Jatuh, Apartemen Mewah di Singapura Hanya Rp204 juta/m2

Rabu, 12 Okt 2016 | Penulis: Nta

Housing-Estate.com, Jakarta - Harga residensial premium di Singapura jatuh ke titik terendah. Dibanding masa puncak tahun 2011 harganya sudah turun 15-25 persen. Kini harga residensial kelas premium di negara kota itu menjadi sangat murah dibanding dengan properti sekelas di kota-kota utama dunia. Karena itu, menurut Brandon Lee, analis properti dari JP Morgan Singapura, sekarang adalah saat tepat bagi ultra-high-net-worth investors untuk membeli di Singapura. Di Hong Kong dan New York harga hunian mewahnya lebih tinggi 165 persen dari Singapura.

Ilustrasi Apartemen

Ilustrasi Apartemen

Kondisi itu mulai menarik lembaga-lembaga pengelola dana global untuk membeli apartemen dalam jumlah besar. Transaksinya langsung ke pengembang yang disebut dengan pola “block deal”. Minat yang tinggi juga sudah ditunjukkan oleh keluarga-keluarga super kaya. Tren ini disukai pengembang yang sedang susah menjual secara retail daripada dikenai denda. Pasalnya, di Singapura ada aturan unit yang belum terjual dalam dua tahun setelah proyek itu rampung, bakal dikenai denda sebesar 8 persen dari harga proporsional lahan untuk tahun pertama. Tahun berikutnya naik jadi 16 persen dan pada tahun ketiga dendanya 24 persen.

Kalangan pengamat memprediksi kondisi ini akan membuat pasar properti mewah Singapura sedikit membaik. Walaupun tidak semua pengamat berpendapat demikian. “Nilai pasar rumah mewah di Singapura sudah tidak bisa lagi dibandingkan dengan London, Hong Kong dan Monako,” ucap Alexander Karolik Shlaen, ekonom dan CEO of Panache Management, penasihat investor dan merek mewah. Apartemen mewah di Singapura cuma seharga 21.500 dolar Singapura per m2 (Rp 204 juta/m2), sementara di London, harga sebesar itu, belum disebut mewah.

Akan tetapi Shlaen melihat bahwa minat pembelian bisa meningkat, karena Singapura juga punya aturan subyek yang tidak bisa dikenai Additional Buyer’s Stamp Duty (ABSD). Peraturan ABSD itu sendiri dikeluarkan oleh pemerintah Negeri Singa tahun 2011 untuk mengendalikan harga properti di sana. Bea tambahan sebesar 15 persen dari setiap transaksi itu dikenakan kepada orang asing dan lokal yang sudah mempunyai properti lebih dari satu. Diyakini Shlaean, bea tambahan itu tidak dirasa memberatkan  bagi orang super kaya.

Menurut Lee, pada kuartal kedua 2016 lalu warga Amerika menjadi pembeli kedua teratas atas rumah-rumah mewah di Singapura. Tidak menyebut yang pertama, namun Lee mengungkapkan bahwa orang-orang kaya asal Malaysia, Indonesia dan Tiongkok masih mendominasi. Lee memprediksi, kalau harga rumah di kelas lain masih mungkin turun, tidak demikian dengan harga rumah mewah. Sebab, para pemilik properti yang berada di lokasi premium, diyakini tidak mau memberi diskon besar untuk transaksi. Selain itu, “Jika melihat pasok yang belum terjual, jumlah pada kategori ini sudah sedikit,” katanya, jadi masih ada ruang untuk menambah pasok baru, walaupun tingkat kekosongan di kisaran 15 persen.

 

Sumber: CNBC

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan