Perhatikan 5 Syarat Ini Bila Hendak Membeli Rumah Menengah

Rabu, 12 Agu 2015 | Penulis: Prasojo

Housing-Estate.com, Jakarta - Membeli rumah merupakan keputusan terbesar dan paling penting dalam perjalanan hidup seseorang. Bukan saja karena nilainya yang cukup besar tapi rumah juga tempat membangun keluarga dan merajut masa depan. Di sini anak-anak dididik dan dibesarkan.

rumah menengah di Bojongsari, Depok

rumah menengah di Bojongsari, Depok

Bagi kalangan menengah baru, pasangan muda, atau profesional muda  membeli rumah pertama juga pertaruhan besar. Sebab, sebagian besar penghasilannya akan tersedot untuk membayar cicilan KPR. Karena itu membeli rumah tidak boleh spekulatif, apalagi salah memutuskan. Konsumen harus lebih saksama memberi perhatian karena rumah untuk kaum menengah baru atau keluarga muda pertimbangan utamanya harga yang lebih terjangkau. Faktor-faktor lain menjadi nomor kesekian, misalnya fasilitas, kualitas, kemudahan akses, dsb.

Kendati demikian fasilitas dasar yang dibutuhkan harus tersedia. Tidak harus tersedia di dalam perumahan tapi cukup dekat dan mudah didapat. Misalnya sekolah, klinik/Puskesmas, pusat belanja/pasar, angkutan umum, dll. Berikut lima syarat yang harus diperhatikan bila akan membeli rumah pertama.

1. Akses dan transportasi umum

Lokasi perumahan menengah di kota besar khususnya Jakarta dan sekitarnya

(Jabodetabek)  umumnya cukup jauh dari pusat kota atau dari tempat kerja. Ini resiko yang harus dibayar karena tanah murah hanya ada di pinggiran. Hal ini tidak menjadi masalah apabila tersedia angkutan umum atau transportasi publik. Hunian di kota besar trennya memang bergerak ke pinggir karena harga tanah yang semakin meroket. Dengan adanya angkutan umum mobilitas warga menjadi mudah, misalnya ke tempat kerja, pasar, atau sekolah.  Akan lebih baik apabila rumahnya dekat stasiun sehingga bisa menumpang kereta dengan ongkos murah dan tidak terkena macet. Saat ini di Jabodetabek cukup banyak hunian menengah dengan harga cukup terjangkau.

2. Pembayaran fleksibel

Cari perumahan yang menawarkan pembayaran secara fleksibel.  Ini akan sangat

membantu dan meringankan konsumen dalam menyediakan dana awal pembelian rumah. Misalnya uang muka alias depe 10 – 20 persen, PPN 10 persen, BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) 5 persen,  biaya proses KPR sekitar 6 persen. Sebagian pengembang ada yang menawarkan pembayaran uang muka dicicil (3-6 kali), diskom depe, subsidi BPHTB, atau bebas PPN. Subsidi atau pembebasan biaya-biaya itu boleh jadi hanya marketing gimmick karena semuanya sudah dimasukkan ke dalam harga. Tapi kalau harganya masih wajar dan bank penyalur KPR tidak menilai sebagai penggelembungan (mark up), tidak masalah.

3. Dekat fasilitas dasar

Pastikan di sekitar perumahan terdapat fasilitas dasar yang diperlukan. Misalnya

sekolah, puskesmas/klinik, pusat belanja atau pasar. Karena itu membeli rumah tidak cukup hanya melihat brosur, mendengar cerita staf pemasarannya, berkunjung ke pameran perumahan, atau mencari informasi melalui internet. Semua itu penting dan membantu calon konsumen membuat keputusan. Tapi sebelum memutuskan sebaiknya melakukan kunjungan langsung ke lokasi. Pastikan di mana fasilitas-fasilitas dasar tadi berada, bagaimana mencapainya dan berapa lama waktu tempuhnya. Bila perlu harus mencoba angkutan umum dari perumahan ke tempat kerja. Berapa lama waktu perjalanannya, ongkosnya berapa, menunggu kendaraan lama atau tidak.

4. Pengembang kredibel

Pastikan pengembangnya kredibel dan terpercaya. Tanyakan perizinannya sudah ada

atau belum. Paling tidak izin lokasinya harus ada, site plan, demikian juga IMB (izin mendirikan bangunan). Bila pengembangnya perseroan terbatas (PT) tanyakan siapa pimpinan atau direktur utamanya. Tanyakan secara detail dan pastikan apa saja yang akan dibangun oleh pengembang di perumahan itu. Misalnya sarana olah raga, mushola/masjid, balai warga, dll. Lokasi fasilitas itu di mana, di site plan sudah dicantumkan atau belum. Pembangunan fasilitas itu biayanya tanggung jawab pengembang atau hanya menyediakan tanah. Bila perlu minta kepastian secara tertulis dan ditandatangani orang yang bertanggung jawab. Ini penting untuk menghindari tindakan wanprestasi dari pengembang.

5. Spesifikasi bangunan

Ada baiknya konsumen mengetahui spesifikasi bangunan rumah yang akan dibeli.

Misalnya dindingnya bata merah atau batako, kusen terbuat dari bahan apa, bila kayu dari kayu apa. Pembesian juga harus sesuai standar karena kekuatan rumah terletak pada besi struktur. Misalnya kolom yang standarnya besi sepuluh jangan sampai menggunakan kurang dari itu. Untuk memastikan hal itu memang tidak mudah karena pengembang tidak pernah ma uterus terang. Ini penting diketahui untuk menghindari kerusakan sebelum waktunya. Sebab, memperbaiki atau merenovasi rumah biayanya sangat mahal.  Perlu diketahui juga tentang kualitas air tanah, layak untuk air minum atau tidak. Saat ini harga air minum cukup mahal sehingga kalau harus membeli akan menguras isi kantong.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan