Demi Pengadaan Rumah Murah, Hong Kong Remajakan Apartemen Lama

Selasa, 29 Agu 2017 | Penulis: Nta

Housing-Estate.com, Jakarta - Hong Kong juga mengalami masalah kekurangan rumah dengan harga terjangkau untuk warganya yang berpenghasilan rendah. Maklum, mengekor booming bisnis properti di China Daratan, harga perumahan di wilayah khusus itu juga ikut meroket. Bahkan, lembaga survei Demographia International menahbiskan Hong Kong sebagai kota dengan harga rumah termahal sejagat. Posisi itu tidak bergeser selama tujuh tahun.

South China Morning Post

South China Morning Post

Menurut survei itu, untuk menyewa apartemen seluas 9 m2 saja, warga harus merogoh kocek HK$7.000 atau setara Rp12 juta per bulan. Jangan heran banyak warganya rela berbagi unit apartemen yang sudah mungil dengan jendela kecil dan satu kamar mandi dengan penghuni lain. Hal itu terutama terjadi di Kowloon, bagian kota lama Hong Kong yang memang sudah sangat padat.

Itulah sebabnya Pemerintah Wilayah Khusus Hong Kong akan menghancurkan dua kawasan apartemen lamanya untuk dibangun kembali menjadi apartemen baru dengan jumlah unit lebih banyak. Dua kawasan itu terdiri atas enam blok apartemen mencakup 3.200 unit hunian, yang setelah dibangun baru dengan lantai lebih banyak akan menjadi 4.000 unit. Apartemen yang dihancurkan itu milik pemerintah (public housing) yang sudah berusia 40 tahun. Apartemen-apartemen lawas itu saat ini dihuni 8.450 jiwa dan mereka akan direlokasi sementara selama proses pembangunan.

Tahap pertama ada dua blok yang akan dibongkar. Yakni, Mei Tung Estate di Kowloon City yang sudah berdiri sejak 1974 dan 1983. Peremajaannya bisa menghimpun 1.900 unit tahun 2027 dari jumlah saat ini 665 unit. Penambahan jumlah unit itu dimungkinkan, mengingat otoritas setempat menaikkan batas ketinggian gedung yang boleh dibangun di daerah tersebut. Dulu pembatasan dilakukan karena daerah tersebut dekat dengan Kai Tak, bandara Hong Kong yang lawas.

Apartemen lain adalah Pak Tin Estate di Shek Kip Mei. Jika pada blok lain, jumlah unitnya bertambah setelah dibangun ulang, di proyek yang ditargetkan jadi akhir 2025 ini justru berkurang dari 2.570 menjadi 2.100 unit.

Selain dua blok tersebut, otoritas perumahan setempat juga sudah mengidentifikasi 22 blok apartemen tua lain berusia 38-64 tahun untuk diremajakan. Namun sejauh ini baru dua blok tersebut di atas yang disetujui. Menurut sumber South China Morning Post, tidak semua blok yang sudah diidentifikasi cocok dengan kriteria program peremajaan perumahan. Seperti kondisi struktural bangunan, efektivitas biaya renovasi, opsi pemindahan tempat tinggal sementara, dan potensi peremajaan.

Anthony Chiu Kwok-wai, executive director of the Federation of Public Housing Estates, yang mewakili penghuni terdampak mengatakan, pemerintah seharusnya memiliki strategi komprehensif untuk peremajaan gedung-gedung tua. “Pemerintah tidak bisa menggunakan pendekatan sepotong-sepotong. Semestinya pemerintah terlebih dulu punya kebijakan peninjauan ulang atas bangunan-bangunan yang harus diremajakan untuk periode lima tahun,” katanya.

Proses penghancuran apartemen memang tidak bisa segera dilakukan tapi baru tahun 2020. Seluruh apartemen baru akan komplit 10 tahun kemudian. Juni lalu data Otoritas Perumahan Hong Kong menyatakan kalau backlog alias kekurangan pengadaan rumah murah atau public housing-nya mencapai 277.800 unit. Masa tunggu para pemohon untuk bisa menempati rumah subsidi rata-rata empat tahun delapan bulan. Bukan pemerintah tidak berusaha membangun rumah subsidi itu, tapi jumlah yang bisa dibangun masih belum memenuhi permintaan. Hingga satu dekade ke depan, pemerintah setempat mengakui pihaknya menghadapi kekurangan 44.000 unit public housing dari target yang sudah ditetapkan.

Sumber: South China Morning Post

Ikuti update berita properti terbaru. Follow
Pasang Listing GRATIS
Beri Tanggapan