Bukan Belanja Online, Inilah Penyebab Mall Sepi Pengunjung

Senin, 7 Agu 2017 | Penulis: Putri

Housing-Estate.com, Jakarta - Makin berkembangnya e-commerce atau belanja online ditengarai sebagian pihak sebagai penyebab sepinya pusat belanja dan mall-mall di Jakarta, selain makin banyaknya pembangunan sentra-sentra belanja di wilayah pinggiran, ditambah kondisi lalu lintas yang kian macet.

mall-jakarta-sepi-pengunjung

Pengaruh belanja online itu diakui Ketua Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey kepada HousingEstate di Jakarta beberapa waktu lalu, tapi dampaknya tidak signifikan. “Online itu globalisasi atau keniscayaan yang mengubah perilaku belanja konsumen. Mereka belanja secukupnya, sisanya belanja di online. Tapi dampaknya tidak signifikan. Dua tahun terakhir belanja online hanya berdampak 1-2 persen terhadap penurunan toko ritel,” katanya di Jakarta, Senin (7/8).

Pendapat itu sejalan dengan laporan perusahaan konsultan properti seperti Colliers International Indonesia yang menyebutkan, tingkat kekosongan pusat perbelanjaan di Jakarta pada kwartal II 2017 hanya turun tipis dari 14.1% menjadi 13,9%. Jadi, apa penyebab turunnya penjualan ritel dan sepinya banyak pusat belanja itu?

Menurut Roy, meledaknya jumlah penduduk usia produktif dibanding yang berusia mapanlah penyebab utamanya. Pasalnya, pertumbuhan pesat jumlah kaum milenial yang umumnya berpendidikan tinggi itu, tidak diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja formal yang memadai. “Pasar kerja formal belum bisa menyerap penduduk berusia 21 sampai 40 tahun itu. Jadi daya belinya rendah dan tidak bisa belanja dalam nilai besar. Gimana nggak rendah, wong lulus sarjana cuma buka warkop, jadi telemarketers, agen asuransi dan sejenisnya,” terangnya.

Karena itu Roy berharap pemerintah bekerja keras membuka lapangan kerja formal untuk kaum muda yang jumlahnya akan meledak tahun 2028–2030 itu. Saat itu akan ada 210 juta penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang disebut sebagai bonus demografi, dengan 50% di antaranya kaum muda. “Kalau pemerintah bisa membuka lapangan kerja untuk mereka, tenaga muda itu akan memiliki penghasilan yang baik dan konsumsi meningkat,” kata Associate Director Corporate & Government Relation Multipolar Corp itu.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan
  • Slamet Julianto

    sangat sepakat dengan apa yang disampaikan selain itu ada faktor lain yang juga ikut menyebabkan terjadinya penurunan orang yang belanja di Mall .. karena pemilik modal besar yang jumlahnya sangat – sangat sedikit menguasai secara fantastis jumlah perputaran uang, dan sebagian besar masyarakat hanya mendapatkan jumlah yang kecil dari perputaran uang, sehingga meskipun jumlahnya sangat besar dalam arti kwantitas, namun kepemilikan modalnya sangat – sangat kecil, maka perputaran uang juga sangat kecil sekali, sehingga menyebabkan masyarakat yang belanja di Mall – Mal juga menurun drastis, karena pemilik uang dalam jumlah besar jumlahnya sangat sedikit, sehingga yang belanja juga sangat sedikit, karena pemerataan penyebaran uang yang tidak signifikan dengan jumlah orangnya