Iwan Suprijanto Pelihara Arsitektur Tradisional

Minggu, 12 Apr 2015 | Penulis: Yoenazh Khairul Azhar

Housing-Estate.com, Jakarta - Sebagai peneliti utama bidang perumahan di Puslitbang Permukiman PU, Iwan Suprijanto memberi perhatian besar terhadap arsitektur rumah tradisional. Bukan untuk mengusapusapnya sebagai peninggalan masa lalu tapi mempelajari desainnya untuk diterapkan di masa kini. “Arsitektur tradisional itu menghargai alam baik dalam bahan, desain, maupun bentuk bangunan. Jadi sangat green,” kata Sarjana Arsitektur Unibraw Malang ini. Misalnya, bahannya kayu atau bambu yang mudah didapat di daerah setempat, atapnya sirap yang mempertahankan suhu di dalam rumah tetap stabil.

Iwan Suprijanto

Iwan Suprijanto

Sebagai bentuk kecintaan terhadap arsitektur tradisional itu, saat menjadi Kepala Balai Pengembangan Teknologi Perumahan Tradisional di Denpasar, Iwan terlibat membantu rekonstruksi rumah adat Mbaru Niang di kampung adat Wae Rebo, Manggarai, NTT, yang terancam punah. Ia memotret, memvideokan, menseminarkan, dan mempublikasikannya. Arsitek Yori Antar mendengar dan merekonstruksinya dengan dukungan sejumlah sponsor. “Kita membantu riset justifikasi bahan, struktur, ukuran, dan lain-lain,” kata inisiator Paguyuban Peduli Arsitektur Nusantara (Papan) itu. Tahun 2012 rumah adat itu mendapat UNESCO Award of Excellence.

Magister Arsitektur UGM ini juga membuatkan rumah contoh adat Sasak di Desa Wisata Sade, Rembitan-Lombok Tengah, NTB, yang kini menjadi pusat informasi wisata. Kalau ada rumah yang rusak, rumah contoh itu bisa menjadi acuan perbaikan. Rumah contoh serupa yang kini menjagi homestay dibikinkannya untuk rumah adat Bena di Ngada, NTT. Kabid Program dan Kerjasama Puslitbang Permukiman ini juga membantu mengganti atap rumah tradisional di Panglipura, Bali, dengan atap serupa yang lebih kuat hasil riset Puslitbangkim.

“Kelemahan rumah tradisional itu over design karena dibangun berdasarkan pengalaman empiris. Dengan bantuan teknologi kita bisa menerapkan desain yang efisien. Misalnya kita pakai bambu atau kayu biasa yang sudah direkayasa menjadi sekuat kayu kelas satu. Jadi tak perlu menebang hutan. Sayangnya selama ini kita tidak menjadikan riset sebagai acuan sehingga arsitektur tradisional ditinggalkan,” kata pria kelahiran Malang, 30 September 1971, ini.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan