Beli Rumah Lihat Juga Spesifikasi Bangunannya

Minggu, 1 Jan 2017 | Penulis: Nadya

Housing-Estate.com, Jakarta - Membeli rumah dengan spesifikasi bangunan yang terlalu sederhana membuat anda harus mengeluarkan biaya banyak untuk merenovasi.

Harga sering menjadi pertimbangan utama orang membeli rumah. Tapi, terlalu fokus pada harga bisa merugikan. Misalnya, sebentar saja rumah sudah rusak karena kualitas bahan bangunannya asal-asalan, kamar hanya satu, kita harus menyediakan pompa air sendiri, dan seterusnya. Jadi harga rumah menjadi lebih mahal dari yang ditransaksikan.

beli-rumah-lihat-juga

Karena itu spek bangunan juga perlu dicermati saat membeli rumah. Tanyakan juga harga tanahnya agar kita bisa menakar harga bangunannya: pantas atau tidak. Untuk mengetahui apakah harga tanah dan bangunannya wajar, bandingkan dengan harga rumah sekelas di perumahan lain di kawasan yang sama yang kualitas pengembangan dan aksesnya setara.

Contoh sebuah perumahan besar di Bogor (Jawa Barat), menjual rumah dua kamar tipe 36/72 seharga Rp178 juta sudah termasuk PPN. Bila dibeli dengan KPR 15 tahun, depe 20%, bunga 12% per tahun, cicilannya sekitar Rp1,7 juta/bulan. Terjangkau kaum menengah bawah bergaji Rp5 juta/bulan.

Batako

beli-rumah-2

Spesifikasi bangunannya untuk dinding misalnya, memakai batako single diplester, diaci, dan dicat. Sementara rangka atap sudah baja ringan, kusen pintu alumunium, kloset jongkok, pelapis lantai keramik ukuran 20 x 20. Menurut seorang staf marketingnya, harga tanah di perumahan ini sekarang ratarata Rp1,5 juta/m2. “Karena itu spek-nya single batako supaya harganya tetap terjangkau (kaum menengah bawah),” katanya. Itu artinya (tanpa memperhitungkan PPN 10%) pengembang menjual bangunannya Rp2 juta/ m2. Dengan spek seperti itu konsumen perlu membangun selapis dinding lagi di kiri dan kanan ruang dalam rumahnya agar privasinya lebih terjaga dan tidak memicu konflik dengan tetangga.

Itu bukan hanya menambah biaya tapi juga mengurangi luas (lebar) rumah setidaknya 15 cm x 2 x panjang bangunan. Terpulang pada penilaian anda, apakah harga rumah itu masih bisa dibilang murah atau tidak.

Naik tajam

Menurut Adang Sahardjo, Direktur perusahaan pemborong PT Mandalagiri Mitra Setia di Tangerang Selatan (Banten) yang banyak mengerjakan rumah real estate dan pribadi di Jabodetabek, harga bahan bangunan dan upah tukang memang meningkat tajam satu dekade terakhir. “Sekarang tukang Rp120 ribu per hari, kenek Rp80 ribu,” ujarnya.

Tapi, untuk bangunan seharga Rp3 juta/ m2, ia berpendapat, dindingnya sudah harus double batako, diplester, diaci, dan dicat. Bahkan kamar mandinya bisa dilengkapi kloset duduk buatan China. “Harganya hanya Rp700 ribuan,” ungkapnya. Sedangkan untuk bangunan Rp3,5 juta/m2, dindingnya sudah bisa bata merah dobel diplester, diaci, dan dicat. Spek bangunan lain: genteng beton, kusen alumunium atau kayu di-oven (sudah dikeringkan), dan seterusnya.

Handoyo, Direktur perusahaan pemborong PT Haka Visi Sentosa di Jakarta yang juga banyak mengerjakan rumah pribadi dan real estate di Jabodetabek, menyebutkan spek lebih tinggi. Untuk bangunan seharga Rp2,5–3 juta/m2, dindingnya harus sudah bata merah dobel diplester, diaci, dan dicat, pelapis lantai keramik 30 x 30 sampai 40 x 40 sekelas Asia Tile, kecuali kamar mandi 20 x 20. Sedangkan plafon gipsum, genteng keramik berglazur Jatiwangi, kloset setara Ina. Rumah dua lantai sama speknya. Bedanya harga bangunannya Rp3–3,5 juta/m2.

Sumber: Majalah Housing Estate

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan