Anak Muda Harus Dipaksa “Nabung”

Jumat, 18 Agu 2017 | Penulis: Diyah

Housing-Estate.com, Jakarta - Pasca berintegrasi penuh dengan Bank Ekonomi menjadi entitas bank lokal, HSBC Indonesia menggelar banyak agenda sosialisasi berupa roadshow ke 12 kota di Indonesia sejak pertengahan Agustus. Kantor cabang bank itu juga sudah berkembang di 29 kota dari semula hanya di enam kota.

foto-Dewi-HSBC

Dewi Tuegeh, Senior Vice President & Head of Customer Value Management, Retail Banking & Wealth Management Bank HSBC Indonesia, salah satu personel yang sibuk menjalankan agenda itu. Divisinya membawahi sejumlah produk ritel seperti kartu kredit, pembiayaan pemilikan rumah (home ownership plan/HOP), dana pendidikan anak (children education plan), sampai penyediaan modal untuk usaha rintisan atau startup (startup plan).

Tiga produk tabungan untuk kaum muda itu mensyaratkan setoran minimal Rp3,5 juta per bulan. Dengan tabungan itu, HOP misalnya menjanjikan pemberian plafon kredit pemilikan rumah hingga 100 kali dari nilai tabungan atau minimal Rp350 juta, atau Rp250 juta untuk kredit renovasi. Pembiayaan berlaku juga untuk pembelian rumah seken dan apartemen

Millennials, youngster, beginner, fresh graduate harus dipaksa nabung. Jadi, kalau mau beli rumah duit (untuk uang muka)-nya udah ada. Masalahnya, anak sekarang nggak mau rumah harga Rp350 juta, maunya lebih dari itu,” kata wanita tinggi semampai yang telah berkarir lebih dari 10 tahun di HSBC itu.

Menurutnya, karakteristik generasi milenial yang ingin mengatur sendiri segala keperluannya harus difasilitasi dengan produk perbankan yang menarik. “Anak muda itu konsumtif banget. Karena itu daripada (duitnya) jadi baju atau gadget, kita juga dorong mereka menabung dalam bentuk investasi mulai dari Rp500 ribu rupiah,” kata lulusan jurusan marketing management dari California State University-Los Angeles, Amerika Serikat, itu.

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan