Kota, Kemacetan, Eksternalitas

Rabu, 3 Jun 2015 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Tahun 1850, warga kota Boston cukup berjalan kaki untuk pergi ke tempat kerjanya Pada masa itu Boston adalah ‘a walking city’. Dengan radius kota yang hanya dua mil, penduduk yang bertempat tinggal di paling pinggir kota, dapat mencapai pusat kota dengan ‘berjalan kaki’ dalam waktu tidak lebih dari satu jam. Pada 1860- an, sarana transportasi berupa kereta ditarik kuda pada jalur rel mulai diperkenalkan. Akibatnya, luas kota meningkat. Radius kota Boston menjadi dua setengah mile pada 1872 dan menjadi empat mile pada 1887. Pada dekade 1890-an, kereta kuda digantikan oleh trem listrik yang dapat melaju dua kali lebih kencang dan membawa penumpang tiga kali lebih banyak. Hasilnya, radius kota Boston meningkat menjadi sekitar 6 mil dan luas kota meningkat sembilan kali lipat. Ini adalah sebuah contoh yang secara gamblang menjelaskan pengaruh teknologi transportasi pada keluasan kota.

Proses seperti ini terjadi hampir di seluruh kota di dunia, termasuk kota-kota di Indonesia, Jakarta salah satunya. Beberapa puluh tahun lalu orang tentu enggan jika harus tinggal di Cibubur atau Serpong sementara dia bekerja di kawasan Jalan Sudirman. Pada masa itu kawasan tersebut berada di luar radius kota. Hari ini, Cibubur atau BSD adalah kawasan residensial yang diminati. Orang harus punya kemampuan finansial tertentu untuk dapat tinggal di sana.

Perkembangan moda transportasi telah membuat ukuran kota-kota di dunia membengkak jauh lebih berlipat dibanding kota Boston periode tahun 1850 ke tahun 1890. Batasan pinggir kota di mana lokasi tempat tinggal terjauh yang masih dapat terjangkau tidak lagi diukur dari ‘panjang’ jarak tempuh, kini bergeser pada ‘waktu’ tempuh.

Tahun 2007, hampir semua warga kota Jabodetabek harus menggunakan bus, kereta api, mobil atau motor untuk menuju tempat kerjanya.

Ke tempat kerja, nama dan hakikinya sama sekali tidak berbeda untuk tahun 2007 ini dibanding dengan yang dilakukan warga Boston tahun 1850. Keduanya tetap saja sebuah keputusan personal, yaitu memindahkan tubuh dari tempat di mana bertempat tinggal dengan keluarga ke tempat di mana dia bekerja.

Pada sisi lain dua kegiatan itu kini mempunyai dimensi yang berbeda. Kita akan lihat perbedaannya. Pagi ini, kita duduk dengan nyaman di dalam mobil kita di dalam perjalanan ke tempat kerja. Sementara kita duduk nyaman, mobil kita tiada henti mengeluarkan gas buangan yang mencemari. Di luar sana, orang lain yang sama sekali tidak terkait dengan urusan kita harus ikut menghirup senyawa yang tidak baik untuk kesehatan itu. Orang lain, tua, muda, bahkan bayi yang baru lahir harus turut menanggung dampak negatif dari kegiatan personal kita, ke tempat kerja. Jika dampak polusi yang terus menerus itu menyebabkan orang lain harus ke dokter, kita tidak turut menanggung biayanya. Tahun 1850 di Boston dalam cerita awal kita tadi, hal seperti ini tidak terjadi.

Dalam keseharian kita sekarang ini, di samping biaya membeli bahan bakar, cicilan mobil, service dan lain-lain, dalam kegiatan kita bertransportasi ada biaya lain tetapi tidak kita bayar yaitu pencemaran yang diderita orang lain (yang, sekali lagi, mereka sebenarnya sama sekali tidak terkait dengan kita, dan tidak berbuat yang merugikan kita tetapi harus menanggung kerugian). Dalam jargon ekonomi, dampak seperti ini disebut eksternalitas. Disebut eksternalitas, karena letaknya yang berada di luar mekanisme pasar. Begini penjelasannya. Kalau kemarin sore Anda potong rambut ke salon, untuk memenuhi kepentingan pribadi Anda agar tampil rapi, Anda sebenarnya telah mengorbankan waktu petugas salon, yang jika tidak memotong rambut Anda mungkin dia asyik bercengkrama dengan anak kesayangannya. Tetapi dalam contoh ini petugas salon mendapatkan gaji dari pemilik salon, yang tentunya uang gaji tersebut sebagiannya berasal dari biaya potong rambut yang Anda bayarkan. Dalam kegiatan potong rambut ini beberapa pihak: Anda punya kepentingan (pribadi) untuk tampil rapi, pemilik salon punya kepentingan (pribadi) untuk memperoleh keuntungan dari bisnis salonnya, petugas salon punya kepentingan (pribadi) atas penghasilan. Masing-masing pihak mempunyai tujuan pribadi, dan bertemu dalam titik saling menguntungkan. Mekanisme pasar berjalan baik. Tidak ada eksternalitas.

Kembali pada topik ke tempat kerja. Menyadari udara kita sudah tercemar polusi, secara intuitif kita berkeinginan menghindarinya. Berupaya punya mobil, dan menutup rapat-rapat kaca mobil sepanjang perjalanan. Ternyata orang lain juga berpikir sama. Dan semakin banyak orang berupaya memiliki mobil. Dan kota kita semakin macet. Kini setiap hari kita menebar polusi semakin banyak karena waktu berkendara kita semakin panjang akibat kemacetan. Dan kita semakin banyak memberikan kerugian pada orang lain. Eksternalitas dari kemacetan yang secara kolektif kita ciptakan ini, bukan hanya berupa polusi udara, tetapi juga kehilangan kenyamanan anak-anak kita untuk berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah, dan yang tidak kalah ruginya adalah kehilangan jam kerja produktif akibat lamanya waktu perjalanan.

Kita mungkin seorang kaya raya secara finansial. Kita telah lunasi semua hutang kita pada setiap orang, sehingga tidak satu sen pun kita berhutang pada orang lain. Sayangnya, kita tidak bisa menemui setiap orang yang menghirup pencemaran dari mobil kita. Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan