Ukuran Apartemen Mewah di Tiongkok Makin Kecil

Rabu, 6 Mei 2015 |

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Pasar properti Tiongkok yang sedang melemah, tidak membuat para pengembang kehilangan akal untuk terus bisa jualan. Para pengembang yang menyasar kelas atas kini menawarkan unit apartemen dalam ukuran lebih kecil. Jika sebelumnya berukuran di atas 200 m2, sekarang tidak lebih dari 140 m2. Hal ini tak lain agar  harga jualnya bisa lebih terjangkau. Maklum, harga apartemen di sejumlah daerah primer di Shanghai, masih selangit. Di pusat kotanya dan Huangpu, area pinggir pantai, misalnya satu unit berukuran 200 m2 dipatok seharga 25,33 juta dolar Hong Kong atau sekitar Rp 42,65 miliar.

“Harga rumah sangat mahal dan makin sedikit orang yang sanggup membeli seharga 15-20 juta Yuan (Rp32 – 42 miliar),” kata Albert Lau, Kepala Kantor Savills Property Services – Tiongkok. Dengan harga setinggi itu, imbuh Lau, para pengembang hanya bisa menjual 3-4 rumah mewah, sehingga memunculkan pertanyaan bagaimana perusahaannya bisa untung  dan bertahan hidup.

Ilustrasi: Apartemen di Shanghai

Ilustrasi: Apartemen di Shanghai

Salah satu contoh proyek yang sudah memperkecil unitnya adalah Fuxing Royale di kawasan komersial Xintiandi. Proyek ini hanya menawarkan 31 persen dari 183 unitnya yang berukuran lebih dari 140 m2, sisanya kurang dari 90 m2 (satu atau dua kamar tidur). Harga pasaran di daerah tersebut adalah 80.000 yuan per m2 atau Rp168 juta per m2, jadi untuk unit berukuran 90 m2 bisa dijual seharga Rp15 miliar.

Sejatinya tidak ada definisi yang pasti sebuah unit rumah atau apartemen di Shanghai disebut mewah atau bukan. Tetapi secara umum, unit yang bisa dimasukkan dalam kategori tersebut jika harganya minimal 50.000 yuan m2 atau Rp105 juta per m2.

Pengecilan ukuran unit tersebut adalah juga cara pengembang mengakali aturan pajak kenaikan nilai properti dan batasan kepemilikan rumah oleh para orang kaya. Apalagi dalam rangka mengendalikan harga, sejak dua tahun yang lalu pemerintah Tiongkok menerapkan pembayaran uang muka yang lebih tinggi, guna membatasi pembelian bermotif investasi.

Menurut Zhou Liping, a high-end property specialist dari agen properti Dooioo Real Estate,  tekanan terhadap pasar poperti mewah terutama dari batasan pembelian. Berdasarkan peraturan muktahir, setiap pasangan warga Shanghai hanya boleh punya dua unit rumah. Jika penduduk Tiongkok Daratan non warga Shanghai mau punya rumah lagi, harus sudah menikah dan bekerja di kota ini minimal satu tahun. Itu pun hanya boleh tambah satu unit.

Menurut Chen Yanbin, China Index Academy, tahun lalu unit rumah mewah yang berukuran lebih dari 140 m2 dan berharga di atas 50.000 yuan per m2, hanya 23 persen dari seluruh transaksi properti di Shanghai. Angka tersebut sudah turun 10 persen dibandingkan data tiga tahun yang lalu. Harga yang paling banyak dibeli saat ini berkisar 5-8 juta yuan (Rp10,5-17 miliar) atau 50.000 – 70.000 yuan per m2 (Rp105 – 147 juta per m2).

Saat ini pasar properti mewah memang sedang paceklik, tapi para pelaku pasar optimistik kalau dalam beberapa tahun ke depan pasar akan membaik. Pasar rumah seluas 200-250 m2 akan kembali dicari. Sebab, “Rumah berukuran kecil tidak cocok bagi gaya hidup orang kaya, apalagi dengan status sosialnya,” tandas Jenny Wu, analis properti dari DTZ cabang Tiongkok Timur.

(Sumber: South China Morning Post)

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan