Hiper Inflasi

Jumat, 7 Agu 2015 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Kita berharap dan berdoa, semoga situasi yang diistilahkan dengan “hiperinflasi” tidak akan pernah terjadi di Negara tercinta kita, Indonesia. Saya mencoba mencari topik lain, tetapi hati saya tetap kuat memilih ini untuk saya bagi kepada Anda. Bulan Desember 2014 lalu, ketika menulis tentang seigniorage, saya sedikit menyinggung situasi hiperinflasi di Zimbabwe periode 2008-an. Semoga Anda masih ingat dengan tulisan itu: pada suatu waktu harga roti tawar di Zimbabwe bisa mencapai Z$500juta.

Berikut ini saya akan menyampaikan cerita yang lebih lengkap, bagaimana situasi hidup dalam kondisi hiperinflasi, bukan hanya di Zimbabwe, tetapi juga di Jerman dan Bolivia. Saya mulai di Zimbabwe. Jam 2.20 tengah malam Rose Moyo (29 tahun), warga Zimbabwe, bersama suaminya berangkat ke bank untuk antri mengambil uang. Sepagi itu tiba di bank, dia mendapat nomor antrian 29. Kenapa tidak ke ATM saja? Dalam situasi hiperinflasi, ATM tidak beroperasi, kartu kredit tidak beroperasi. Jangan dikira kita bisa mengambil uang sejumlah yang kita mau ketika mengantri di bank. Jumlah yang dapat diambil tiap orang dibatasi sejumlah tertentu, secara nominal jumlahnya sangat kecil, padahal harus antri berjam-jam. Oleh karena itu, yang dilakukan Rose Moyo dan masyarakat Zimbabwe lainnya adalah: hari ini mengantri di bank, mengambil uang dan membeli satu pak sabun. Besok mengantri lagi untuk mengambil uang dan membeli sekantong garam. Besoknya mengantri lagi untuk mengambil uang dan membeli sekarung tepung jagung. Dan seterusnya. Sungguh situasi yang sulit dibayangkan. Seandainya cerita ini tidak ditulis oleh koran ternama New York Times, 1 Oktober 2008, (www.nytimes.com), saya pun agak sulit mempercayai, karena terkesan berlebihan.

Di Jerman selama masa hiperinflasi tahun 1920-an, seorang pramusaji restoran akan mendatangi meja setiap 30 menit untuk memberitahu harga yang baru. Masih di Jerman (Weimar Republic), ketika terjadi hiperinflasi, untuk mengambil gaji orang harus membawa koper besar, karena kantong celana dan baju tidak cukup untuk membawa uang gaji sebulan (www.bbc.co.uk). Tapi uang sekoper itu tidak seberapa nilainya, tidak cukup untuk membeli kebutuhan pokok sebulan. Untuk membeli sekarung barang belanjaan rumah tangga, mereka harus membawa uang sekarung. Seseorang yang terlupa meninggalkan koper di suatu tempat, mendapati bahwa pencuri mencuri kopernya itu, sementara uangnya tidak diambil. Seorang anak, diminta orang tuanya membeli dua bungkus roti tawar, di tengah jalan berhenti bermain bola. Setelah selesai bermain bola, pergi ke toko, ternyata harga sudah melonjak naik, sehingga uangnya hanya cukup untuk membeli satu bungkus roti tawar. Seorang ayah pergi ke Berlin untuk membeli sepatu. Ketika sampai di sana, ternyata uangnya hanya cukup untuk secangkir kopi dan ongkos bus untuk pulang.

Berikut yang terjadi di Bolivia ketika hiperinflasi sekitar tahun 1985, (dikutip dari Wall Street Journal, 13 Agustus 1985 hal 1, pada buku Macroeconomics 4th edition, N Gregory Mankiw). Edgar Miranda, pria 38 tahun, setiap bulan setelah menerima gaji mengajar, meminta istrinya langsung memborong barang-barang di pasar agar persediaan makanan cukup untuk sebulan, selanjutnya sisa uang Peso cepat-cepat dibelikan Dolar. Kenapa? Pada hari itu satu Dolar senilai 500.000 Peso, jadi kalau dia punya 25 juta Peso, akan mendapat $50. Kalau tidak cepat ditukar Dolar, sehari sesudahnya, kurs berubah menjadi 900.000 Peso, maka ia hanya akan mendapat $27.

Begitulah sedikit contoh situasi masyarakat yang sedang dilanda hiperinflasi. Hiperinflasi adalah situasi inflasi yang sangat tinggi. Ada yang membuat standar, dikategorikan hiperinflasi jika inflasi di atas 50% sebulan (Mankiw, 2000), yang berarti besaran inflasi lebih dari 1,5% per hari. Jika inflasi 50% per bulan, berarti setahun harga naik sekitar 129 kali lipat. Kondisi seperti ini jelas memporak porandakan masyarakat, sebagaimana beberapa contoh di atas.

Mengapa terjadi hiperinflasi? Sebagian pertanyaan ini telah terjawab pada edisi Desember kemarin. Yaitu karena peningkatan suplai uang yang berlebihan. Ketika Negara mencetak uang, harga naik. Ketika Negara mencetak uang dengan cukup pesat maka akibatnya hiperinflasi. Pertanyaan ini ada kelanjutannya, kenapa mencetak uang banyak? Pada umumnya hiperinflasi berawal dari ketika penerimaan pajak tidak cukup untuk membiayai program-program pemerintah yang semuanya memerlukan biaya. Hutang tidak dipilih karena pemerintah tidak yakin bisa membayar. Atau memang tidak ada Negara yang memberi pinjaman. Untuk menutup minusnya anggaran (defisit), maka Negara memilih mencetak uang. Akibatnya, pertumbuhan uang yang pesat dan hiperinflasi. Ketika situasi hiperinflasi datang, keadaan tambah rumit. Harga mahal, berarti belanja bahan untuk produksi juga meningkat, upah buruh minta ditingkatkan, selanjutnya harga jual produksi juga mahal. Sementara daya beli masyarakat anjlok. Barang tidak banyak pembeli, perusahaan rugi dan mengurangi produksi. Barang menjadi langka, dan harga menjadi semakin mahal. Pekerjaan semakin sulit, barang sulit didapat. Kalau ada barang, harganya terus meroket.

Ada beberapa hal yang layak untuk kita catat setelah membaca tulisan di atas. Pertama, kita bersyukur hidup di Negara yang selama ini pemerintahnya mampu mengendalikan inflasi. Kedua, kita semakin dapat menghargai peran penting para pembayar pajak. Betapa berjasanya Anda, jika selama ni membayar pajak. Tengok tulisan di atas, asal mula pemicu hiperinflasi adalah jumlah pendapatan Negara yang tidak mencukupi kebutuhan pengeluaran Negara. Sebagian besar Negara menggantungkan pendapatan dari pajak (kecuali Negara yang didominasi penghasilan minyak). Jika pendapatan Negara dari pajak berjalan lancar, Negara tidak harus mencetak banyak uang. Maknanya, Anda telah turut menyelamatkan masyarakat dari ancaman hiperinflasi. Semoga pasak pemerintahan yang baru ini seimbang dengan tiangnya. Heru Narwanto

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan