Berinvestasi Dengan Tujuan yang Jelas

Sabtu, 24 Jun 2017 |

Housing-Estate.com, Jakarta - Lebih dari separuh investor di Indonesia tidak memiliki tujuan keuangan jangka panjang yang jelas.

uang investasi

Berinvestasi sudah populer di kalangan menengah ke atas di Indonesia. Tapi berinvestasi harus dibarengi pengelolaan keuangan yang cermat, memilih portofolio yang tepat, dan menetapkan tujuan investasi yang jelas dalam jangka panjang. Ini yang belum ada pada kebanyakan investor di Indonesia. Orang berinvestasi begitu saja tanpa arah yang jelas. Survei Manulife, perusahaan asuransi jiwa dan manajemen aset mengungkapkan, investor di Indonesia hanya fokus pada perencanaan keuangan jangka pendek. Survei bertajuk Manulife Investor Sentiment Index (MISI) di Asia itu didasarkan atas 500 wawancara online di Hong Kong, Tiongkok, Taiwan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Filipina, serta wawancara tatap muka di Indonesia dengan responden dari investor kelas menengah berpenghasilan di atas Rp4 juta dan berumur di atas 25 tahun.

Pantau pengeluaran

MISI mengungkapkan, lebih dari separuh investor (53%) membelanjakan 70% atau lebih penghasilannya setiap bulan, 1 dari 10 investor bahkan lebih dari 90%. Selain itu 1 dari 4 investor akan meminjam uang dalam kurun tiga bulan jika kehilangan sumber penghasilan utama. Temuan itu menunjukkan, mereka sangat mengandalkan penghasilan bulanan dan hanya memiliki sedikit simpanan. Sebanyak 40% investor tidak memantau pengeluarannya yang makin memperparah pengelolaan arus kas bulanan mereka. Walaupun hanya 1 dari 5 investor di Indonesia saat ini yang berutang, pengelolaan keuangan yang buruk itu bisa memicu tren berutang di masa depan.

Survei juga menemukan, mayoritas orang Indonesia gagal menyimpan dana untuk kebutuhan jangka panjang. Lebih dari 70% investor tidak punya target jumlah dana simpanan. Bahkan, investor yang memiliki target dana simpanan, sebanyak 76% target simpanannya hanya untuk 1-4 tahun ke depan. Selain itu rata-rata investor menempatkan sepertiga (33%) dana simpanannya di tabungan atau deposito tanpa tujuan tertentu. Sisanya dalam bentuk dana pendidikan (19%), properti (14%), dana darurat (13%) dan dana pensiun (10%).

Biaya pendidikan anak atau pernikahan anak serta biaya kesehatan menjadi dua prioritas tujuan keuangan jangka pendek dan menengah sebagian investor. Simpanan untuk dana pensiun hanya menempati urutan keempat. “Padahal, dengan meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, adalah memprihatinkan jika persiapan dana pensiun tidak menjadi prioritas keuangan yang utama,” kata Rusli Chan, Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, saat memaparkan MISI awal Maret lalu.

Mengulang kesalahan

Dalam membuat perencanaan keuangan, survei itu mengungkapkan, investor mengandalkan penilaian dan pengetahuan pribadi (77%) atau saran pasangan (75%). Saran perencana keuangan atau ahli investasi hanya memiliki sedikit pengaruh (11%), bahkan lebih rendah dibanding pengaruh media massa (20%).

Kebanyakan investor terus menerapkan pendekatan tradisional dalam berinvestasi. Terbukti 92% menyebut simpanan di bank sebagai investasi, meskipun fakta menunjukkan hal itu tidak memberikan mereka imbal hasil yang memadai. Selain itu survei juga menyebutkan, investor menganggap dana tunai (72%) dan emas (67%) sebagai perlindungan terbaik untuk menghadapi kejadian yang tak terduga, sedangkan instrumen investasi seperti reksadana tidak begitu diminati.

“Dalam kondisi apapun, bahkan ketika pasar tidak menguntungkan, investor disarankan tetap berinvestasi dalam beragam portofolio daripada hanya menyimpan duit di tabungan atau deposito,” jelas Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Ia menambahkan, seorang investor butuh perencanaan keuangan menyeluruh, mencakup pengelolaan pengeluaran harian, portofolio investasi yang beragam, dan target keuangan yang jelas yang ingin dicapai dengan investasinya dalam jangka panjang.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan