Lampu Portabel Tenaga Surya Multiguna

Kamis, 5 Mei 2016 | Penulis: Niza

Lampu bukan hanya berfungsi menerangi tapi juga sebagai charger ponsel.

Housing-Estate.com, Jakarta - Energi fosil yang kian terbatas serta dampak buruknya terhadap kerusakan lingkungan, membuat orang terus berupaya memaksimalkan pemakaian energi matahari. Belum semua berhasil, tapi untuk lampu penerangan jalan, taman, dan rumah, sudah operasional. Karena itu beberapa produsen mulai memproduksinya secara massal. Schneider misalnya, beberapa bulan lalu merilis lampu portabel tenaga surya Schneider Electric Mobiya TS 120S. Produk terdiri dari lampu berukuran 156 x 156 x 142 mm (panjang x lebar x tebal/tinggi) berisi bohlam LED bertenaga baterai lithium ferro phosphate untuk menyimpan daya, panel surya kecil (201 x 198 x 20 mm) untuk menangkap energi matahari, kabel penghubung panel dengan lampu, dan koneksi USB (port dan kabel) untuk men-charge ponsel.

lampu matahari

Lampu memiliki tiga level cahaya: redup, sedang, dan terang (120 lumens). Agar menghasilkan cahaya terang, panel yang terhubung ke lampu tinggal dijemur 8 jam di cahaya mentari. “Kalau mendung, pengisian daya bisa lebih lama,” kata Yola Riana Effendi, Retail Product Manager Partner Retail PT Schneider Electric Indonesia. Lampu bertahan 6 jam bila disetel pada level terang, 12 dan 48 jam pada level sedang dan redup. Lampu bisa ditenteng, diletakkan di meja, ditegakkan dengan penyangga, ditempel di dinding, atau digantung, sehingga bisa berfungsi sebagai penerangan umum, lampu belajar, lampu tidur, lampu darurat, senter, sampai lampu ruang luar. Produk tahan benturan (jika terjatuh dari ketinggian maksimal 1,5 m) dan tahan air hingga kedalaman 0,5 m selama 1 jam. Harganya Rp700 ribu/unit dengan garansi 1 tahun.

Sementara Panasonic Corporation (Jepang) punya Solar LED Lantern BG-BL03. Bentuk, rangkaian, spesifikasi, dan fungsi produk kurang lebih serupa dengan Mobiya. Pengisian dayanya 6 jam dengan ketahanan baterai (nickel-metal hydride) 6 jam pada level cahaya terang (100 lumens), sekitar 15 dan 90 jam pada level medium (40 lumens) dan low (6 lumens). Produk belum dipasarkan secara komersial, tapi dibagikan sebanyak total 100 ribu set di daerah-daerah yang belum terjamah penerangan listrik di berbagai negara di Asia dan Afrika tahun ini. Di Indonesia antara lain di wilayah perbatasan dan daerah miskin seperti NTT.

“Sekitar 1,3 miliar orang atau 20 persen populasi dunia masih hidup tanpa listrik dan mengandalkan penerangan dengan energi minyak tanah. Selain tidak menghasilkan cahaya memadai, memancarkan asap beracun, dan berisiko kebakaran, lampu minyak tanah tidak bisa dipakai untuk men-charge ponsel yang telah menjadi alat komunikasi massal,” tulis Panasonic dalam leafletnya. Lentera surya Panasonic juga tahan air dan multiguna dengan pancaran cahaya 360 derajat, sehingga bisa diandalkan untuk penerangan sehari-hari. Ukuran lampu 138 x 133 x 60 mm dengan berat 400 gr, dan panel 206 x 186 x 39 mm seberat 630 gr.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan