Gaji Pembantu Di Atas Rp1 Juta (Terlalu Mahalkah?)

Rabu, 8 Apr 2015 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Tidak mudah menentukan besaran gaji yang ideal. Jangan letakkan kita sebagai yang menerima gaji, tapi yang memberi. Saya yakin sebagian besar Anda mempunyai pembantu rumah tangga. Oleh sebab itu, kita ambil contoh: gaji pembantu rumah tangga. Berapa gaji yang ideal untuk seorang pembantu rumah tangga? Bagaimana kalau minimal Rp1 juta per bulan, terlalu mahalkah?

Tidak terlalu mahal, lebih dari itu lebih baik. Jika itu jawaban Anda dan Anda benar-benar membayar pembantu rumah tangga Anda di atas Rp1 juta, saya ucapkan terimakasih dan selamat. Anda termasuk dalam kelompok orang yang ‘sangat baik hati’. Jumlah orang seperti Anda ini tidak banyak, lebih tepatnya sangat sangat sedikit. Jumlahnya kurang dari 3% se- Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi.*) Sebagian besar kita membayar pembantu rumah tangga hanya sebesar antara Rp200.000 sampai dengan Rp400.000 per bulan. Yang seperti ini jumlahnya lebih dari 97%.

Melihat angka hasil survey itu, saya bisa simpulkan tawaran saya tentang gaji ideal pembantu rumah tangga Rp1 juta per bulan, tertolak. Buktinya, sebagian masyarakat kita hanya membayar sekitar Rp400.000, yang lebih rendah dari itu juga banyak.

Mari kita coba jelaskan kalau gaji Rp1 juta per bulan untuk seorang pembantu rumah tangga itu terlalu mahal. Beliau para pembantu rumah tangga itu biasa bangun pagi sekali, sebagian mendahului para majikannya. Sebentar kemudian sudah langsung bekerja, mulai soal cucian, membersihkan, memasak, bahkan ada yang mencuci mobil, dan sebagainya. Setelah rehat sebentar, mandi dll, tugas berlanjut belanja, menyapu, mengepel, seterika dan sebagainya. Setelah rehat siang, pekerjaan lanjutan menanti. Terlebih jika di rumah ada anak-anak majikan yang masih kecil, maka rentang macam tugas menjadi bertambah luas. Begitu hingga malam. Bahkan mau segera tidur pun belum tentu terlaksana karena menunggu bunyi klakson mobil untuk membukakan pintu dan sebagainya, lagi. Begitu berulang setiap hari. Jika hari Sabtu dan Minggu datang, dan majikannya menikmati libur di rumah, maka alih-alih lega juga menikmati liburan, Beliau para pembantu bertugas berlipat lebih sibuk dibanding hari biasa.

Sepertinya saya gagal menjelaskan kalau gaji Rp1 juta per bulan untuk seorang pembantu rumah tangga terlalu mahal. Gambaran pekerjaan para pembantu tadi justru mengarahkan bahwa gaji Rp1 juta terasa masih terlalu murah. Apalagi kalau kita mau ingat dengan terbebasnya cuci mencuci, maka tangan Anda para ibu jadi jauh lebih mulus, berkurangnya beban pekerjaan rumah tangga istri akan memberi peluang lebih leluasa pasangan untuk berdua-duaan, nilai Rp1 juta tadi menjadi semakin murah. Lalu kenapa hanya Rp400 ribuan, bahkan banyak yang di bawah itu?

Sebagian besar orang mungkin jawabannya begini. Kalau uang yang saya miliki berlebih, mungkin tak apa saya menggaji pembantu Rp1 juta sebulan. Kenyataannya adalah, penghasilan bulanan sudah terbagi-bagi untuk belanja harian, uang sekolah anak, cicilan rumah, cicilan mobil, dan sebagainya, sehingga jatah yang paling memungkinkan untuk pembantu hanyalah Rp400 ribuan tadi.

Begitu pulalah yang terjadi antara Anda dan perusahaan tempat Anda bekerja. Jika di rumah Anda adalah pemberi gaji. Ketika di kantor, Anda adalah penerima gaji. Selama bekerja, mungkin dalam hati Anda sering komplain dengan minimnya gaji yang Anda terima dari perusahaan. Di rumah tanpa Anda sadari hal yang sama terjadi pada pembantu rumah tangga Anda, dalam hatinya juga menjerit dengan minimnya gaji yang Anda berikan.

Persoalan penggajian ini, dalam buku teks ekonomi di bahas dalam bab Theories of The Firm. Dalam pandangan teori ekonomi neoklasik, perusahaan diidentikkan dengan wahana untuk memaksimalkan keuntungan. Karena itulah, penggajian karyawan adalah dalam rangka memaksimalkan profit. Seorang direktur akan memperoleh beberapa insentif dari perusahaan dengan harapan dia akan bekerja memaksimalkan keuntungan perusahaan. Jika dia tidak mampu memenuhi harapan pemilik perusahaan, maka direktur tadi akan dipecat oleh perusahaan. Demi menghindari pemecatan, direktur tadi tentu berupaya keras di dalam mengatur alokasi sumber, sehingga keuntungan perusahaan maksimal. Dalam prakteknya, terkait dengan alokasi sumber inilah direktur perusahaan menekan gaji karyawan dengan tujuan meminimalkan biaya sebagai bagian dari memaksimalkan keuntungan. Persoalan gaji pembantu rumah tangga, adalah potret kecil persoalan rumit itu. Jika Anda suami, maka istri Anda adalah direktur perusahaan yang harus berjuang mengatur dana yang Anda berikan sehingga menghasilkan pemanfaatan maksimal. Jika tidak berhasil, maka dia ibarat direktur yang gagal memaksimalkan keuntungan perusahaan tadi. Yang terjadi, gaji pembantu rumah tangga adalah item yang diminimalkan. Itu adalah keputusan intuitif sebagaimana air mengalir pada tanah cekung. Meminimalkan listrik, sulit, meminimalkan biaya sekolah, sulit, dan sebagainya, sulit, akhirnya gaji pembantulah yang terkorban diminimalkan.

Keputusan seperti itu sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Di tengah keterbatasan keuangan keluarga Anda, mungkin tidak ada salahnya Anda mencoba menjadi pioneer menggaji pembantu rumah tangga di atas Rp1 juta. Memperoleh gaji di atas rata-rata akan melipatgandakan semangat kerja pembantu Anda. Suasana rumah jauh lebih rapi dan bersih, anak Anda dirawat dan dijaga dengan sangat telaten. Anak Anda bahagia dan sehat sehingga memangkas biaya per bulan berobat ke dokter, perabot Anda dijaga dan awet sehingga dalam jangka panjang menekan biaya pembelian barang, suasana rumah tangga Anda yang rapi membuat Anda semakin harmonis dengan pasangan, sehingga bekerja makin giat, penghasilan Anda meningkat jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Alhasil, manfaat yang Anda peroleh jauh lebih tinggi dari Rp600.000 (tambahan pengeluaran untuk menaikkan gaji pembantu dari Rp400.000 ke Rp1 juta). Jika ternyata pembantu Anda tidak bekerja maksimal, maka rumah tangga Anda adalah idola dan incaran para calon pembantu, disebabkan gaji yang Anda tawarkan jauh di atas rata-rata. Anda mungkin tidak kesulitan untuk memperoleh seorang pembantu terbaik. Heru Narwanto

Begitupun perusahaan, meminimalkan gaji karyawan belum tentu tepat, berani memberi lebih pada karyawan belum tentu salah.

*) Diintrepetasi dari Survey ILO (International Labour Organisation), Rumpun Gema Perempuan (RGP) dan Rumpun Tjoek Njak Dien (RTND), 2008

Sumber bacaan:

  1. Kreps, David M, 1990, A Course in Microeconomic Theory, Princeton University Press.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan