Rumah Apung di Dubai Ini Boleh Ditiru di Jakarta

Jumat, 11 Agu 2017 | Penulis: Nta

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta - Warga DKI Jakarta dan sekitarnya tahun lalu kerap mendengar istilah rumah apung yang digembar-gemborkan salah satu kandidat dalam pilkada. Ide rumah apung itu, menurut sang kandidat, bisa menjadi solusi permukiman di tepi sungai ketimbang menggusur. Namun karena tidak terpilih menjadi gubernur, ide kandidat tersebut lenyap juga.

rumahapungdubai.foto1

Rumah apung memang bukan ide baru. Di Amsterdam, Belanda, rumah itu sudah menjejali sejumlah kanal-kanalnya. Tapi rumah apung yang satu ini tidak berada di kanal atau sungai, melainkan di tengah laut. Rumah dibangun Kleindienst Group di salah satu tepi pantai Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yang sedang dikembangkan menjadi kawasan resor bernama Heart of Europe (HoE).

Proyek yang terdiri atas enam pulau buatan sendiri ini adalah salah satu cluster dari the World, megaproyek yang merangkum 300 pulau buatan yang dibentuk menyerupai dunia. Salah satu pemilik pulau di HoE itu (pulau Great Britain) adalah Richard Branson, konglomerat asal Inggris, pemilik Virgin Group.

Jika di Belanda rumahnya untuk hunian, di HoE untuk tempat berlibur. Dibuat tidak hanya satu lantai, tapi bersusun ke atas dan ke bawah sehingga penghuni bisa melihat kehidupan di dalam air. Nama rumahnya “Floating Seahorse” karena dari teras rumah penghuni seakan bisa melihat kuda laut bermain di dalam laut Teluk Arab.

Berjarak sekitar 4 km dari pantai, rumah-rumahnya didesain tunggal dan tidak mudah dicapai dari arah pantai. Untuk mencapainya Anda harus ke pulau terdekat dan berjalan melalui dermaga apung. Menurut Kleindienst, hal tersebut dimaksudkan agar keberadaan rumah-rumah itu tidak mengganggu habitat laut.

rumahapungdubai.foto2

Selain berfungsi sebagai observation deck, teras rumah itu juga dilengkapi tangga menuju laut. Jadi penghuni bisa dengan mudah nyempung ke laut, entah untuk berenang atau menyelam. Bagian yang terendam di dalam air adalah kamar tidur dan kamar mandi utama seluas total 25 m2. Menyerupai rumah tapak yang berhalaman dengan lansekap tertata, sisi luar kamar utama di dalam air itu juga ditata begitu rupa menjadi “halaman” seluas 46 m2 berupa taman laut (coral garden) buatan tapi tampak seperti asli.

Untuk mendapatkan model rumah apung ini, Kleindienst Group harus melakukan riset selama 5.000 jam ditambah 13.000 jam untuk membuat desain dan rekayasa. Model perdana dipasarkan tahun 2015 seharga USD2,8 juta atau sekitar Rp37 miliaran. Saat ini rumah yang terpesan sudah 60 unit. Model kedua dilansir akhir tahun lalu berukuran lebih besar dan dijual USD 3,3 juta atau lebih dari Rp44 miliar.

Tipe terbaru itu diberi nama the Signature Edition seluas 372 m2. Terdiri atas tiga lantai dan memiliki delapan kamar tidur plus beberapa ruang multifungsi yang bisa memuat delapan orang dewasa dan delapan anak-anak. Dua kamar tidur sky majlis dan sky bedroom berada di lantai paling atas. Lalu ada sea family room dan sea bedroom di lantai yang sejajar dengan laut. Dua lainnya master bedroom dan coral guest bedroom berada di lantai yang terendam air. Di lantai yang terendam itu juga terdapat coral entertainment room dan ladies room.

Semua kamar di lantai atas dan yang sejajar dengan permukaan laut memiliki teras sendiri. Interiornya dirancang mewah bergaya modern dengan nuansa budaya Eropa dan Arab, dilengkapi perlengkapan rumah tangga berteknologi tinggi termasuk teras dengan pengatur suhu ruang luar. Luas ruang yang ada di lantai bawah permukaan air seluas 80 m2 dilengkapi “halaman” berupa taman taman laut seluas 58 m2.

Sumber: South China Morning Post dan situs the Heart of Europe

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Beri Tanggapan