Menaklukkan Ketidakpastian

Rabu, 1 Apr 2015 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Kalau kita mau memerhatikan , dalam setiap dua puluh empat jam kehidupan manusia, sebagian besarnya berhadapan dengan ketidakpastian. Bukan untuk membuat saya dan Anda menjadi khawatir kalau tulisan ini saya buka dengan kalimat tadi. Kita beruntung karena hidup di zaman modern sekarang ini, mewarisi akumulasi hasil kreatifitas manusia dari generasi ke generasi sejak ribuan tahun lalu berupa penemuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu mengubah banyak ketidakpastian menjadi pasti (walaupun tidak seratus persen pasti). Kalau saja para pendahulu tidak menemukan minyak, gas dan listrik sebagai sumber energi, dan tidak ada pemerintah yang mengatur jalur distribusinya, mungkin kegiatan memasak sarapan pagi istri Anda tidak se’pasti’ tadi pagi: putar knop kompor, dan blup..! api menyala. Ini akan terulang esok, esok dan esok setiap hari, api akan terus menyala di setiap pagi memasak sarapan. Kondisi ketidakpastian seolah sirna, bahkan seolah tidak ada, terutama dalam benak generasi yang terlahir dalam era sekarang. Sejak bayi dan mampu melihat, yang mereka tahu untuk menyalakan api adalah putar knop kompor. Bagi sebagian besar mereka, tidak ada sesuatu yang istimewa dengan menyalanya api di setiap pagi.

Daya dan reka cipta dari generasi ke generasi telah berjasa mengubah sebagian besar ketidakpastian menjadi sesuatu yang lebih pasti, dan kita yang hidup di era ini tinggal menikmatinya. Anda yang mengalami masa remaja sebelum tahun 2000-an tentu masih merasakan kegundahan hati berhari-hari setelah mengirim surat cinta kepada seseorang. Bertanya-tanya, berharap, semoga surat tersebut tidak nyasar ke lain alamat, semoga sampai tepat waktu, semoga diterima langsung oleh ‘dia’, tidak disortir oleh ortunya, dan banyak ‘ketidakpastian’ lain berkecamuk. Itu bisa berlangsung berhari-hari bahkan berminggu, sampai kemudian Anda terima balasannya, barulah sebagian kepastian terjawab. Bandingkan dengan remaja sekarang, tulis sms, send.. dan beberapa detik dia sudah dapat konfirmasi bahwa pesannya terkirim. Tidak perlu menunggu dua minggu untuk tahu bahwa apa yang dia tulis sudah terbaca olehnya.

Dan apa yang kita lakukan saat ini setiap hari dua puluh empat jam, pada intinya adalah usaha menaklukkan ketidakpastian. Anda mungkin tidak setuju, tapi boleh Anda renungkan.

Kita rela setiap pagi mengantar anak ke sekolah, karena ingin kehidupannya di masa depan lebih pasti. Kita bekerja, jika penghasilan yang kita tuju, maka sejatinya kita sedang memastikan keterjaminan ketersediaan sarana hidup jiwa raga untuk kita, dan keluarga. Jika pengabdian, yang menjadi motivasi kita bekerja, maka pada intinya kita sedang berusaha memastikan bahwa kehidupan perusahaan, rakyat, bangsa atau negara yang kita abdi menjadi lebih baik. Lihatlah, memang hampir semua hal baik yang kita lakukan mengarah pada penaklukan ketidakpastian. Kru penerbitan sebuah majalah hampir setiap hari meninggalkan keluarganya, bahkan harus lembur hingga larut malam ketika mendekati tenggat waktu, untuk memastikan majalahnya telah sampai ke tangan Anda setiap awal bulan. Hampir semua hal yang kita kerjakan pada intinya adalah usaha mengubah yang semula tidak pasti menjadi lebih pasti. Dari hal yang paling sepele sampai urusan elit yang dilakukan pejabat tinggi. Bukankah yang dilakukan oleh para menteri pada intinya adalah upaya membuat sesuatu menjadi lebih pasti? Ada yang tugas pokoknya memastikan bahwa keuangan negara tersedia mencukupi untuk semua belanja nasional, ada yang tugasnya memastikan semua moda transportasi berjalan tanpa hambatan, ada yang tugasnya memastikan keamanan hari ini dan esok tetap terjamin, dan banyak lagi tugas mereka, dan sekali lagi, pada intinya adalah menjamin sesuatu menjadi lebih pasti. Disebut lebih pasti karena memang tidak seratus persen pasti. Manusia hanya mampu membuat menjadi lebih pasti.

Datangnya siang dan malam bergantian setiap hari, ini adalah kepastian yang dianugerahkan oleh Tuhan. Lihatlah, adakah daya dan reka cipta manusia yang memperbaiki urusan datangnya siang dan malam? Tidak ada. Tetapi kalau untuk mengetahui dengan lebih pasti apakah hari ini hujan, mendung, berawan, manusia mengerahkan daya ciptanya dalam bentuk ilmu meteorology klimatologi dan geofisika. Sekali lagi saya sampaikan manusia bekerja, berusaha, berupaya, bereka cipta untuk menghadapi ketidakpastian. Semakin maju peradaban, semakin banyak item ketidakpastian yang berusaha ditaklukkan. Sebaliknya, generasi manusia primitif hidup dalam ketidakpastian yang terbiarkan. Dari ilustrasi yang dapat kita baca dari banyak buku, manusia primitif hidup bertelanjang kaki, dengan rumah seadanya. Berbeda dengan manusia modern, ketika menembus hutan, ketidakpastian apakah kakinya akan tertusuk duri atau tidak, ditaklukkan dengan mengenakan sepatu pada kakinya. Ketidakpastian keselamatan bayinya dari gangguan binatang buas, ditaklukkan manusia modern dengan rumah berdinding tembok.

Begitulah, dari memastikan kakinya tidak tertusuk duri, hingga urusan kehidupan lain yang lebih ruwet dan rumit manusia dari hari ke hari, dari waktu ke waktu bergelut dengan penaklukan satu ketidakpastian ke penaklukan ketidakpastian lainnya. Seperti meminum air laut yang semakin membuat haus, sepertinya petualangan manusia untuk menaklukkan ketidakpastian tidak akan pernah berujung. Ketika satu item ketidakpastian berhasil ditaklukkan, muncul ketidakpastian lain, begitu seterusnya, dan kita asyik dengan tantangan-tantangan itu, hingga sampai ke suatu titik: kematian, sebuah kepastian. Kehidupan setelah kematian juga kepastian. Maka, tentu rugi, rugi, rugi sekali kalau kita sampai terlewat memastikan bahwa kita harus bahagia di sana. Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan