Kamar Tidur yang Mendukung Perkembangan Anak

Minggu, 25 Jun 2017 |

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Kamar tidur anak perlu dirancang dengan unsur yang menstimulasi pembentukan perilakunya.

Menurut para ahli, periode pertumbuhan anak dari nol hingga tujuh tahun adalah masa emas (golden ages) untuk pembentukan pengetahuan dan perilaku anak. Hal ini perlu dipahami orang tua supaya bisa memberikan stimulus yang tepat pada anak. Salah satunya bisa dilakukan melalui rancangan kamar tidur anak yang mendukung perkembangannya. Arsitek dan desainer interior Sandriana S.S.S. mempraktikkan sebuah rancangan praktis dan edukatif di dalam kamar ketiga anaknya yang berusia 2,5, 3,5 dan 5 tahun, yang mungkin bisa menjadi inspirasi anda. Sandri, sapaan akrabnya, juga menyarankan penempatan kamar anak sebaiknya selalu berdampingan dengan kamar orang tua untuk memudahkan pengawasan. Berikut inspirasi desain selengkapnya.

Kamar-Tidur-yang-Mendukung-Perkembangan-Anak

Bukan Biru atau Pink. Identitas warna untuk kamar anak yang paling umum digunakan adalah biru dan merah jambu (pink), masing-masing untuk anak laki-laki dan perempuan. Sandri menyarankan untuk tidak menerapkan satu warna solid di seluruh sisi dinding kamar. Karena barang-barang seperti furnitur, koleksi mainan, dan pajangan di kamar sudah memancarkan banyak varian warna banyak (colorful), sebaiknya cat pada dinding dipilih yang netral, kalem, dan terang. “Anak bisa stres dan susah tidur kalau kamarnya full color. Gunakan hanya satu dinding berwarna solid sebagai aksen, atau biarkan dinding kamar seluruhnya berwarna netral putih dan turunannya,” kata arsitek jebolan Universitas Indonesia itu. Pilihan aksen tidak harus warna, bisa juga berupa aplikasi dinding khusus berupa mural di salah satu sisi kamar. Di situ misalnya, anak diperbolehkan mencorat-coret dinding, namun secara berkala dicat ulang.

Area Bermain. Ini area yang wajib ada di kamar tidur, tapi harus dipisahkan secara jelas peletakannya dari ranjang. Pemisah bisa berupa partisi ringan seperti tirai, dinding transparan dari kaca atau plastic, hingga tembok masif. “Kalau tidak dipisah, anak bisa tidak berhenti main saat waktunya tidur atau malah membawa mainan ke tempat tidur,” kata Sandri yang mendirikan bisnis rancang bangun di bawah bendera PT Sande Nirmana bersama suaminya Aditya Novrianggono itu. Area bermain bisa dibagi lagi dalam beberapa sudut untuk membaca buku, bermain musik, bermain boneka atau membuat prakarya. Siapkan rak-rak terbuka untuk memajang koleksi mainan anak secara rapi. Proporsinya, 60 – 70 persen berupa rak terbuka. Jangan menumpuk koleksi mainan dalam satu tempat tertutup sehingga anak lupa memainkannya. Usahakan meletakkan mainan pada posisi yang sama setiap selesai dipakai untuk memudahkan anak dan orang tua mencarinya jika diperlukan lagi.

Investasi Furnitur Anak Hindari berpikir membeli furnitur standar berukuran besar agar awet dipakai hingga anak besar nanti. “Masa enam tahun itu tidak singkat bagi pertumbuhan anak, jadi berinvestasilah untuk membeli furnitur yang ukurannya pas dengan tubuhnya yang masih mungil,” kata Sandri. Jangan selalu membayangkan satu set meja belajar lengkap dengan kursi seragam, padahal kadang anak cukup nyaman dengan meja pendek sederhana dan bangku kecil dari plastik atau kayu. Jika bangku yang didudukinya pas, anak bisa lebih betah belajar dan fokus. “Anak juga lebih mandiri, bisa memindahkan bangku sendiri karena ukurannya kecil dan ringan,” jelas wanita yang kerap bergaya eksentrik itu.

Suasana Ruang Luar. Dunia anak yang penuh imajinasi dapat diwujudkan juga di dalam kamar. Contohnya, menghadirkan suasana luar ruang (outdoor) dengan aktivitas khasnya seperti kemping. Lengkapi kamar dengan sebuah tenda kecil dan lapisi lantai dengan rumput sintetik untuk memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak. Tempatkan area ini dekat dengan jendela besar untuk memasukkan sinar matahari agar lebih terasa suasana ruang luarnya.

Melatih Disiplin. Kamar tidur bisa menjadi tempat melatih disiplin. Mulai dari mengajari anak mengambil dan mengembalikan pakaian secara mandiri. Pilih lemari pakaian berukuran setinggi anak sehingga mudah terjangkau. Beri nomer, huruf, atau pewarnaan berbeda pada sisi luar lemari untuk memberikan identitas setiap tempat penyimpanan. “Kalau satu kamar untuk dua anak, pintu lemari bisa diberi nomer supaya anak ingat di mana mengambil dan mengembalikan pakaiannya agar tidak tertukar,” saran Sandri. Lengkapi kamar dengan gantungan untuk menaruh tas, rak-rak buku dan kotak-kotak penyimpanan mainan dengan ketinggian yang terjangkau untuk mengajak anak teratur meletakkan barang-barangnya.

Tips

Jika membeli perabot khusus anak yang berukuran lebih kecil terasa seperti pemborosan karena masa pakainya yang sebentar, beberapa perabot dan perlengkapan juga bisa dipertimbangkan menggunakan ukuran standar agar lebih hemat dengan masa pakai lebih lama. Sandriana menyarankan seperti ini:

Beli ranjang dan matras yang bisa memuat dua orang (double) berukuran minimal 120 x 200 cm (small double) untuk kamar dengan luas terbatas, atau berukuran 160 x 200 cm (queen) untuk kamar yang lebih lapang.

Lemari pakaian bisa dirancang berukuran besar mengisi dinding ke dinding (wall to wall) hingga plafon kamar untuk memuat lebih banyak simpanan pakaian seiring pertumbuhan anak. Tambahkan rak-rak yang rendah saat anak masih kecil agar mudah dijangkau.

Lapisan lantai parket dari kayu solid atau laminasi sangat cocok untuk kamar tidur anak karena sifat materialnya lebih empuk dan hangat dibanding keramik atau granit. Aplikasi parket yang memiliki lapisan busa tipis di bawahnya juga menambah kenyamanan anak, karena menghindarkannya dari benturan yang terlalu keras jika terjatuh di lantai. Lantai berlapis parket bisa digunakan seterusnya hingga dewasa.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan