tekun dan hati-hati. Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan