Hari, REI, dan Passion Membangun Rumah Rakyat

Selasa, 6 Sep 2016 | Penulis: Yudis

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Hari Raharta, CEO Margahayuland Development (MRD), pengembang sejumlah proyek properti di Bandung dan Jabodetabek punya pengalaman komplit dalam bisnis properti. Memulai dengan pembangunan rumah BTN, sebutan untuk rumah rakyat waktu itu, kini proyeknya mencakup apartemen, superblok, dan mal, selain masih mengembangkan landed house.

Hari Raharta Sudrajat MargahayuLand

Hari Raharta Sudrajat

Mengomandani MRD tahun 2002 seusai mundurnya generasi pertama pendiri perusahaan tersebut, Hari kini lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta. Selain mengurus proyek apartemennya di Jakarta, yaitu 19 Avenue, The Kencana, dan Menara Latumenten, bapak dua anak itu sekarang juga sibuk di DPP Realestat Indonesia (REI). Di organisasi pengusaha properti itu tamatan universitas di Jepang itu menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Hari juga pernah menjabat Ketua DPD REI Jawa Barat.

Sebelum melakukan ekspansi ke Jabodetabek dan Bali, MRD memang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Selain perumahan Margahayu Raya yang dikembangkan tahun 1980, di Bandung MRD mengembangkan sejumlah proyek perumahan dan apartemen. Perumahannya antara lain De Marrakesh, De Mansion, dan De Griya. Sementara apartemennya Metro Penthouse, The Suites, dan Newton The Hybrid. Semuanya di kawasan Buah Batu dan koridor Soekarno Hatta, Kota Bandung.

Hari menyebut properti merupakan sektor yang menuntut komitmen, passion, dan kreatifitas. Tanpa ketiga hal itu kelangsungan bisnis sektor ini tidak akan baik mengingat properti merupakan bisnis jangka panjang.

Di Bandung MRD sudah mengembangkan rumah murah cukup banyak. Dalan satu tahun rumah yang dibangun 2.000-3.000 unit. “Pengembang itu profesi membanggakan, membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.  Ketika produk yang kita bangun diserahterimakan dan konsumen menerima dengan puas kita pun ikut bahagia. Kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan uang,” ujarnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Selasa (6/9).

Ia kerap terharu menyaksikan kalangan menengah bawah yang begitu bergembira memiliki rumah. Tidak jarang ia dikirimi mereka singkong, pisang, dan hasil kebun lainnya. Karena itu saat pemerintah meluncurkan program pembangunan 1.000 tower rumah susun Hari menyambut dengan semangat. Ia kemudian mengembangkan apartemen Menara Latumenten di Grogol, Jakarta Barat yang saat itu diresmikan Menteri Perumahan Rakyat Yusuf Ashari.

“Pak Yusuf menyatakan bangga dengan kiprah kita, makanya kami jadi lebih bersemangat. Walaupun program ini kurang lancar karena soal regulasi dan masalah lain-lain, kami tetap jalankan proyek ini sebagai hunian murah dan masyarakat merespon sangat baik,”  imbuhnya.

Hari berharap kebijakan hunian murah bisa terus digalakkan oleh pemerintah dengan regulasi probisnis dan koordinasi antar instansi yang lebih baik. Ia pernah punya pengalaman tidak enak soal hunian bersubsidi.  Produknya dibangun tapi subsidinya dari pemerintah tidak turun. Akibatnya yang rugi masyarakat karena harus membayar PPN yang seharusnya ditanggung pemerintah.  “Kami sangat siap membangun perumahan untuk rakyat tapi pemerintah harus menyiapkan kawasan khusus. Ada regulasi yang menetapkan kawasan itu hanya untuk rumah subsidi, harganya dikunci sehingga spekulan tidak bisa masuk,” pungkasnya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan