Gloria Imam Soepardi Langsung Praktek Dari “Zero”

Minggu, 17 Mei 2015 | Penulis: San, Yoenazh

Housing-Estate.com, Jakarta - Tidak harus punya latar belakang arsitek, teknik sipil, atau pemborong untuk menjadi developer real estate. Ibu rumah tangga pun bisa. Yang penting punya komitmen, daya juang, semangat belajar, dan modal. Gloria (60) contohnya. Setelah menikah awal tahun 70-an ia praktis hanya mengurus rumah tangga. Perempuan berdarah Italia–Sunda yang semula gaul ini juga tidak dilibatkan dalam pengelolaan PT ISA Kontraktor, perusahaan bentukan suaminya Imam Soepardi. Tapi, enam tahun setelah Imam wafat tahun 1995, ibu enam anak ini membuktikan bisa mengembangkan proyek real estate yang baik.

Gloria Imam Soepardi

Gloria Imam Soepardi

Sekarang proyek itu, Casa Goya Park Residence (11 ha) di Jalan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sudah masuk pengembangan tahap dua. Tahap pertama (5,5 ha) berupa 170 rumah tapak (landed house) bergaya modern klasik untuk kalangan atas sudah habis terjual. Sejak tahun lalu dilansir pengembangan tahap dua (4,5 ha) The Gianetti berisi apartemen enam menara berikut fasilitasnya. Saat ini dipasarkan dua menara mencakup 500 unit hunian yang sudah laku 70 persen dan mulai dibangun.

Gloria yang mewarisi banyak tanah di lokasi strategis di Jakarta dan beberapa kota lain dari suaminya, tidak menyia-nyiakan aset itu dan mengembangkannya menjadi bisnis yang menguntungkan. “Awalnya saya tidak tahu harus berbuat apa terhadap tanah-tanah itu, karena sejak menikah full ngurus rumah tangga,” kata perempuan kelahiran Bogor, 30 Januari 1952, ini.

Tapi, didorong motivasi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya yang masih remaja, alumni SMA Regina Pacis (Bogor) ini memutuskan mengelola kekayaan itu menjadi sebuah usaha properti. Untuk itu Gloria tak sungkan sekolah lagi di sebuah institut bisnis di Jakarta selain belajar dari orang yang tahu. Ia kemudian juga memanggil pulang putranya Goyantara yang kuliah di Jerman untuk membantu.

“Jadi, saya belajar bisnis sambil jalan. Langsung praktek dari zero, tidak banyak teori,” ujar sarjana biologi dari Universitas Padjajaran (Bandung) ini. Sebagian tanah dikembangkannya menjadi real estate, sebagian lagi di kawasan elite seperti Menteng dan Kebayoran Baru (Jakarta) serta Dago (Bandung) disewakan. Di Casa Goya ia bahkan terlibat sampai ke tahap penentuan model dan warna rumahnya. “Di daerah sini banyak orang Tionghoa. Karena itu saya pengen rumahnya model Eropa. Alhamdulillah orang suka,” katanya.

Kendati berasal dari keluarga berada, mantan Ratu Pariwisata 1971 dan Ratu Fotogenik 1970 ini juga berpenampilan sederhana dan tidak suka foyafoya. Ia pun keras hati. “Mungkin karena didikan papi yang streng dan melihat kehidupan keluarga mami,” tukasnya. Papinya yang keturunan Italia adalah mantan administratur perkebunan teh di Puncak (Jawa Barat), sedangkan maminya orang Sunda asli dari keluarga sederhana.

Sekarang bisnis perempuan yang aktif berorganisasi di REI, IWAPI, Kadin, Yayasan Stroke Indonesia, dan lain-lain ini tak hanya Casa Goya, tapi juga hotel budget di Jakarta dan Yogyakarta, townhouse dan rumah sewa elite, serta apartemen enam menara di Jakarta dan sekitarnya. Ia sudah melepas sebagian kendali bisnis itu kepada anak-anaknya. “Kini saya hanya komisaris, penasihat. Anak saya dan timnya yang aktif,” kata Gloria.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan