Konsumen Menanggung Biaya Lebih Besar

Rabu, 19 Agu 2015 | Penulis: Yudis

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Cara pembayaran secara bertahap kepada pengembang diperkirakan akan semakin meluas dalam industri properti. Ini dampak dari peraturan Bank Indonesia (BI) yang mewajibkan pencairan KPR inden rumah di atas tipe 70 harus disertai jaminan dari pengembang. Jaminan tersebut dapat berupa bank garansi, letter of credit (LC), atau deposito sebesar nilai KPR  yang di dapat. Dengan pembayaran bertahap (installment) pengembang tidak terkena aturan BI itu.

Gading Serpong: dulu tanahnya dibeli dari Hanson Land

Ilustrasi

Pembayaran cicilan bertahap umumnya berdurasi 24-36 bukab. Tapi ada juga yang lebih panjang hingga 60 bulan (5 tahun). Namun skema pembayaran tunai bertahap ini membuat harga properti menjadi lebih mahal. Di situ pengembang memasukkan komponen bunga kendati praktek ini menjadi pertanyaan karena konsumen harus mengeluarkan uang yang bukan menjadi kewajibannya.

Menurut Ketua REI Banten, Soelaeman Soemawinata, kebijakan KPR inden itu membuat biaya modal (cost of money) bagi developer menjadi lebih besar sehingga harus dibebankan kepada harga jual. “Konsepnya boleh KPR inden dengan syarat ada jaminan, ini bikin kita jadi double cost. Dulu kita hanya terbebani dari uang muka yang 30 persen, sekarang kena lagi dengan harus menaruh jaminan, ini jadi tambahan biaya,” ujarnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Rabu (19/8).

Soelaeman menyebut selama ada tambahan biaya bagi pengembang hal itu dipastikan akan menambah cot of money. Jadi, selain dibebani bunga bank konsumen juga kena tambahan bunga dari cost of money pengembang. “Kenapa kita kasih bunga lagi, kita kan pengembang, nggak ada proteksi. Risiko ditanggung sendiri,” imbuhnya.

Soelaeman menjelaskan, dengan menjaminkan uang ke bank potensi pendapatan pengembang hilang atau berkurang. Uang tersebut seharusnya diputar untuk bisnis sehingga mendapatkan untung yang dikenal dengan istilah internal rate of return (IRR).  “Buat kami membuat peluang bisnisnya jadi lebih kecil. Harusnya uang jaminan ini bisa dijadikan modal kerja tapi harus disetorkan ke bank. Ibaratnya dana yang seharusnya dapat dipakai untuk membangun 10 rumah sekarang hanya jadi lima rumah. Ini yang maksud saya produksinya jadi lebih slow selain harga jadi lebih mahal,” tandasnya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan