SMF Paparkan Besarnya Potensi Pembiayaan Perumahan Di Indonesia

Sabtu, 15 Jul 2017 | Penulis: Yudis

Housing-Estate.com, Jakarta - Lebih dari 74 persen konsumen perumahan di Indonesia membeli dengan cara kredit ke perbankan (KPR) sementara sisanya dengan cara tunai dan tunai bertahap. Namun rendahnya masyarakat yang bisa mengakses perumahan membuat rasio KPR di Indonesia masih sangat kecil bila dibandingkan negara lain.

Ilustrasi

Ilustrasi

Rasio KPR di Indonesia baru mencapai 2,85 persen bila dikaitkan dengan porsi produk domestik bruto (PDB) nasional. Dibandingkan dengan negara lain sekawasan Indonesia merupakan yang paling rendah, sangat jauh bila dibandingkan dengan Thailand (22,6 persen), Malaysia (38,8 persen), Singapura (46,8 persen) atau Amerika yang sudah mencapai 77 persen.

“Ini artinya potensi pengembangan KPR di Indonesia sangat luar biasa terlebih lagi bila dibandingkan dengan suplai rumah yang sangat terbatas. Pertumbuhan penduduk yang mencapai 1,36 persen per tahun artinya ada kebutuhan 880 ribu unit rumah per tahunnya, belum defisit (backlog) perumahan yang mencapai 11 jutaan, jadi pasarnya sangat besar,” ujar Ananta Wiyogo, Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero/SMF), saat paparan kinerja SMF semester kedua 2017 di Jakarta, Jumat (14/7).

Ananta mengalkulasi potensi KPR dari angka yang paling mudah. Hingga tahun 2016, ada 5,6 juta masyarakat yang rumahnya mengontrak dan ini merupakan kalangan masyarakat yang memiliki daya beli untuk digarap pasar KPR-nya. SMF sendiri melakukan sekuritisasi aset KPR dari perbankan untuk disalurkan kembali kepada bank penyalur KPR sehingga bisa lebih besar lagi pembiayaan perumahan yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Kemudian porsi pembiayaan KPR juga terbagi ke beberapa institusi pembiayaan. Untuk perbankan pemerintah porsinya mencapai 56 persen, bank swasta 37 persen, bank asing dan campuran 1 persen, dan bank pembangunan daerah (BPD) 6 persen. BPD menjadi fokus tersendiri bagi SMF karena ada di berbagai daerah sehingga sangat potensial untuk menyalurkan KPR.

“Banyak kalangan masyarakat yang tidak bankable (tidak layak untuk mendapatkan kredit perbankan) tapi dia sebetulnya feasible (bisa mencicil). Ini yang sangat potensial untuk disalurkan pembiayaannya melalui BPD maupun multifinance, makanya kami juga terus memperbanyak kerja sama dengan BPD dan multifinance di daerah-daerah,” imbuh Ananta.

Menyinggung sedikit kinerja SMF, hingga semester II 2017, SMF telah menyalurkan dana dari pasar modal untuk pembiayaan KPR mencapai lebih Rp32,6 triliun. Lebih dari 24,4 triliun penyalurannya untuk pembiayaan KPR fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) untuk pembiayaan rumah murah program pemerintah. Yudis

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan