Impresi Memikat Dalam Kesederhanan

Minggu, 8 Nov 2015 | Penulis: Diyah

Di balik kesederhanaan bentuknya, masjid ini memiliki impresi yang kuat dan mendalam.

Housing-Estate.com, Jakarta - Hembusan angin lembah dan rintik air hujan mengiringi kumandang azan maghrib di pelataran masjid raya Al Irsyad. Dinginnya angin yang mengalir kencang juga menembus ke ruang dalam masjid dari keempat sisinya. Terlihat bagian depan masjid dibiarkan bolong tanpa dinding. Area mihrab itu hanya ditegaskan dengan gubahan bidang berwarna putih yang membingkai sisi kiri, kanan dan atas plafon.

Masjid Raya Al Irsyad Kota Baru Parahyangan – Bandung

Masjid Raya Al Irsyad Kota Baru Parahyangan – Bandung

Bangunan masjid yang sederhana terinspirasi bentuk Ka’bah dilengkapi dua selasar sebagai pintu masuk . Dinding luar masjid berdetail susunan kalimat syahadat

Absennya batas di bagian depan tampak meleburkan ruang dalam dan ruang luar. Dari dalam masjid ketika menghadap ke arah kiblat, kita seolah menyaksikan televisi raksasa yang mempertontonkan keindahan alam secara langsung. Efeknya semakin dramatis dengan keberadaan kolam air yang memberi jeda antara batas baris depan tempat salat dan area luar.

Fasilitas ibadah teranyar yang resmi digunakan awal Ramadan 1431 H ini berada di perumahan Kota Baru Parahyangan (1.250 ha), Bandung. Lokasinya berdampingan dengan Al Irsyad Satya Islamic School (affiliated to Al Irsyad Singapore), sebuah sekolah Islam internasional. Masjid seluas 1.500 m2 yang dibangun di atas lahan 3.000 m2 ini total dapat menampung 1.500 jamaah.

Tampak depan masjid terlihat selasar utama yang menembus langsung ke ruang dalam

Tampak depan masjid terlihat selasar utama yang menembus langsung ke ruang dalam

Menurut Sanusi Tanawi, Presiden Direktur PT Belaputra Intiland, developer Kota Baru Parahyangan, masjid dibangun untuk menampung kebutuhan spiritual, pendidikan dan sosial warga khususnya umat muslim di Kota Baru Parahyangan dan masyarakat sekitarnya.

Inspirasi Ka’bah

Arsitek Ridwan Kamil (Urbane) yang merancangnya menyebut desain masjid ini kaya akan filosofi keagamaan. Idenya terinspirasi dari arsitektur Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah. Bentuk bangunannya hanya kubus sederhana namun memiliki kesan atau impresi yang kuat dan mendalam. Penggunaan material bata beton yang membentuk massa bangunan sengaja ditampilkan mentah tanpa polesan cat.

Mihrab didesain tanpa dinding depan untuk menyuguhkan pemandangan alam istimewa dari dalam masjid

Mihrab didesain tanpa dinding depan untuk menyuguhkan pemandangan alam istimewa dari dalam masjid

Ekspresi yang ingin diungkapkan oleh rancangan masjid ini adalah berusaha memanggil orang untuk beribadah di dalamnya. Tergambar dari bentukan kalimat syahadat yang muncul dari susunan bata berlubang berwarna hitam pada dinding luar masjid. Terutama pada saat maghrib hingga malam hari, ketika cahaya lampu terpancar keluar melalui lubang-lubang pada dinding yang menguatkan susunan kalimat syahadat tersebut.

99 Lampu

Dimensi ruang dalam yang tinggi dan lapang menghadirkan kesan megah namun tidak berlebihan. Ruang utama dirancang tanpa tiang di tengahnya untuk mendukung terciptanya barisan (shaft) jamaah salat yang tidak terputus. Lantainya diberi penutup keramik warna hitam dengan tekstur sedikit kasar dan garis batas shaft berwarna putih keperakan. Batas terluar lantai diberi sebaran batu koral putih yang alami sebagai aksen.

Interior masjid yang megah dirancang tanpa tiang ditengahnya tampak diterangi barisan 99 titik lampu

Interior masjid yang megah dirancang tanpa tiang ditengahnya tampak diterangi barisan 99 titik lampu

Interior masjid semakin terlihat unik karena diterangi dengan 99 titik lampu yang dibariskan simetris mengikuti bentuk bangunan persegi empat. Masing-masing titik lampu dibungkus rumah lampu berbentuk kotak memanjang dengan ujung penutupnya diberi ukiran kaligrafi dari bahan logam bertuliskan 99 nama-nama Allah (Asmaul Husna).

Sementara ruang luar diolah dengan pelataran terbuka berumput yang melingkari masjid. Jalur masuk (entrance) masjid yang berada di sisi timur dan utara ditonjolkan berupa selasar berskala tinggi manusia dengan balutan warna putih. Salah satu selasar terhubung dengan massa bangunan tambahan untuk tempat wudhu dan ruang pengurus.

Selain didesain tanpa kubah, bangunan masjid juga tidak memiliki pintu penutup sama sekali. “Ini masjid dibuat dengan pendekatan seperti zaman Rasulullah karena tidak ada yang mensyaratkan masjid harus berkubah. Alur masjid yang terbuka berguna untuk bisa menikmati kebesaran Allah secara langsung,” kata Datuk Syamsul Bahri, Ketua Masjid Al Irsyad.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.
Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan